Award Winners

LAGÈI BOH TRUENG LAM JEU-ÈI

Harian Reportase - Selasa, 30 Juni 2026
LAGÈI BOH TRUENG LAM JEU-ÈI
Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah UIN Ar-Raniry. Hasanuddin Yusuf Adan. (Doc: Ist/ Harian Reportase)  
Penulis
|
Bagikan:

Oleh: Prof.Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA
(Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
[email protected]


HARIANREPORTASE.com — Membaca judul artikel ini tentu banyak orang bertanya-tanya karena tidak paham maknanya. Itu dialami bukan hanya oleh orang-orang yang tidak bisa berbahasa Aceh saja melainkan juga oleh sejumlah orang Aceh yang sudah membiarkan bahasa dan filosofi kehidupan Aceh berlalu begitu saja dalam kehidupannya.

Judul artikel ini aslinya terdiri dari lima kata bahasa Aceh, namun ia dapat diringkas menjadi empat kata.

Kata pertama adalah Lagèi yang bermakna seperti, semisal dan seumpama, kata kedua Boh yang bermakna buah atau buah-buahan, kata ketiga Trueng yang berarti terong, kata keempat Lam yang berarti dalam (sesuatu tempat), dan kata kelima Jeu-èi yang bermakna tempayan tempat membersihkan beras setelah ditumbuk dengan jeungki (alat penumbuk padi ala Aceh) dalam kebiasaan orang Aceh.

Antara Boh dengan Trueng dapat disatukan menjadi boh trueng yang bermakna buah terong, kalau dua kata tersebut digabung maka judul artikel ini menjadi empat kata sahaja.

Ketika dipadukan semua kata tersebut dalam satu kalimat dengan bunyinya; Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi maka ia mengandung arti dan maksud; “seperti buah terong dalam tempayan”.

Kenapa para éndatu Aceh dahulu mengambil istilah tersebut untuk diumpamakan kepada kehidupan sesuatu kaum dan bangsa, karena sering sekali orang Aceh dahulu setelah mengutip Boh Trueng lalu diletakkah dalam Jeu-èi untuk dibawa pulang ke rumahnya, karena pada waktu itu belum banyak tempat untuk memasukkan sesuatu barang seperti hari ini.

Ketika Boh Trueng tersebut dibawa pulang kerumah melalui jalan sempit dan tidak beratur dari kebun kerumah sering Jeu-èi itu miring, ketika ia miring maka Boh Trueng itu akan ikut bergulir kearah miringnya Jeu-èi, apalagi sesekali sengaja dimiringkan pembawa karena untuk memudahkan ia membawanya.

Maka kemana miringnya Jeu-èi kesitulah Boh Trueng itu meucrôn-crôn (bergulir/berdesakan).

KONDISI NYATA

Filosofi di balik judul Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi dalam artikel ini berkenaan dengan kehidupan orang dan bangsa Aceh hari ini.

Bangsa Aceh yang dalam Negara Aceh tempo dulu menjadi penentu kebijakan, sebagai penguasa beberapa negara, sebagai pejuang kebenaran, sebagai pahlawan, dan juga sebagai penolong orang, hari ini kondisinya Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Kondisi ini secara nyata terkondisikan setelah Aceh menjadi bahagian dari sebuah Negara sin salabin yang bernama Republik Indonesia (RI).

ketika Aceh menjadi salah satu keresidenan dan kemudian menjadi salah satu provinsi dalam Negara RI maka bangsa Aceh langsung atau tidak langsung secara otomatis sudah bergantung, tergantung dan menggantungkan diri kepada RI yang berpusat di Jakarta.

Di situlah awal kemalangan dan awal mula yang membuat bangsa Aceh Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi, karena Aceh sudah diatur oleh RI, bangsa Aceh sudah tunduk kepada RI, wilayah Aceh sudah dirambah oleh RI.

Dalam kondisi seperti itulah tercipta suasana ada keperluan Aceh terhadap RI dan ada pengaturan RI terhadap Aceh, lalu secara otomatis bangsa Aceh harus menerima pengaturan RI dan RI punya kesempatan untuk menjadikan bangsa Aceh Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Baca Juga:  Kota Banda Aceh Terpilih Sebagai Tuan Rumah Kejuaraan Antar Kampung 2024

Karena itu pula terlihatlah bagaimana arah kepemimpinan RI di Jakarta begitulah kehidupan bangsa Aceh di Aceh.

Dahulu ketika RI dipimpin Soekarno yang menghidupkan ideologi komunis lewat jalur partai Komunis Indonesia (PKI), orang-orang Aceh beramai-ramai bergabung dalam PKI, ketika Soekarno gemar berpoligami, bangsa Aceh juga ikut berpoligami, ketika Soekarno menghidupkan Manipol Usdek (Manifesto Politik, Undang-undang Dasar 45, sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin) maka sejumlah bangsa Aceh pun ikut serta kedalamnya. Begitulah bangsa Aceh yang Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Ketika Negara RI dipimpin Soeharto yang berkiblat ke Amerika dengan mengagungkan demokrasi maka bangsa Aceh juga bangga dengan Amerika dan rukun terhadap demokrasi, ketika Soeharto memaksa semua PNS harus memilih Golkar maka hampir seluruh PNS di Aceh memilih Golkar beramai-ramai, ketika Soeharto memaksa Golkar harus menang dalam setiap pemilu di Indonesia maka para pemimpin Acehpun ikut menghalalkan cara memenangkan Golkar di Aceh.

