Banda Aceh, Harian Reportase – Peringatan 821 tahun Hari Jadi Banda Aceh kembali menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah panjang berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Tanggal 22 April yang bertepatan dengan 1 Ramadhan 601 Hijriah diyakini oleh sebagian kalangan sebagai awal berdirinya kerajaan Islam tersebut di kawasan Gampong Pande.
Seorang cucu Sultan Aceh yang juga pemimpin Darud Donya Cut Putri menyampaikan bahwa dalam Kitab Mabain Wasaalatin atau yang dikenal sebagai Kitab Adat Aceh, disebutkan bahwa Sultan Johan Syah mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1205 M. Lokasi awal berdirinya kerajaan itu berada di Gampong Pande, yang kini menjadi salah satu situs bersejarah di Banda Aceh.
Menurut penuturan tersebut, Sultan Johan Syah dikenal sebagai tokoh Ghazi atau pejuang Islam yang berperan besar dalam menyatukan wilayah-wilayah di Aceh sekaligus memperkuat penyebaran Islam di kawasan tersebut.
Dalam beberapa sumber tradisional, ia disebut berasal dari “Negeri Atas Angin”, yang kerap ditafsirkan sebagai wilayah di luar Nusantara.
Sejumlah versi mengenai asal-usul Sultan Johan Syah juga berkembang. Ada yang menyebut ia berasal dari Seljuk Turkistan, sementara sumber lain mengaitkannya dengan keturunan Raja Linge di Aceh. Perbedaan ini menunjukkan luasnya ragam kajian dan tradisi lisan yang mengiringi kisah tokoh tersebut.
Dalam kisah yang berkembang, Sultan Johan Syah disebut mendapat dukungan dari seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kana’an atau Syiah Hudam dari Palestina. Bersama tokoh tersebut, ia berhasil menaklukkan sejumlah wilayah dan memperkuat fondasi kerajaan.
Ia juga disebut menjalin hubungan dengan Kerajaan Lamuri melalui pernikahan politik, yang semakin mengokohkan posisinya.
Sultan Johan Syah memerintah selama sekitar 29 tahun, dari 1205 hingga 1234 M. Masa pemerintahannya diyakini menjadi fondasi awal bagi perkembangan Kesultanan Aceh yang kemudian tumbuh menjadi kekuatan besar di kawasan Selat Malaka.
Berabad-abad setelah masa tersebut, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya dan dikenal sebagai salah satu kekuatan maritim penting di Asia Tenggara. Letaknya yang strategis menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan ini.
Meski demikian, sejumlah sejarawan modern masih memperdebatkan penetapan tahun 1205 sebagai awal berdirinya Kesultanan Aceh. Kajian akademik umumnya menempatkan kemunculan Aceh sebagai kekuatan politik besar pada abad ke-16. Namun demikian, narasi tentang Sultan Johan Syah tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas masyarakat Aceh.
Di kawasan Gampong Pande sendiri, kini telah dibangun monumen untuk mengenang jasa Sultan Johan Syah sebagai tokoh perintis kejayaan Aceh Darussalam.
Peringatan 821 tahun ini tidak hanya menjadi refleksi sejarah berdirinya Banda Aceh, tetapi juga menjadi pengingat akan panjangnya perjalanan peradaban dan peran penting Aceh dalam sejarah Nusantara dan dunia Islam.