Analisis Penting Dari Perang Salib

Harian Reportase - Rabu, 22 Juni 2022
Analisis Penting Dari Perang Salib
Tgk. Syamsul Bahri, S.Pd.I., M. Pd (Doc: Harian Reportase)  
Penulis
|
Editor

Oleh : Syamsul Bahri

“Analisis Penting dari Kisah Perang Salib, Sebagai Pelajaran Bagi Ummat Dunia”

Harian Reportase — Dalam artikel yang singkat ini, penulis merenungkan satu hadis Rasulullah SAW, beliau pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :إِذَا عَظَّمَتْ أُمَّتِي الدُّنْيَا نُزِعَتْ مِنْهَا هَيْبَةُ الإِسْلَامِ ، وَإِذَا تَرَكَتِ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ حُرِمَتْ بَرَكَةَ الْوَحْيِ، وَ إِذَا تَسَابَّتْ أُمَّتِي سَقَطَتْ مِنْ عَيْنِ اللهِ

Artinya: “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila umatku terlampau mengagumi dunia, niscaya akan dicabut oleh Allah kewibawaan Islamnya. Apabila mereka sudah meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, niscaya akan diharamkan oleh Allah keberkahan wahyu-Nya. Apabila mereka sesama muslim sudah saling caci, melecehkan, menghina satu dengan lainnya, akan jatuhlah martabat dari mata Allah (murka-Nya).” (Dari Abu Hurairah ra., dikeluarkan oleh Imam as-Suyuthi dalam “Jami’ ash-Shaghir).

Hadis di atas, dijadikan pembuka oleh seorang pakar pendidikan Islam internasional, dalam sebuah buku yang terkenal, diterjemahkan dalam beberapa bahasa di dunia Islam, judul bukunya adalah Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds, demikianlah bangkitnya (lahirnya) generasi shalahuddin Al Ayyubi, dan demikianlah kembalinya kota al-Quds (Yerusalem) ke tangan umat Islam. Penulisnya adalah seorang ahli pendidikan internasional yang bernama Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani. Kenapa beliau tulis buku ini wahai kaum muslimin Rahimakumullah?

Dalam sejarah perjalanan umat Islam, peradaban Islam, umat Islam mengalami zaman-zaman dan masa-masa keemasan yang luar biasa. Rasulullah SAW berhasil melahirkan satu generasi terbaik, yang beliau katakan sebagai:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ

Generasi sahabat nabi itu adalah generasi terbaik. Manusia-manusia di zaman itu, Rasulullah sebut sebagai manusia terbaik “khairunnas qarni”.

Mengapa mereka dikatakan generasi terbaik? Mengapa sahabat-sahabat Nabi dikatakan terbaik?. Mereka sama dengan kita, spesiesnya sama, susunan anatominya sama dengan kita, pembuluh darahnya, sel-sel sarafnya sama dengan kita. Mengapa mereka dikatakan sebagai generasi terbaik? Karena pendidikannya. Karena mereka dididik oleh guru terbaik, yaitu Nabi kita Muhammad SAW.

Mereka dididik dengan kurikulum terbaik, dengan program pendidikan terbaik, yang langsung dibimbing oleh Muhammad.

Mereka bukan hanya belajar di atas kertas dalam ruang kelas, tetapi mereka betul-betul belajar hidup perjuangan dan diuji langsung dalam kehidupan. Maka dalam waktu singkat kaum muslimin Rahimakumullah, para sahabat Nabi, yang sebelumnya mereka tidak dikenal di peta dunia, tidak diperhatikan sama sekali.

Hanya dalam waktu 5 tahun setelah Rasulullah saw wafat, Tahun 636 M, para sahabat Nabi ini telah mampu mengalahkan Romawi, dan kemudian membangun satu peradaban tinggi di kota Yerusalem, pertama kali waktu itu, kota yerusalem menyaksikan satu penaklukkan yang tidak ada pembunuhan, tidak ada penghancuran pembangunan, tidak ada paksaan orang untuk berpindah agama, tidak ada pengusiran orang berbeda agama, itulah yang penulis inggris Amstrong mengatakan, bahwa baru pertama kali dunia menyaksikan di masa umar bin khattab itulah, ada satu penaklukan damai di kota Yerusalem, dan itu di zaman umat Islam, hanya 5 tahun setelah Rasulullah SAW wafat.