Ketika Soharto mewajibkan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia maka para pemimpin Acehpun memaksa bangsanya untuk masuk KB dari gampong sampai ke kota.

Ketika Soeharto memberdayakan konsep anti poligami di Indonesia maka bangsa Aceh juga ikut secara langsung anti terhadap poligami dan melawan hukum Allah.

Ketika Soeharto bersama TNI nya mengganyang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maka para penguasa Acehpun ikut membunuh bangsanya sendiri.

Ketika Soeharto bersama dengan para kabinetnya merambah harta kekayaan Aceh terutama gas alam di Arun dan kayu di gunung serta ikan di laut Aceh maka semua para pemimpin Aceh diam seribu bahasa sebagai isyarat setuju hasil alamnya dirampas orang.

Ketika Soeharto memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) dari tahun 1989-1998 di Aceh dengan membunuh, memperkosa dan merampas bangsa dan harta orang Aceh, semua penguasa Aceh memberi izin kepadanya.

Maka tatkala itu kehidupan bangsa Aceh betul-betul Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi, kemana miring kesitulah terpungging.

Dalam zaman reformasi ketika rakyat menjadi penguasa dan setiap kelompok masyarakat bebas berbuat apa saja, bangsa Aceh beramai-ramai membuat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Masyarakat (Ormasy). Dengan lembaga-lembaga tersebut mereka bertindak sesuka hatinya dan tidak pernah ditertibkan oleh penguasa negara, maka tatkala itu pula sebahagian masyarakat Aceh berdemonstrasi terhadap para penguasa negara, sebahagian yang lainnya mengejar pengurus dan merebut masjid-masjid yang sedang bagus ibadah di dalamnya, ada pula yang berusaha menukar tatacara ibadah di sesuatu Masjid.

Sebahagian orang juga melabelkan orang lain sesat, wahabi, kafir dan sejenisnya tanpa diukur dengan alat ukur agama Islam yang benar.

Sebahagian kelompok masyarakat datang dan mengultimatum kelompok masyarakat lainnya agar keluar dari bumi Aceh. Dalam kondisi semacam ini rakyat Aceh betul-betul Meurôn-rôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Yang menjadi aneh bin ajaib binti membingungkan adalah sejumlah pemimpin Aceh yang menjadi pemimpin kepada seluruh masyarakat Aceh ikut Meurôn-rôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi bersama sesuatu kelompok dengan menyisihkan kelompok lainnya yang penuh dengan nuansa politis.

Baca Juga:  Menuju Akreditasi Unggul, IAIN Langsa Adakan Workshop IKU-IKT

Sebagai contoh; pernah ada pemimpin Aceh yang memberikan dana besar kepada suatu kelompok untuk pengajian dan zikir besar-besaran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan target para jama’ah pengajian tersebut memilih dia dalam pilkada/pemilu mendatang, namun ketika pemilu terjadi sang pemimpin itu gagal dan kalah mempertahankan jabatannya.

Di Bireuen juga pernah terjadi ketika pemimpin kota juang tersebut mengusir pengurus masjid dan memberikan masjid tersebut kepada kelompok tertentu dengan perhitungan orang yang diberikan masjid tersebut dapat mambantu berkampanye dan memilihnya dalam pilkada/pemilu.

Ternyata dia kalah dalam pilkada/pemilu dan masjid menjadi mundur dari sebuah kemajuan. Sekarangpun sedang bermain para pemimpin di seluruh Aceh berjinak-jinak dengan sesuatu kaum yang dianggap punya rakyat di belakangnya dengan harapan yang sama yakni mereka akan mendukung dan memilih para pemimpin Aceh tersebut di setiap musim Pilkada. Yang begitu itulah namanya bangsa Aceh meurôn-rôn wa meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Dalam kehidupan masyarakat di kampung-kampung mereka kini juga hidup meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi. Mereka kehilangan pegangan sesuai dengan kalam Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. karena para pemimpin bangsa tidak berilmu Islam sebagaimana mestinya. Lalu ada orang-orang yang sedang menikmati cucuran dana dari hasil proses pembodohan terhadap masyarakat awam maka proses pembodohan itupun terus berlalu sehingga kini, walaupun terkadang dengan nyata bertentangan dengan nas-nas agama yang muthlak seperti praktik tolak beras sebagai ganti shalat orang mati yang dianggap dapat terampun dosanya, mewajibkan baca Al-Qur’an di kuburan orang yang baru meninggal dunia, tidak boleh shalat jenazah kecuali oleh orang-orang tertentu yang disiapkan teungku, dan seumpamanya.

Masyarakat awam di gampong-gampong tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti proses pembodohan seperti itu, dan Aceh akan set back setengah abat kebelakang kalau proses pembodohan tersebut terus berlanjut akibat kekosongan pemimpin Islami yang memahami Islam secara kaffah. Maka jadilah bangsa Aceh ini meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.
Contoh konkrit lainnya Adalah:

PENYEBAB DAN JALAN KELUAR

Karena penyebab masyarakat Aceh meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi adalah kejahilan, terutama sekali kejahilan para pemimpin yang diikuti oleh kejahilan bangsa itu sendiri terhadap atribut Islam terutama sekali terhadap syari′ah sebagai hukum Allah maka beginilah gambaran Aceh hari ini meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Di sisi lain ada kepentingan kelompok, kaum, dan golongan yang disertai kepentingan politik di sana maka kondisi masyarakat Aceh meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi ini sulit diatasi karena mendapat dukungan eksternal lain baik yang datang dari pihak Indonesia yang menginginkan Aceh terus kacau agar mereka mudah mengatur dan memeras hasil alamnya, mapun yang datangnya dari kuasa besar dunia internasional yang anti dan berusaha keras agar syari′at Islam di Aceh tidak berjalan semestinya.

Dua penyebab eksternal Aceh itulah yang perlu dipahami oleh segenap komponen bangsa Aceh dari mana saja asalnya, dari kelompok dan golongan mana saja ia berada dan di mana saja ia berada sehingga dapat bersatu di bawah payung syari′ah dalam bingakai ke-Aceh-an yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah bukan bingkai lain yang bercerai berai.

Baca Juga:  Pengurus Daerah PGMNI Kota Lhokseumawe Resmi dilantik, : Perkuat Pendidikan Madrasah dengan Pelatihan Guru Inklusif

Semoga sahaja Aceh kedepan menjadi Aceh seperti masa Iskandar Muda yang bersatu padu dalam payung syari′ah dalam bingkai Ke-Aceh-an. Bèk le meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Kenapa kondisi semacam ini muncul dalam kehidupan bangsa Aceh sehingga bangsa yang pernah maju jaya suatu masa dahulu seperti menjadi babu bangsa yang tidak jelas asal usulnya.

Minimal ada tiga penyebab yang menjadi kenyataan Aceh seperti ini; pertama, efek penjajahan bangsa Eropa terhadap Aceh yang sangat lama dan melelahkan Aceh sehingga Aceh kehilangan identitasnya (loss identity);

kedua, efek tergabungnya Aceh kedalam Indonesia yang membuat Aceh berada pada posisi dihatur bukan mengatur, diperintah bukan memerintah, disuruh bukan menyuruh, dikontrol bukan mengontrol, ditekan bukan menekan, diteror bukan meneror, dimainkan bukan memainkan, didata bukan menata, dipangku bukan memangku, dijarah bukan menjarah, direkrut bukan merekrut, dipermainkan bukan mempermainkan, diacak bukan mengacak, dikacaukan bukan mengacaukan, dikuliti bukan menguliti, ditipu bukan menipu, dininabobo bukan meninabobo;

ketiga, efek ketidak kompakan Aceh dari zaman kezaman semenjak masa penjajahan sampai masa kemerdekaan, masa pemberontakan dan masa kini membuat bangsa Aceh meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Mencari Solusi untuk mengatasi kondisi semisal ini sulit sesulit mengantisipasi karena tiga faktor penyebab tadi. Namun demikian sebagai bangsa mandiri yang telah terbukti dalam Sejarah bangsa Aceh tempo dulu, orang Aceh harus mengedepankan identitas ke-Acehan sebagaimana yang telah direpresentasikan para Endatu seperti Sultanah Keumala Hayati dan Sultan Ali Mughayyatsyah yang memerangani Penjajah Portugis sampai kalah KO dan lari dari Aceh, inisiatif Sultan Iskandar Muda yang menentang penjajah sehingga Aceh menjadi lima kuasa besar dunia pada masa itu (Kerajaan Islam Turki Usmaniyah yang berpusat di Istanbul Asia Minor, Kerajaan Islam Morroko di Afrika Utara, Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, Kerajaan Islam Akra di anak benua India dan Kerajaan Islam Aceh Darussalam di Asia Tenggara).

Para Endatu penerus mereka telah menghantarkan Aceh jauh dari pasungan Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi semisal kerja nyata para Sultanah yang mendaulatkan Aceh dari sembarang gangguan, ulama pejuang bernama Tgk. Chik Di Tiro yang menolak tawaran berdamai dari penjajah Belanda, Cut Nyak Dhien yang berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menjaga agar Aceh tidak berada pada posisi Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Demikian juga dengan kerja nyata Teuku Umar Johan Pahlawan yang syahid di medan perang, Tgk. Muhammad Dawud Beureu-eh yang tidak pernah menerima berbagai tawaran konyol dari penjajah Belanda.

Semua itu telah dititipkan mereka untuk menjadi tongkat pegangan (meuneumat) bagi kita hari ini, kalau meuneumat tidak kita pakai maka Aceh dan bangsa Aceh akan tetap Meucrôn-crôn Lagèi Boh Trueng Lam Jeu-èi.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar