HARIANREPORTASE.com — Angka kelahiran di Indonesia mengalami penurunan drastis sejak beberapa puluh tahun terakhir, hal ini dapat mengancam regenerasi di masa yang akan datang.
Penurunan angka kelahiran atau fertility rate tersebut progresif dan mencapai angka ideal 2,18 pada satu dekade terakhir.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo, dilansir dari Kompas.com, Sabtu (29/6/2024).
Hasto mengatakan, pihaknya menargetkan agar setiap pasangan suami istri melahirkan paling tidak satu anak perempuan. Dengan demikian, regenerasi akan terus berjalan pada masa mendatang.
“Kami punya target 1 perempuan rata-rata melahirkan 1 anak perempuan. Oleh karena itu BKKBN menargetkan anaknya kalau bisa 2,1 jangan hanya 2.”
“Karena kalau anaknya dua lebih dikit maka hampir dipastikan 1 perempuan akan melahirkan anak 1 perempuan,” ujar Hasto
Dia mengakui menurunan itu mencapai angka ideal karena dua anak yang dilahirkan akan menggantikan orang tuanya. Apalagi mengingat tahun 1970 angka kelahiran sangat tinggi yakni 5,6 sehingga satu pasangan melahirkan 6-9 anak.
“Jadi selama beberapa puluh tahun terakhir ini penurunannya sangat progresif. Dulu angka kelahiran atau total vertility rate itu 5,6 pada tahun 70, Karena waktu itu anaknya ya 6, 7, 8, 9 nah sekarang ini 2,18,” bebernya.
Sementara itu di Pulau Jawa angka kelahiran sudah menurun hingga 2,0.
Sedangkan di sejumlah provinsi lainnya masih ada yang memiliki angka kelahiran sangat tinggi, di antaranya NTT, Papua, Papua Barat, dan Maluku.
“Di Jawa ini sudah 2,0 sekian ya, tadi di Jabar sudah 2,00 sekian, di Jawa Tengah 2,04, di DIY 1,9, di DKI juga 1,89.”
“Jadi ya pembangunan yang sifatnya asimetris harus disikapi. Ada wilayah lain yang seperti NTT, Papua, anaknya masih banyak. Tapi di daerah Jawa ini kan tadi rendah sekali,” ungkapnya.
Guna mencegah kesenjangan angka kelahiran tersebut, BKKBN akan mendorong kebijakan sesuai dengan kebutuhan setiap daerah, agar angka kelahiran di Indonesia tetap ideal.