Dividend yield yang tinggi sering menjadi salah satu pertimbangan ketika investor mencari saham dengan potensi pendapatan dividen. Saham TLKM mencatat dividend yield sebesar 9,66% dan dividend per share (DPS) Rp223,17 berdasarkan data yang tersedia. Namun, ada indikator lain yang perlu diperiksa sebelum mengambil kesimpulan mengenai daya tarik saham tersebut.
Operating profit margin (OPM) TLKM tercatat -9,92%. Di sisi lain, ROA dan ROE masih berada di wilayah positif. Perbedaan ini membuat data TLKM perlu dibaca dari beberapa sisi, bukan hanya berdasarkan besarnya dividen. Untuk memantau perkembangan tersebut, investor dapat menggunakan aplikasi saham Makmur aman dan Terbaik.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM merupakan perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi dan informasi. Bisnisnya dikelompokkan ke dalam tiga domain digital, yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital services.
Telkomsel menjadi salah satu bagian penting dalam grup Telkom dan merupakan anak usaha terbesar sekaligus operator seluler. Struktur bisnis tersebut membuat TLKM memiliki cakupan usaha yang luas, sehingga kinerja perusahaan tidak hanya berkaitan dengan layanan telekomunikasi konvensional.
Dari sisi pasar, TLKM memiliki market cap sebesar Rp228,83 triliun dengan 99,06 miliar saham beredar. Volume perdagangan terakhir tercatat 173,35 juta saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume tiga bulan sebesar 116,66 juta saham.
Data tersebut membantu menggambarkan skala TLKM di pasar saham serta aktivitas perdagangannya. Namun, volume dan market cap tetap perlu dilihat bersama kondisi keuangan dan valuasi perusahaan.
TLKM memiliki P/E sebesar 13,1, P/B 1,93, dan P/S 1,53. EPS tercatat Rp176,27. Ketiga rasio valuasi tersebut menggunakan dasar perhitungan yang berbeda, sehingga dapat memberikan perspektif yang saling melengkapi ketika investor menilai harga saham.
Dari sisi profitabilitas, ROA TLKM berada di 7,01% dan ROE sebesar 17,95%. Keduanya masih positif dan menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba terhadap aset maupun ekuitas berdasarkan data yang digunakan.
Namun, OPM justru tercatat -9,92%. OPM mengukur seberapa besar laba operasi yang tersisa dari pendapatan setelah memperhitungkan biaya operasional. Angka negatif menunjukkan bahwa pada basis data tersebut, hasil operasi berada di bawah nol.
Perbedaan antara OPM negatif dengan ROA dan ROE positif membuat investor perlu melihat lebih jauh periode dan komponen laporan keuangan yang mendasari masing-masing rasio. Satu indikator tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi perusahaan.
TLKM mencatat DPS Rp223,17 dan dividend yield 9,66%. Angka tersebut tentu menjadi salah satu data yang dapat diperhatikan investor yang mempertimbangkan pendapatan dari dividen.
Namun, ada perbandingan lain yang tidak kalah penting. DPS Rp223,17 berada di atas EPS Rp176,27 berdasarkan data yang digunakan. Artinya, besaran dividen per saham yang tercatat lebih tinggi daripada laba per saham pada basis data tersebut.
Kondisi ini bukan berarti dividen otomatis tidak berkelanjutan. Pembagian dividen perlu dilihat berdasarkan kebijakan perusahaan, laba ditahan, arus kas, dan kondisi keuangan secara keseluruhan. Namun, perbedaan antara DPS dan EPS layak menjadi alasan untuk memeriksa lebih jauh bagaimana pembagian dividen tersebut didukung oleh kondisi perusahaan.
Dividend yield juga tidak bersifat tetap. Perhitungannya dipengaruhi oleh harga saham, sehingga perubahan harga dapat membuat yield naik atau turun meskipun nominal dividen tidak berubah.
Besarnya dividen tidak menghilangkan risiko perubahan harga saham. Data return bulanan TLKM pada kuartal ketiga 2026 memperlihatkan hal tersebut.
Pada Juli, TLKM mencatat kenaikan 11,91%. Namun, saham kemudian turun 1,14% pada Agustus dan kembali terkoreksi 11,92% pada September. Jika ketiga return tersebut dihitung secara majemuk, hasil periode Juli hingga September berada di sekitar -2,6%.
Dengan demikian, investor yang melihat dividend yield 9,66% tetap perlu memperhitungkan potensi perubahan nilai saham. Pendapatan dividen dan capital gain merupakan dua komponen berbeda dalam investasi saham, sementara keduanya sama-sama dapat memengaruhi hasil akhir portofolio.
TLKM memiliki beberapa indikator yang memberikan perspektif berbeda. P/E 13,1 dan P/B 1,93 dapat digunakan untuk membaca valuasi, sementara ROE 17,95% dan ROA 7,01% menunjukkan profitabilitas positif berdasarkan data yang tersedia.
Di sisi lain, OPM -9,92% menjadi indikator yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Begitu pula DPS Rp223,17 yang berada di atas EPS Rp176,27. Kedua kondisi tersebut tidak cukup untuk langsung menyimpulkan apakah saham TLKM menarik atau tidak, tetapi dapat menjadi titik awal untuk memeriksa laporan keuangan dan perkembangan bisnis terbaru.
Investor juga perlu mempertimbangkan bahwa return saham pada kuartal ketiga 2026 justru berada di sekitar -2,6% meskipun dividend yield tercatat hampir 10%. Ini menunjukkan bahwa dividen dan pergerakan harga perlu dipertimbangkan secara bersamaan ketika menilai potensi hasil investasi.
Setelah memahami profil bisnis, valuasi, profitabilitas, dan dividen TLKM, investor dapat memasukkannya ke dalam daftar pantauan dan mengikuti perubahan datanya secara berkala melalui Makmur.
Dividend yield 9,66% memang menjadi salah satu angka yang patut diperhatikan. Namun, OPM -9,92%, DPS Rp223,17 yang lebih tinggi daripada EPS Rp176,27, serta return kuartal ketiga sekitar -2,6% menunjukkan bahwa analisis TLKM membutuhkan lebih dari sekadar melihat besarnya dividen.
Dengan membaca dividen, profitabilitas, valuasi, dan pergerakan harga secara bersamaan, investor dapat menyusun pertimbangan yang lebih lengkap sebelum bertransaksi. Makmur dapat digunakan untuk membantu memantau saham TLKM dan data yang menyertainya sesuai dengan rencana investasi masing-masing.