HARIANREPORTASE.com — Salah satu cara di dunia untuk memecahkan masalah adalah dengan berdemonstrasi, metode ini sudah banyak buktinya di dunia ini dan termasuk di Indonesia.
Akhir-akhir ini hampir seluruh Indonesia terjadi demonstrasi yang ujung-ujungnya meminta keadilan dan transparansi. Namun bagi para penguasa ini dianggap sebuah ketidaknyamanan karena semua rahasia yang tersembunyi akan terkuak, semua para pelaku ketidakadilan akan terpublikasi, dan semua penyimpangan akan dipamerkan, bahkan semua aib, yang seharusnya tidak boleh dibuka, sudah terlanjur terungkap ke public, semua ini karena tidak ada transparansi (terus terang) dan tidak ada lagi rasa jujur dan amanah yang dimiliki oleh sebahagian manusia.
Aceh dalam minggu ini sudah dua kali demonstrasi (bahkan malam ini di kantor Gubernur, Senin 11 Mei 2026) mahasiswa sedang menyuarakan kemauan rakyat Aceh tentang JKA (Jaminan Kesehatan Aceh), yang nampaknya tidak lagi sebagaimana yang pernah ada seperti pada masa Gubernur Irwandi Yusuf dan Gubernur Zaini Abdullah.
Demonstrasi ini dilakukan oleh para mahasiswa, mereka ini tidak punya kepentingan kecuali kepentingan masyarakat banyak.
Ketahuilah ketika mahasiswa yang masih bersih ini melakukan unjuk rasa dan berdemo, perlu ambil pelajaran dari mereka. Lihat saja tidak ada yang bisa menumbangkan rezim Soeharto di republik ini pada masa Orde Baru, semua akan berhadapan dengan maut, kalau ada yang mau mengkritik Pancasila dan keluarga Cendana pada saat itu.
Sama seperti masa pemerintahan Muhammad Reza Fahlevi di Iran, rezim diktator di Filipina dibawah komando Ferdinan Marcos, tetapi apa hendak dikata. Jenderal Soeharto ditumbangkan oleh para mahasiswa, Jenderal Ferdinan Marcos dilenyapkan oleh seorang janda Benoigno Aquino, dan Firaun Iran ditumbangkan oleh seorang mullah tua berjenggot (Ayatullah Ruhullah Khomeiny).
Apakah semua ini tidak bisa dijadikan pelajaran oleh para penguasa yang sedang menikmati indahnya kekuasaan dewasa ini? Ingat berkuasa itu enak sekali karena semua fasilitas terpenuhi dan keamanan ditangannya, segala kehendak bisa terlaksana sesuai qasad.
Kebanyakan manusia lupa akan kekuasan Allah dan janji Allah kepada para penguasa dunia.
Ingat mahasiswa itu anak kita, adik kita, keponakan kita, cucu kita, dan mereka pengganti kita dalam masa dua puluh tahun kedepan, tidakkah kita ingat?
Kalau para penguasa ingin selamat dunia dan akhirat maka ikutilah wasiat seorang ulama, Fudhail bin ‘Iyadh, yang menasehati Khalifah Harun al-Rasyid (Khalaifah Daulah Abbasiyah).
Pertama Khalifah memanggilnya ke Istana, tetapi Fudhail tidak mau menginjakkan kakinya di pintu-pintu istana karena itu kerja ulama dunia sedangkan ia berposisi ulama akhirat. Akhirnya Harun al-Rasyid mendatanginya dan meminta nasehat keselamatan dunia dan akhirat. Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Wahai Khalifah, kalau anda hendak selamat, maka anggaplah orang lelaki dan perempuan yang sudah tua sebagai orang tuamu, bagaimana anda memperlakukan orang tuamu, anggaplah semua pemuda dan pemudi sebagai saudaramu adikmu atau kakakmu, bagaimana engkau memperlakukan saudaramu, anggaplah semua anak-anak baik lelaki maupun perempuan sebagai anak-anakmu, lalu bagaimana anda memperlakukan anak-anakmu semua? Dengan demikian anda akan selamat dunia dan akhirat, jika dapat memperlakukan semua rakyat sebagai orang tuamu, sebagai saudaramu dan sebagai anak-anakmu, insya Allah.