Baca Juga:  Darurat Covid, Arab Saudi Pulangkan Warganya Dari Indonesia

88 tahun setelah hijrah, tahun 622 M, umat Islam sudah menaklukkan Eropa, dan umat Islam memimpin Eropa, bahkan kawasan laut tengah waktu itu, hampir 800 tahun. Dari tahun 711 M- 1490.

Dunia menyaksikan betapa hebatnya umat Islam pada waktu itu, umat Islam menjadi umat yang ditakuti, dan umat yang disegani, sampai datang peristiwa yang sangat tragis, yang kemudian kita mengenal dengan sejarah perang salib.

Tahun 1099 M, pasukan Eropa masuk ke kota Yerusalem, membantai hampir seluruh penduduk, ribuan kaum muslimin dan orang-orang Yahudi disembelih dalam masjid al Aqsha, sampai dalam catatan pasukan salib, mereka mengatakan, ada genangan darah setinggi mata kaki di dalam masjid al-Aqsha.

Ketika itu, umat islam merupakan umat yang paling kaya, umat yang paling maju sains dan teknologi. 600 tahun, umat Islam lebih maju dari Eropa di zaman itu, ilmuwan-ilmuwan muslim sudah melakukan berbagai penemuan penting dalam sains dan teknologi.

Ada kekhalifahan umat Islam,  Syariat islam berlaku ketika itu, sistem sepenuhnya sistem Islam. Inilah yang diteliti oleh Dr Majid irsan al kilani, kenapa umat Islam yang begitu unggul, umat yang paling pinter, umat yang paling kaya, umat paling pandai, umat paling maju sains dan teknologinya, tapi kemudian kalah melawan preman-preman dari Eropa. Dan beliau analisis kenapa umat Islam bisa kalah, maka beliau ketemu jawabannya pada hadis Rasulullah  SAW tadi; إِذَا عَظَّمَتْ أُمَّتِي الدُّنْيَا نُزِعَتْ

Kapan saja umat Islam memuja dunia, mengagumkan dunia, menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupannya, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka, Dan kapan saja umat Islam meninggalkan dakwah, meningglkan perjuangan, aktivitas amar makruf, diharamkan keberkahan wahyu atasnya.

Sekitar 3 tahun sebelum Yerusalem jatuh, Imam al-Ghazali masih I’tikaf di masjid al-Aqsha, tahun 1096, setelah itu beliau lalu menulis untuk kitab penting Ihya Ulumuddin, dalam kitab itu bab Amar ma’ruf Nahi Mungkar, mengingatkan, hidup matinya umat Islam, jatuh bangunnya umat Islam, tergantung pada aktivitas dakwahnya, tergantung pada aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, kalau aktivitasnya lemah, maka umat Islam akan menjadi umat yang kalah, umat yang hina, Rasulullah SAW juga menyebutkan: dalam bulughul maram Hadits No. 861 / 1597:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ اَلْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمْ اَلْجِهَادَ، سَلَّطَ اَللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika engkau sekalian kalian sibuk dengan urusan dunia berjual-beli dengan ‘inah (hanya sekedar mengejar keuntungan materi belaka), selalu membuntuti ekor-ekor sapi, hanya puas menunggui tanaman, dan meninggalkan jihad maka Allah akan meliputi dirimu dengan suatu kehinaan yang tidak akan dicabut sebelum kamu kembali kepada agamamu.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Nafi’, dan dalam sanadnya ada pembicaraan. Ahmad meriwayatkan dari Atho’ dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya dan dinilai shahih oleh Ibnu Qaththan.

