Gayo Lues, HARIANREPORTASE.com – Sebanyak 80 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) menuntaskan program USK Mengabdi 2026 di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.
Program pengabdian selama 14 hari, mulai 8 hingga 21 Juli 2026, difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar dan penguatan kapasitas masyarakat pascabanjir bandang yang melanda desa tersebut pada November 2025.
Mengusung tema “Mengabdi untuk Pulih, Bergerak untuk Bangkit”, mahasiswa melaksanakan berbagai program, di antaranya pemulihan jaringan air bersih, pemasangan peta mitigasi bencana dan jalur evakuasi, pembangunan lampu penerangan jalan tenaga surya, serta penanaman pohon konservasi.
Kegiatan tersebut merupakan inisiatif Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USK melalui Kementerian Sosial Masyarakat (Sosma) sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa dalam penanganan pascabencana.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, dr. Wira Dharma, Sp.B., M.Kes., saat pembekalan peserta pada 4 Juli 2026 menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Salah satu program prioritas adalah pemulihan jaringan pipa air bersih yang rusak akibat banjir bandang.
Bersama Universitas Gayo Lues (UGL), Pemerintah Desa Agusen, dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh, mahasiswa melakukan survei hingga ke sumber mata air di kawasan pegunungan dengan jarak sekitar 3,8 kilometer.
Jalur pipa sepanjang kurang lebih 3,7 kilometer diperbaiki secara bertahap, diawali pemasangan 300 meter pertama oleh seluruh peserta USK Mengabdi.
Koordinator kegiatan pemulihan jaringan air bersih, Fathan Najwan, berharap perbaikan tersebut dapat mengembalikan akses masyarakat terhadap air bersih yang layak sekaligus mendorong warga menjaga infrastruktur yang telah dibangun bersama.
Di bidang mitigasi bencana, mahasiswa memasang peta mitigasi dan delapan penunjuk jalur evakuasi di sejumlah titik rawan longsor dan banjir. Peta yang disusun menggunakan sistem koordinat WGS 1984 UTM Zona 47N itu memuat lokasi rawan bencana, jalur evakuasi, titik kumpul, serta fasilitas umum penting di Desa Agusen.
Pengulu Desa Agusen, Ramadhan, S.Pd., mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, peta mitigasi yang disusun mahasiswa akan sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Mahasiswa juga bekerja sama dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh memasang 10 unit lampu penerangan jalan tenaga surya di sejumlah lokasi strategis, mulai dari jalan masuk desa, jalur menuju hunian sementara, titik kumpul evakuasi hingga kawasan ekowisata Agusen. Keberadaan lampu tersebut diharapkan meningkatkan keamanan warga, terutama pada malam hari.
Sementara itu, melalui kolaborasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VIII dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), mahasiswa menanam sekitar 50 bibit pohon pinus serta berbagai tanaman konservasi seperti durian dan petai di kawasan rawan longsor. Penanaman dilakukan untuk memperkuat struktur tanah sekaligus mendukung rehabilitasi lingkungan pascabencana.
Penutupan kegiatan pada 19 Juli 2026 dihadiri Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, dalam hal ini dihadiri oleh Wakil Bupati Gayo Lues H. Maliki, S.E., M.AP.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa USK yang dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Agusen.
“Kami berharap semangat pengabdian ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terlibat dalam upaya pemulihan pascabencana dan pembangunan daerah,” ujarnya.
Melalui program tersebut, Desa Agusen kini memiliki akses air bersih yang mulai dipulihkan, sistem mitigasi bencana yang lebih baik, penerangan jalan berbasis energi terbarukan, serta kawasan konservasi yang diperkuat melalui penanaman pohon.
Program USK Mengabdi 2026 diharapkan menjadi contoh sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan daerah pascabencana.