Namun kalau kita lihat para penguasa sekarang ini hampir semuanya berkiblat kepada Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, padahal mereka berdua ini terang-terangan, jelas-jelas penjajah, pembunuh, penjarah, dan penakluk negara orang tanpa sebab.
Padahal manusia lagi-lagi lupa sampai berapa tahun mereka sanggup berkuasa, dan kebanyakan kita terlena dengan dana taktis yang bebas dihamburkan, terlena dengan fee haram yang dipungut atas setiap proyek, terlena dengan penumpukan uang dan harta baik legal ataupun illegal, terlena dengan bisikan-bisikan yang menyenangkan di sekelilingnya, dan terlena dengan penggunaan kekuasaan dan keuangan negara sesuka hatinya.
Memang semua para auditor, semua pengawas keuangan, semua petugas hukum atau law enforcement bisa diatur oleh secuil kekusaan yang kita miliki. Namun belum ada orang yang mampu melarang malaikat maut untuk menunda pencabutan nyawanya, belum ada orang yang mampu mengusir malaikat ini, ketika berada di alam barzakh, dan belum mampu pula melawan Zabaniyah untuk tidak memasuki Jahannam yang berada dibawah pengawasannya.
Kalau semua itu tidak punya kemampuan untuk melawannya, maka bertobatlah wahai para penguasa dalam setiap jenjang kekuasaan anda. Karena hisabnya terlalu berat dan terlalu sulit di depan Pengadilan-Nya suatu saat nanti.
Karena itu ketika ada mahasiswa atau rakyat berdemonstrasi, jumpailah mereka dan diskusi dengan mereka, karena selama ini anda hanya menerima berita good news selalu, tidak pernah ada berita buruk dan berita yang menyengsarakan rakyat.
Makanya setiap pemimpin atau penguasa dalam sebulan sekali perlu ambil masa dalam seminggu, tanpa pengawasan dan protokoler, melakukan penyamaran ke desa-desa atau tempat-tempat yang rawan dan terisolir untuk mengumpulkan berita original yang jauh dari kemunafikan. Dengan begini para penguasa atau para pemimpin akan jauh lebih manusiawi dan penuh kasih sayang kepada rakyat ketimbang mendengar berita dari ABS yang hanya menjadi kesenangan pembisik saja. Atau sesekali dalam sebulan sekali panggil anggota senat mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi untuk menanyakan kepada mereka, bagaimana kepemimpina saya selama ini, atau panggil kaum yang berseberangan dengan kita dan minta masukan demi kebaikan kedepan.
Lakukan ini dan jangan takut menerima laporan selain dari lingka kiieng, mungkin ini sangat bermakna dan bermanfaat untuk pribadi pemimpin dan berguna bagi rakyat banyak.
Kalau perlu pendapat ulama, maka para pemimpin mendatangi ke tempat mereka, bukan sebaliknya mengundang ulama ke Meuligoe atau istana. Ini salah satu cara untuk melarang para ulama selalu berada dipintu-pintu istana, karena tugas ulama bukan di situ. Tugas ulama menyebarkan amar makruf dan nahi mungkar dengan memanggil atau menyurati penguasa yang nampaknya sudah mulai menyimpang dari aturan. Dan jihad yang paling utama adalah berkata benar dihadapan penguasa dhalim.
Namun sekarang para mahasiswa yang belum punya banyak ilmu, berani menyuarakan kebenaran, sedangkan para ilmuwan atau agamawan yang serba cukup dari segi keilmuan dan kehidupan, urat saraf tentang amar makruh nahi mungkar nampaknya sudah terputus. Sehinggan urat saraf ‘berani’ kaputoh sehingga semua urat sarat terdiam.
Mari kita mohon ampun kepada Allah atas kekeliruan dan kekhilafan kita selama ini dan juga memohon kepada Sang Penguasa langit dan bumi untuk menganugerahkan kita pemimpin yang amanah, siddiq, tabligh dan fathanah.
Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Islam, Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry