Award Winners

Pemimpin Yang Bijaksana, Membuka Jalan Ke Syurga

Harian Reportase - Selasa, 31 Maret 2026
Pemimpin Yang Bijaksana, Membuka Jalan Ke Syurga
Prof. Dr. Muhammad Ar, M.Ed  
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Salah satu tugas besar yang harus dilaksanakan oleh seorang raja (pemimin) adalah memilih dan melantik para pembesar dan menteri- menteri yang akan membantunya untuk menjalankan pentadbiran negara.

Kesilapan atau kesalahan dalam memilih pembesar dan para menterinya akan membawa bencana kepada raja (pemimpin) itu sendiri, kepada rakyat dan negara (Jelani bin Harun: 2025: 110).

Menurut Syaikh Husain Wa’iz al-Kashifi, seorang yang hina tidak wajar dilantik sebagai pembesar, dengan kata lain, orang yang rendah dan rusak akhlaknya tidak perlu diangkat sebagai pemimpin masyarakat (Kashifi, 1867:85-86).

Rasanya kutipan di atas patut dijadikan renungan bagi seorang pemimpin bangsa atau pemimpin masyarakat. Inilah pendapat yang makruf dalam Islam jika seseorang hendak menjadikan dirinya seorang pemimpin dalam skala besar yaitu pemimpin negara atau pemimpin masyarakat.

Disinilah perlunya kekuatan fisik dan mental bagi seorang pemimpin agar tidak mudah menerima laporan Asal Bapak Senang (ABS) dari sekelilingnya, dan tidak cepat memutuskan suatu perkara sebelum benar-benar menyelidikinya secara adil dan seksama.

Fisik pemimpin harus strong atau kuat, pikiran pemimpin harus jernih dan rasional sehingga setiap berita yang masuk harus diselidiki dan di cross check pada orang-orang yang berseberangan pemikiran dan berbeda aliran politik.

Perlu digarisbawahi adalah perbedaan pandangan dan perbedaan cara berfikir bukan musuh, tetapi merekalah yang akan menyelamatkan kita (raja) dunia dan akhirat. Sebaliknya tidak semua berita baik yang disodorkan oleh punggawa-punggawa raja adalah memiliki kebenaran yang hakiki, boleh jadi berita itu hanya untuk menyenangkan hati para bossnya saja. Karena itu jika ada setiap berita yang masuk, maka perlu tabayyun sesuai firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 6.

Baca Juga:  Polda Lampung Perkuat Patroli QR Presisi, Respons Cepat Tekan Kejahatan Jalanan

Pemimpin itu seperti seorang filosof, ianya mencintai kebijaksanaan atau hikmah serta kebenaran (bukan kabar bohong). Segala tindakannya harus bijak dan benar bukan menurut akal pikirannya saja, tetapi menurut kata hati-nya yang mendalam sehingga kebenaran yang didapatkan bukan kebenaran semu tanpa rasionalitas.

Pemimpin itu harus benar-benar mengikuti langkah-langkah yang telah dijadikan sandaran oleh Rasulullah saw seperti sifat Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas).

Model ini harus diikuti oleh setiap para pemimpin bangsa dan pemimpin masyarakat, jika tidak mengikuti keempat sifat ini, maka silakan mengundurkan diri dari tahta kepemimpinan, jangan murusak diri sendiri dan merusak masyarakat- bangsa secara keseluruhan.

Karena bagi para pemimpin yang memiliki keempat sifat tersebut, sudah pasti mereka akan membawa bahtera ini kepada kenikmatan syurga dan keharmonisan, namun jika para pemimpin jauh dari keempat sifat ini, maka mereka akan membawa bahtera ini bersama para penumpangnya (rakyatnya) ke neraka.

Maka tugas rakyat kalau mereka bersatu dan kompak, turunkan para pemimpin yang bejat dan sombong ini. Namun jika rakyat hidup penuh ketakutan dan diterror, maka Allah-lah sebagai tempat mengadu dan tempat berlindung.

Namun jika kita mau bersabar dan berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya agar Dia mengubah akhlak para pemimpin kita menjadi mulia dan jujur sehingga akibat kemuliaan akhlaknya dan kejujurannya semua rakyat akan sejahtera, damai dan harmoni dan pintu syurga akan menantikan para pemimpin dan rakyatnya untuk dimasukinya.

Baca Juga:  Reuni dalam Syurga

Oleh karena demikian, seolah-olah para pemimpin baik dalam skala kecil ataupun dalam skala besar, sifat jujur dan adil itu adalah sebuah keniscayaan.

Memanglah benar kata ahli hikmah, jangan jadikan pemimpin itu pencuri karena ini tidak linear dengan keahliannya, jangan jadikan drakula menjadi pemimpin karena tidak cukup darah rakyat sebagai minumannya, jangan jadikan singa menjadi pemimpin karena akan menjadikan semua rakyatnya sebagai santapannya (sebagai domba).

Bagaimana seseorang dipilih atau diangkat sebagai pemimpin secara realitasnya, maka ikuti cara agama yang anda anut dan ini tidak akan salah kalau seorang muslim mengikuti ajaran agamanya bagaimana syarat-syarat pengangkatan seorang pemimpin.

Lihat saja sekarang model pemilihan pemimpin, kita ikut cara Amerika, semua orang tahu Amerika itu penjajah ekonomi orang, penjajah negara orang, penjajah kedaulatan orang, pembohong, pembela Yahudi, dan perampas harta dan tahta orang lain yang tidak mau tunduk atas arahan mereka.

Lalu, kita memakai sistim yang dipakai mereka, artinya kita sama saja seperti mereka. Kalau kita Muslim sudah pasti berbeda dengan mereka karena dalam pandangan Muslim tidak ada yang namanya demokrasi kecuali syura, tidak ada pilsung, tidak ada sistim Machiavelism, tidak ada sogok menyogok karena itu wajib masuk neraka, tidak ada intimidasi karena itu haram dan bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah, tidak ada saksi palsu karena itu menuju neraka (dosa besar).

Di zaman modern ini kita tidak bisa menjadikan rujukan tentang para pemimpin yang sombong, tiran, korup, nepotisme, kolusi, dan serakah, yang akhirnya semuanya berakhir dengan tragis dan penuh caci makian.

Baca Juga:  321 WNA Pelaku Judi Online Akan Dipindahkan ke Sejumlah Kantor Imigrasi untuk Pemeriksaan Lanjutan

Lihat saja bagaimana berakhirnya masa kejayaan Shah Iran (Reza Fahlevi) di Iran, ditumbangkan oleh orang berjenggot yang namannya Ayatullah Ruhullah Khomeiny, kemudian lihat pula Ferdinan Marcos di Filipina, yang ditumbangkan oleh seorang janda, Benigno Aquino, dan banyak para pemimpin seperti di luar negeri dan di dalam negeri yang semuanya menyesal di akhir hayatnya atau di akhir kekuasaannya karena mereka mengikuti hawa nafsu setan secara membabi buta seolah-oleh mereka sebagai Penguasa Langit dan Bumi.

Ingatlah manusia ada batasnya dan ada masanya, karena itu kalau para pemimpin ingin selamat dunia dan akhirat, maka belajarlah bagaimana kepemimpinan Muhammad saw dalam memimpin keluarga, masyarakat, agama, dan negara, kepemimpinan Abu Bakar Siddiq, kepemimpinan Umar bin Khattab, kepemimpinan Umar bin Abdul Azis, kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam dan para pemimpin yang berakhlak mulia lainnya.

Pemimpin itu takut kepada Allah dan hari akhir, pemimpin itu berhati lembut dan penuh kasih sayang, pemimpin kuat dari segi fisik dan mentalnya, pemimpin itu tidak munafik, pemimpin itu tidak sombong atas kekuasaannya, dan pemimpin itu selalu mendengar jeritan rakyatnya dan tidak wajib mendengar apa kata dendayangnya.

Pemimpin itu memilih para pembantunya yang jujur, adil, berakhlak mulia dan takut kepada Allah. Wallahu ‘alam.

Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Islam S3 PAI UIN Ar-Raniry

Bagikan:

1 Komentar pada “Pemimpin Yang Bijaksana, Membuka Jalan Ke Syurga”

  1. Sofyan berkata:

    Saya doakan semoga penulis Allah mudahkan dalan segala urusan dunia dan akhirat kelak

Tinggalkan Komentar