Award Winners

Tamaddun Akhir Zaman: Kebingungan Identitas Diri

Harian Reportase - Kamis, 6 November 2025
Tamaddun Akhir Zaman: Kebingungan Identitas Diri
Prof. Dr. Muhammad Ar, M.Ed  
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Tamaddun (Bahasa Arab), Civilization (Bahasa Inggris), Beschaving (bahasa Belanda), Zivilisation (bahasa Jerman), Civilizacio’n (bahasa Spanyol) dan dalam bahasa Indonesia yang kita kenal dengan ‘peradaban’.

Secara umum peradaban diartikan adalah bahagian dari kebudayaan yang indah, halus, maju yang bernilai tinggi. Atau sekumpulan identitas manusia yang merupakan hasil dari budaya-budaya mereka yang didalamnya terkandung nilai-nilai, seni budaya, tehnologi, dan nilai-nilai akhlak atau budaya dan seluruh aspek kehidupan komunitas.

Dapat dikatakan bahwa peradaban suatu kaum erat kaitannya dengan budaya dan nilai akhlak yang berlaku dalam kehidupan mereka sehari-hari, karena itu sungguh sangat sial terhadap seseorang yang bingung dengan peradaban sendiri yang telah menjadi hal baku secara turun temurun berabad-abad yang lalu.

Namun dengan sedikit berlainan guru, berlainan tempat menuntut, berlainan sponsor, dan pernah singgah di tempat yang berlainan budaya dan peradaban, namun ada sebagian orang sudah kebingungan tentang jatidirinya sendiri.

Banyak orang kehilangan jati diri dalam berpakaian sehingga antara pakaian lelaki dan pakaian wanita tidak dapat membedakannya, ini berlaku sama generasi muda sekarang bahkan orang-orang terpelajar-pun banyak yang tidak kenal lagi identitasnya dalam menutup aurat atau berpakaian secara syar’i, tentu saja dalam berpakaian sebagaimana yang diharapkan oleh agama yang dianut.

Lihat saja di sekeliling kita yang sering berolah raga di lapangan, atau di taman-taman, bagaimana peradaban berpakaian, peradaban bercengkerama, walaupun orang yang mengaku Islam dan terpelajar sekalipun tidak dapat lagi membedakan bagaimana sejatinya berperadaban yang pantas.

Karena di rumah mereka sudah berubah, di lingkungan mereka sudah berubah, di institusi tempat mereka menuntut ilmu telah berubah, buku-buku yang dibaca-pun bertambah bingung para pembaca karena semua berdasarkan logika yang tidak sanggup diterima akal sehat.

Dulu dalam syair Seudati Aceh sering terdengar begini, “bukon salah ma (ibu) bukon salah du (ayah), tapi salah guru geupeduek sapat”. Coba dibayangkan sekarang ini kata-kata syair ini apa ada benarnya atau salah semua?

Bukankah kita selalu mendengar pada anak-anak kita, ketika pulang sekolah, mereka berkata, menurut ustad begini, menurut ustazah begini, menurut bu guru begini, menurut pak guru begini.” Anak lebih menuruti guru daripada orang tuanya di rumah, karena itu kalau guru liberal, murid sering liberal pula, kalau guru sekuler kemungkinan besar murid sekuler juga, kalau guru disiplin, pasti muridnya disiplin juga, kalau guru suka berbohong, murid-muridnya akan menjadi pembohong pula, kalau gurunya orang shalih, ada segelintir muridnya yang akan mengukuti kesalehan gurunya, kalau gurunya menganut satu aliran, pasti akan mengajakan murid-muridnya masuk ke aliran tersebut walaupun sedikit aneh dan ganjil, kalau gurunya suka melakukan praktik khurafat, tahyul, bid’ah, maka muridnya juga akan mengikuti jejaknya pula, dan kalau gurunya tegas mengikuti al-Qur’an dan sunnah saja, maka muridnya akan membid’ahkan semua praktek-praktek yang tidak pernah ada pada masa awal Islam. Lebih banyak saham guru dalam menentukan pemikiran dan tingkah laku murid-muridnya.

Baca Juga:  Polda Aceh Klarifikasi Penanganan Dugaan Pencemaran Nama Baik terhadap Sekda Aceh

Dalam buku “The Disintegrations of Civilization”, Arnold Toyinbee mengatakan bahwa peradaban adalah sekumpulan hasil budidaya manusia yang terjelma dalam seluruh kehidupannya, termasuklah pencapaian tertinggi dalam bidang tehnologi.

Hasil tafsirannya adalah sesuai dengan lingkungan dimana Toyinbee dilahirkan dan dibesarkan, namun orang Islam, dan lagi pula Orang Aceh, pasti dasar kebudayaannya sesuai syariat, akhlaknya sesuai syariat, pakaiannya sesuai syariat, muamalahnya sesuai syariat, pendidikannya tidak menentang syariat, lingkungannya harus bersyariat, pikirannya harus dilandasi syariat, dan semuanya perlu adjustment dengan syariat kalau tidak mau dituduh anti syariat.