Yang ketiga Rasulullah mengingatkan kepada kita semua,  وَ إِذَا تَسَابَّتْ أُمَّتِي سَقَطَتْ مِنْ عَيْنِ اللهِ, jika ummatku sudah saling caci maki satu sama lain, saling melecehkan satu sama lain, saling menghina satu dengan yang lainnya, saqathat min ‘ainillah, jatuh martabat mereka di hadapan Allah.

Baca Juga:  SNMPTN-SBMPTN Resmi Berganti Nama dan Sistem, Berikut Penjelasannya

Dr Majid Irsan alkilani menganalisis dalam bukunya, satu fakta, ironis sekali, ketika itu pasukan salib sudah siap menerkam umat Islam, mereka sudah mengintai kelemahan-kelemahan umat Islam, tapi umat Islam sibuk berdebat soal mazhab, fanatisme mazhab waktu itu luar biasa, sampai di kampus nizhamiyah, kampus imam al-Ghazali terjadi perbedaan mazhab, yang paling parah waktu itu tajam antara perbedaan mazhab Asy’ari dan mazhab hanbali, sampai bunuh-membunuh,  berantem dalam masjid.

Ketika umat Islam sibuk dengan urusannya masing-masing, kelompoknya sendiri-sendiri, datang pasukan asing membantai mereka. Ketika membunuh umat islam, mereka tidak tanya kamu mazhabnya apa, kamu partainya apa, kamu golongan apa, tidak ada , semua asal muslim dibunuh, ini yang Dr alkilani mengingatkan bagaimana waktu itu umat Islam waktu sibuk mengajar, khalifah tidak peduli, datang  kaum Muslimin dari Yerusalem ke Baghdad membawa bukti-bukti pembantaian umat Islam, digambarkan dalam buku ini, khalifah sibuk dengan burung merpatinya si barquq.

Ketika masyarakat diajak berjihad oleh para ulama, mereka sudah terjangkit penyakit hubbud dunya, mereka tidak peduli dengan urusan umat, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ini  yang terjadi muslimin rahimakumullah. dan akhirnya waktu itu para ulama , diantaranya adalah seorang murid al Ghazali syeh Ali as sulami menulis sebuah kitab berjudul kitabul jihad, merumuskan strategi bagaimana membebaskan kaum muslimin dari cengkraman pasukan salib, yang akhirnya bertahan penjajahan itu selama 88 tahun, baru disitulah nanti lahir satu generasi yang disebut sebagai jiilu shalahuddin, generasi shalahuddin, dari mana lahirnya. Waktu itu umat Islam bukan menunggu datangnya seorang pemimpin.

Dr alkilani mengingatkan, biasanya umat Islam kalau terpuruk, dia menunggu-nunggu datangnya pemimpin. Para ulama kita dulu tidak begitu, kebangkitan umat Islam bukan menunggu datangnya tokoh ratu adil, superhero yang akan membebaskan semua masalah umatnya. Mereka mendidik satu generasi baru, merekalah yang dididik waktu itu di madrasah-madrasah, di pondok-pondok pesantren, persis seperti lahirnya generasi 1945, generasi KH Hasyim Asy’ari, generasi KH Ahmad Dahlan, generasi buya Hamka, generasi Muhammad Nasir, generasi ki bagus kusumo, ketua Muhammadiyah waktu itu, mereka semua lahir dari madrasah-madrasah, dari pondok pesantren yang melahirkan para mujahid, melahirkan para pejuang, bukan seorang shalahuddin yang lahir ketika itu, tapi satu generasi shalahuddin, lahir dari model pendidikan yang telah dirumuskan oleh umar bin khattab RA Taaddabu tsumma ta’aalimu.

Model pendidikan yang selalu berulang kali melahirkan generasi yang hebat, generasi sahabat nabi, generasi shalahuddin, generasi Muhammad al fatih, di negeri kita lahir generasi 1945, yang berhasil memproklamasikan mempertahankan kemerdekaan kita, bukan ringan kaum muslimin rahimakumullah, yang menjajah negeri kita INI bukan sembarangan, yang menjajah negeri ini adalah kekuatan terbaik di dunia waktu itu, yang datang ke Surabaya 10 November itu adalah pemenang perang dunia ke 2, pasukan terbaik di dunia, jumlahnya berkali-kali lipat dari TNI kita, tapi lihat bagaimana dulu, kaum Muslimin siap menghadapi semua tantangan. Dalam sejarah, senantiasa kita diingatkan Rasulullah sering menyampaikan dalam beberapa hadits “Jika umatku kata Rasulullah sudah terjangkit penyakit Al Wahn, الْوَهَنُ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ maka mereka akan seperti buih.

