HARIANREPORTASE.com — Seorang pemimpin senantiasa berpikir sambil berzikir kepada Allah supaya tidak cepat linglung dan dihantui oleh berbagai mimpi buruk.
Apa yang harus dipikirkan? Tentang gembalaannya, atau tentang rakyatnya, dimana mereka tidur, layakkah tempatnya? Bagaimana air minumnya, makanannya, tersediakah apalagi di kamp-kamp pengungsian, bagaimana dengan persoalan debu dan lumpur di halaman rumahnya, di jalan depan rumahnya, bagaimana kesehatan mereka, tempat mereka menyalurkan kebutuhannya aman atau sama sekali tidak aman, bagaimana mata pencaharian mereka, apalagi yang sedang menderita akibat banjir bandang.
Bagaimana sekolah-sekolah, apakah anak-anak kita sudah aman dan sehat kalau ke sekolah? Supaya tidak stress dan linglung, maka perbanyak zikir kepada Pemilik Alam ini sambil merengek-rengek memohon ampun kepada-Nya atas kesalahan yang kita perbuat selama ini, baik kesalahan untuk diri pribadi maupun kesalah terhadap orang lain.
Kesalahan dengan Allah mudah meminta maaf dan mohon ampun, namun kesalahan dengan sejumlah manusia, karena kebijakan kita membuat manusia sengsara, karena ketidak adilan kita banyak orang menderita, karena keegoan kita banyak orang stress bahkan gila, karena kedunguan kita menyebabkan banyak orang tersesat dan murtad, seperti korupsi uang negara, menebang pohon dengan serampangan, menggali gunung secara brutal sehingga menimbulkan bala bencana, maka mohon ampun dan minta maaf kepada segenap manusia yang tertimpa musibah tersebut.
Jika tidak, tunggu mereka satu persatu di jembatan sirath nanti di yaumil mahsyar.
Seorang pemimpin harus menggunakan hati agar perasaan kita luluh lantak ketika kita melihat kepedihan dan kesengsaraan manusia dibawah gembalaan kita.
Pemimpin harus menggunakan mata dengan jeli untuk melihat apakah rakyat kita sudah makan (sudah terisi perutnya dengan makanan halal dan bergizi), sudah minum dengan air seperti yang kita minum, sudah bersekolah-kah anak-anak kita agar mereka nanti tidak bisa ditipu oleh orang-orang jahat dalam kehidupannya, sudahkah mereka kembali belajar agama supaya mereka nanti tidak menipu orang atau suka berbohong, sudah layak tempat tinggalnya, sudah memadai pendidikannya, sudah segar udara yang mereka hirup atau beracun, Inilah kerja Saidina Umar bin Khattab.
Pemimpin harus membuka telinganya dua puluh empat jam, untuk mendengar keluhan dan jeritan rakyat, mendengar permintaan mereka, dan mendengar keluh kesah mereka dan sebagainya.
Dan juga para pemimpin membuka telinganya lebar-lebar dengan memakai saringan yang air bersih tentara Australia sewaktu Tsunami Aceh agar tidak mendengar berita-berita baik dan menyenangkan dari bahwahanya, padahal apa yang diutarakan oleh bawahan kita adalah hanya untuk menyenangkan hati boss nya.
Maka hati-hati pakek telinga, makanya kalau mau dengar yang sebenarnya perlu croscek ke lapangan karena tidak ada penipuan dan kebohongan ketika kita berada di grassroot.
Namun jangan lupa memperbanyak zikir kepada Allah swt agar kita segar selalu dalam memimpin.
Pemimpin perlu menggunakan tangan dan kaki kita agar murah terhadap rakyat kita, mudah melangkah melihat rakyat kita yang menjadi korban bencana dan korban kebohongan para penipu, ulurkan tangan kepada mereka yang tertimpa musibah, percepat langkah kaki untuk menjenguk mereka, dan gunakan tangan (kekuasaan) kita untuk menyenangkan hati rakyat kita dan mensejahterakan rakyat kita.
Ingat pesan Nabi saw, “barangsiapa yang mempersulit urusan kaum Muslimin di dunia, maka Allah akan mempersulit urusannya di akhirat nanti, dan barangsiapa yang mempermudah urusan kaum Muslimin di dunia maka Allah akan mempermudah urusannya di hari akhirat nanti.”
Jadi bukan sebaliknya menggunakan tangan (kekuasaan) untuk membungkam rakyat yang secara lahir mengkritik kita, tapi sebenarnya mereka menyelamatkan kita (pemimpin mereka) dari api neraka.
Lihat bagaimana Khalifah Abbasiyah, Harun Al-Rasyid dikritik oleh seorang ulama, Fudhail bin ‘Iyadh, namun ia tidak marah dan mengikuti petunjuk ulama itu.
Demikian pula Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tunduk dan patuh pada arahan ulama, Sayyid bin Musayyab, untuk menghadiri halaqahnya dalam masjid Nabawi, bukan mendatangi penginapan Khalifah. Inilah model para pemimpin ahli sorga.
Juga, pemimpin hati-hati menggunakan kaki agar tidak menendang rakyatnya, dan juga menghadiri tempat-tempat maksiat serta tempat-tempat yang dimurkai Allah. Perbanyak zikir agar Allah menjagamu dan melembutkan hatimu.
Para pemimpin juga harus hati-hati menggunakan mulutnya agar tidak memasukkan barang-barang haram ke dalam mulutnya (perutnya), hati-hati mengeluarkan perkataan kotor dan kasar kepada orang-orang karena ini akan membekas pada telinga, hati dan pikiran mereka.
Ingat pesan Nabi saw “Yang haram telah jelas, dan yang halal pun telah jelas, dan antara keduanya ada yang syubhat Tidak jelas), maka sebaiknya hindari yang syubhat itu.” Demikian pula lidah itu tidak bertulang, setiap perkataan akan dihisab nanti, makanya semakin banyak menggunakan mulut, maka semakin susah untuk mempertanggung jaqwabkannya, semakin lama kita berkuasa maka semakin lama diproses atau dihisab di hadapan Mahkamah Allah nanti di hari kiamat kelak. Maka perbanyaklah zikir agar kita selalu mengingat keagungan-Nya dan kepedihan azab-Nya.
Jadi seorang pemimpin harus banyak merenung dosa dan kekhilafan yang mungkin telah kita buat, serta nasib rakyat yang menderita dan papa, harus berfikir bagaimana mensejahterakan rakyat, menenteramkan mereka, dan membuat mereka tersenyum dan selalu berada dalam ketaatan kepada Allah. Itulah tugas pemimpin apalagi dia beragama Islam.
Syariat Islam di Aceh sangat tergantung pada Gubernur, Bupati dan Walikota. Mereka semasa calon sudah menandatangani borang yang bersedia menjalankan syariat Islam jika mereka terpilih, kalau mereka tidak menghiraukan jalannya syariat di negeri Serambi Makkah ini, maka para pemimpin ini tunggu azab Allah yang Maha Pedih.
Zikir itu mengingat Allah, ke-Mahakuasaan-Nya, Kepedihan azab-Nya, Kebesaran-Nya dari semua makhluk, Keesaan-Nya, dan Maha segala-galanya. Agar kita tidak sombong, angkuh, lupa daratan, dan menganggap kita yang paling benar dan berkuasa, banyak merenung proses penciptaan kita, proses masa kecil kita sejak dalam perut ibu kita hingga dewasa, siapa diri kita, dari mana asal muasal kita, makanya perlu direnung dan memperhambakan diri kepada Allah lewat zikir-zikir yang diajarkan Rasulullah kepada kita.
Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Agama Islam,
Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Darussalam.
Masyaallah