Saya pernah bertanya kepada teman saya yang juga seorang guru besar yang latar belakang pendidikannya dari Amerika, “bang, bagaimana orang Amerika melihat Islam dan syariat Islam di Aceh?” Beliau berkata, kalau anda mau duit atau dana, buat saja proposal riset atau tulis saja artikel dalam media, buat saja diskusi mingguan, bulanan, seminar yang isinya menghantam syariat Islam, atau Orang Aceh menolak syariat, atau syariat Islam di Aceh melanggar HAM, dan sejenisnya. Anda kirim saja proposal tersebut kepada foundations (beliau menyebutkan beberapa foundations tersebut dan alamatnya) tertentu yang berlatar belakang anti Islam, mungkin dalam seminggu clear masalahnya.

Baca Juga:  DPRA Resmi Menetapkan Peraturan tentang Kode Etik serta Tata Cara Beracara Badan Kehormatan

Kalau mereka anti Islam, anti syariat, anti agama Allah, anti Rasulullah, dan anti peradaban Islam, sah-sah saja, malah kalau mereka diam saja dan sepi kritik terhadap Islam, perlu dipertanyakan apakah mereka telah mendapat hidayah?

Namun kalau kita umat Islam, endatu kita Islam, darah daging kita Islam, lingkungan tempat dilahirkan secara Islam, malah ketika lahir diazankan dan diiqamatkan di kedua telinga, masih juga menyimpan kebencian kepada syariat, mungkin ada sesuatu yang harus diluruskan dalam benak dan mindset mereka.

Seluruh aspek kehidupan manusia misalnya kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan segala jenis transaksi serta cara bermuamalah sudah sedang berjalan menuju perubahan.

Begitulah peradaban umat Islam tidak terkecuali di daerah kita, di negeri kita, dan di negeri-negeri Muslim sekalipun hampir semuanya menuju modifikasi. Jika modifikasi ke arah positif, sah-sah saja, namun kalau terjadi distingsi ke arah negative, siapa yang menanggung dosa? Siapa yang kehilangan marwah, dan bagaimana nasib generasi muda kita, dan relakah kita meninggalkan manusia-manusia atheis, manusia-manusia materialis, manusia-manusia secularis, liberalis, dan sejenisnya.

Bagaimana tanggung jawab kita dengan Allah (kalu kita haqqul yakin), di hari perjumpaan dengan Yang Maha Kuasa di hari hisab nanti.

Lihat juga tradisi masjid di zaman Nabi saw atau pada era sahabat, masjid tempat menyusun strategi perang, tempat tidur para musafir, tempat istirahat orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal karena mereka sedang dalam perjalanan, sebagai tempat belajar politik, ekonomi, hukum Islam dan sebagainya. Sekarang ada masjid-masjid yang sengaja mernulis “Jangan Tidur dalam Masjid”. Padahal sewaktu mendirikan masjid, semua kalangan dipanggil dan diminta pengorbanannya, sedekahnya, bantuannya, untuk membuat masjid, namun kalau masjid sudah selesai dan dihias dengan cantiknya, maka ada peraturan-peraturan yang menjauhkan umat Islam masuk ke masjid.

Lihat saja peradaban baru yang berlaku di Masjid Agung Sibolga, Jum’at 31 Oktober 2025 malam hari, sehingga salah seorang saudara kita (Arjuna Tamaraya 21 tahun) dari Sinabang harus merelakan nyawanya terpisah dengan tubuhnya oleh penjahat-penjahat yang bernama Chandra Lubis (38), Rismansyah Efendi Chaniago (30), Zulham Piliang (57), Hasan Basri (46), dan Syazwan Situmorang (40). Makanya pengurus masjid perlu menjaga masjid, mengawasi pelaku maksiat di sekitaran masjid, menulis bahasa-bahasa yang indah dan menyejukkan hati di masjid-masjid. Bukan membuat peraturan yang menjauhkan orang ke masjid.

Baca Juga:  Susi Air Buka Lowongan Kerja untuk D3 dan S1 Berbagai Jurusan, Berikut Informasinya

Ini tradisi baru dan bukan hanya sekali terjadi criminal dan kekerasan di masjid-masjid. Kita mohon kepada aparat penegak hukum menjatuhkan hukuman yang membuat mereka jera dan setimpal atas apa yang mereka perbuat terhadap seorang pemuda Aceh di Masjid Agung Sibolga.

Para ilmuwan dan kampus perlu meneliti semua pembunuh di Masjid Sibolga itu tentang latarbelakang pendidikannya, latar belakang keluarganya, latar belakang keilmuannya, latar belakang pergaulannya dan semua yang berhubungan dengan nilai kemanusiaan. Jangan-jangan mereka dibesarkan dengan harta yang haram, di lingkungan premanisme dan perompak, atau memang mereka pemabuk dan pembegal manusia. Kalau mereka orang bergama, beriman, dan berakhlak mulia, persoalan ini tidak akan terjadi konon lagi di lingkungan Masjid, kalau mereka manusia yang berasal dari keluarga yang baik dan beriman serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persoalan pengeroyokan dan penganianyaan terhadap Arjuna tidak akan berlaku.

Apakah salah guru mereka yang tidak pernah mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan akhlak mulia sehingga mereka yang ber-lima itu terhinggapi sifat binatang buas yang menghilangkan sifat kelemah lembutan terhadap sesama manusia.

Semua pelaku kriminal ini telah meninggalkan jati dirinya sendiri yang asli yaitu jatidiri kemanusiaan yang saling cinta dan tolong menolong. Namun yang terjadi hanya angkat kaki dari peradaban Islam murni yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan bangga terhadap identitas kemanusiaan yang beradab.

Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Bagikan:

Tinggalkan Komentar