Baca Juga:  BMA Salurkan Bantuan Pemberdayaan untuk 11 Muallaf di Aceh Tengah

Sahabat Nabi bertanya “apakah karena jumlah kita sedikit wahai Rasulullah? قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ. kita diibaratkan seperti sebuah makanan yang tidak berdaya dikelilingi orang-orang  yang lapar, umat Islam di keropok kata Rasulullah, يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا , di keropok dalam berbagai cara, tak berdaya. Sahabat Nabi heran, apa karena jumlah kita sedikit wahai Rasulullah? قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ  waktu itu jumlah kalian banyak. ولَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ , kamu banyak, tapi kami buih, وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ (musuh-musuh kami nggak ada yang takut sama sekali sama kamu). Dan tertanam di dalam diri kalian Hubbub dunya (  وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ).

Masalahnya ada di dalam diri kita, masalahnya ada di dalam rumah tangga kita, masalahnya ada dalam masjid kita, masalahnya ada di sekolah-sekolah kita, dalam organisasi-organisasi kita sendiri, Apakah rumah kita akan melahirkan para pejuang, apakah sekolah-sekolah kita melahirkan orang mujahid, apakah universitas-universitas kita melahirkan para pejuang, kalau tidak, nasib umat Islam akan terulang sama yang diingatkan rasulullah SAW.

Kalau semua penjuru dunia sibuk dengan mencari keuntungan masing-masing, sibuk dengan urusan kelompoknya masing-masing, bahkan sibuk mencaci maki kelompok lain, ini sudah berulang kali terjadi, abad ke 13 terjadi lagi di Baghdad, kaum muslimin yang hebat waktu itu, dihancurkan oleh kelompok yang paling biadab, bangsa mongol.

Kenapa bangsa yang paling biadab bisa mengalahkan bangsa yang hebat sains dan teknologi umat lain? penyakitnya sama, yakni penyakit meninggalkan jihad, meninggalkan dakwah, penyakit hubbud dunya, serta penyakit pemecah belah sama kaum muslimin.

Sekarang, mudah-mudahan kita terus mengintrospeksi diri, diri kita, keluarga kita, karena amanah di akhirat kelak yang ditanya adalah “qu anfusakum wa ahlikum nara”,  jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Mudah-mudahan rumah tangga kita, nanti melahirkan anak-anak yang shaleh, anak-anak yang melanjutkan perjuangan para ulama, pelanjut perjuangan para Nabi, pelanjut perjuanagan para syuhada, begitu juga mudah-mudahan, masjid-masjid kita, pesantren-pesantren kita, sekolah kita, kampus kita, melahirkan manusia-manusia yang zuhud, manusia yang cinta Allah dan Rasulnya, manusia-manusia yang selalu  جَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ (Almaidah ayat 54), yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Demikian, mudah-mudahan tulisan yang singkat ini, untuk perbaikan kita ke depan, InsyaAllah negeri kita, negeri yang diberkahi oleh Allah. Dengan pertolongan Allah, dengan kegigihan para da’i, negeri ini berubah  menjadi negeri muslim terbesar di dunia.

Ini karunia Allah, ini anugerah Allah, Mari, tapakkan langkah yang kokoh, menatap kegemilangan, dan berikhtiar meskipun kecil untuk turut serta dalam keberlangsungan kejayaan Islam. Amin.

Penulis adalah Pengurus Wilayah Persatuan Guru NU (PERGUNU) Provinsi Aceh. Pengajar di Dayah Samudera Pasai Madani Aceh dan TPQ Terpadu Ruhul Jadid dan MIN 6 Model Banda Aceh.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar