Ketika kepintaran tumbuh subur, tetapi kebenaran justru semakin kabur.
Oleh: Sanusi A. Saman
(Ketua Dewan Da’wah Aceh Timur)
Ilmu sejatinya adalah cahaya yang menerangi kegelapan, kunci yang membuka tabir ketidaktahuan, serta kompas yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam perjalanan hidupnya.
Dengan ilmu, sesuatu yang samar menjadi terang, yang bengkok diluruskan, yang keliru diperbaiki, dan yang salah diarahkan menuju kebenaran.
Setidaknya, begitulah ilmu seharusnya bekerja dalam kehidupan manusia.
Namun, ketika kita memperhatikan dinamika kehidupan akhir-akhir ini, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama, mengapa semakin banyak orang pintar, tetapi semakin sulit menemukan orang yang benar.
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan ilmu, apalagi menafikan pentingnya pendidikan. Sebaliknya, pertanyaan ini justru lahir dari kegelisahan terhadap makna ilmu yang seolah-olah mengalami pergeseran. Ilmu yang semestinya menjadi jalan menuju kebenaran, dalam praktiknya terkadang justru digunakan untuk menyamarkan kesalahan.
Kepintaran yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan, tidak jarang berubah menjadi kecerdikan untuk mencari pembenaran.
Ada apa dengan ilmu kita,
Ilmu yang Kehilangan Arah.
Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan ilmu. Yang patut kita persoalkan adalah cara manusia memahami, memanfaatkan, dan menempatkan ilmu dalam kehidupannya.
Ilmu pada hakikatnya memberikan kemampuan kepada manusia untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam. Akan tetapi, memahami belum tentu berarti menghayati, sebagaimana mengetahui belum tentu berarti melaksanakan.
Seseorang bisa saja mengetahui bahwa kejujuran adalah kebaikan, tetapi tetap memilih kebohongan ketika kejujuran dianggap merugikan dirinya.
Seseorang bisa memahami bahwa keadilan harus ditegakkan, tetapi memilih berpihak ketika kepentingan pribadi atau kelompoknya terancam. Bahkan, seseorang dapat berbicara panjang lebar tentang moralitas, sementara perilakunya justru bertentangan dengan nilai-nilai moral yang disampaikannya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara orang yang memiliki ilmu dan orang yang menjadikan ilmu sebagai pedoman hidup.
Orang yang berilmu semestinya tidak sekadar mampu menjelaskan kebenaran, tetapi juga berani berdiri di pihak kebenaran. Sebab, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya terletak pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga pada seberapa jauh pengetahuan itu membentuk cara berpikir, sikap, dan perilaku seseorang.
Ilmu yang hanya memenuhi pikiran, tetapi tidak menyentuh hati dan perilaku, berisiko melahirkan manusia yang cerdas dalam berpikir, tetapi miskin dalam kebijaksanaan.
Binatang Pun Dapat Dilatih, Lalu Mengapa Manusia Justru Menyimpang.
Cobalah kita merenungkan sebuah perumpamaan sederhana.
Seekor binatang yang dilatih dengan metode yang tepat dapat mengenali perintah, membedakan isyarat, dan melakukan tindakan tertentu sesuai dengan apa yang diajarkan kepadanya. Ia mungkin tidak memahami nilai moral sebagaimana manusia memahaminya, tetapi proses latihan menunjukkan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui pembiasaan.
Lalu, bagaimana dengan manusia yang dianugerahi akal, kemampuan berpikir, kesadaran moral, dan kesempatan memperoleh pendidikan.
Mengapa manusia yang telah belajar bertahun-tahun, membaca begitu banyak buku, menyandang berbagai gelar akademik, bahkan menguasai beragam disiplin ilmu, terkadang justru menggunakan kepintarannya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai kebenaran.
Tentu, perumpamaan ini bukan untuk menyamakan manusia dengan binatang. Justru sebaliknya, ia menjadi cermin untuk mengingatkan kita bahwa keunggulan manusia tidak cukup dibuktikan dengan kemampuan berpikir, melainkan harus tercermin dalam kemampuan membedakan yang baik dan buruk, serta kesediaan memilih yang benar meskipun pilihan itu tidak menguntungkan dirinya.
Sebab, kepintaran adalah kemampuan menemukan jalan, sedangkan kebijaksanaan adalah kemampuan memastikan bahwa jalan yang ditempuh memang benar.
Tanpa kebijaksanaan, kecerdasan dapat kehilangan arah. Bahkan, semakin tinggi kecerdasan seseorang, semakin besar pula kemampuannya untuk menyusun alasan, memengaruhi orang lain, dan membungkus kepentingan pribadi dengan kata-kata yang tampak benar.
Ketika Kebenaran Hanya Menjadi Umpan
Salah satu gejala yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kebenaran tidak lagi diperjuangkan sebagai tujuan, tetapi dipergunakan sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu.
Pada awalnya, seseorang berbicara tentang keadilan. Ia mengkritik ketidakjujuran, menentang penyimpangan, dan mengajak orang lain berdiri di pihak yang benar. Kata-katanya terdengar meyakinkan, argumentasinya tersusun rapi, bahkan keberaniannya memperoleh simpati banyak orang.
Namun, ketika kesempatan datang dan kepentingan pribadinya mulai bermain, arah perjuangan itu perlahan berubah. Prinsip yang dahulu dibela mulai ditawar. Kebenaran yang dahulu diagungkan mulai disesuaikan. Kesalahan yang dahulu dikecam mulai dicari pembenarannya.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan lagi keteguhan prinsip, melainkan kelihaian menyusun siasat.
Hari ini ia berbicara tentang kejujuran, esok ia mencari alasan untuk membenarkan ketidakjujuran. Hari ini ia mengkritik penyalahgunaan kekuasaan, esok ia membela penyimpangan ketika dilakukan oleh kelompoknya sendiri. Hari ini ia meminta orang lain bersikap terbuka, esok ia menyembunyikan fakta yang tidak menguntungkan dirinya.
Inilah keadaan ketika kebenaran hanya menjadi pintu masuk menuju kepentingan yang tidak benar. Kebenaran dipakai sebagai umpan, kepercayaan dijadikan modal, dan ilmu dijadikan alat untuk menyusun pembenaran.
Lebih menyedihkan lagi, kemampuan berbicara yang seharusnya membantu menjelaskan persoalan justru digunakan untuk mengaburkan fakta. Kepintaran yang seharusnya menyelesaikan masalah malah dipakai untuk menghindari tanggung jawab.
Akhirnya, seseorang tidak lagi sibuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Apa yang benar, Ia justru sibuk mencari jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana caranya agar saya tetap dianggap benar”.
Dua pertanyaan ini tampak serupa, tetapi sesungguhnya membawa manusia ke arah yang sangat berbeda.
Yang pertama melahirkan kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan. Yang kedua melahirkan kesombongan untuk mempertahankan pembenaran.
Pintar Bicara, Pintar Bersiasat, tetapi Kehilangan Kejujuran
Kita hidup pada zaman ketika kemampuan berbicara dapat membentuk opini, menggerakkan massa, dan memengaruhi cara orang memandang suatu persoalan.
Dalam keadaan tertentu, orang yang pandai berbicara bahkan lebih mudah dipercaya daripada orang yang sungguh-sungguh bekerja dalam diam.
Padahal, kefasihan berbicara tidak selalu menjadi bukti kebenaran. Argumentasi yang tersusun rapi tidak otomatis mencerminkan ketulusan. Gelar akademik tidak dengan sendirinya menjamin integritas, sebagaimana jabatan tinggi tidak selalu menunjukkan keluhuran budi.
Orang yang cerdas dapat menggunakan pengetahuannya untuk menjelaskan kebenaran, tetapi dapat pula memanfaatkannya untuk menyembunyikan fakta.
Orang yang memahami aturan dapat membantu menegakkan keadilan, tetapi juga bisa mencari celah untuk menghindari tanggung jawab. Orang yang menguasai bahasa dapat menyampaikan pesan yang mencerahkan, tetapi dapat pula merangkai kalimat yang menyesatkan.
Persoalannya bukan pada kemampuan itu sendiri, melainkan pada nilai yang mengendalikan penggunaannya.
Pisau dapat digunakan untuk mengolah makanan, tetapi dapat pula melukai.
Demikian pula ilmu ia dapat menjadi sarana membangun peradaban, tetapi jika dilepaskan dari tanggung jawab moral, ia berpotensi digunakan untuk merugikan sesama.
Karena itu, kita tidak cukup hanya mengagumi orang yang pintar.
Kita juga perlu menguji apakah kepintarannya melahirkan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan. Sebab, masyarakat yang hanya mengagungkan kepintaran tanpa menguji integritas berisiko memberikan penghormatan kepada orang yang pandai meyakinkan, bukan kepada orang yang layak dipercaya.
Pendidikan yang Berhenti pada Kepala
Barangkali, sebagian persoalan ini berhubungan dengan cara kita memaknai pendidikan.
Selama ini, keberhasilan pendidikan sering kali mudah dikenali melalui angka, nilai, ijazah, gelar, peringkat, dan berbagai pencapaian akademik.
Semua itu penting sebagai bagian dari proses belajar. Namun, apakah semua ukuran tersebut cukup untuk memastikan bahwa seseorang telah menjadi manusia yang baik.
Kita patut bertanya apakah pendidikan hanya bertujuan membuat manusia mampu menjawab soal, atau juga membentuk keberanian untuk berkata jujur. Apakah sekolah hanya bertugas melahirkan orang yang pandai berkompetisi, atau juga manusia yang mampu menghargai keadilan.
Apakah keberhasilan belajar cukup dibuktikan dengan tingginya nilai ujian, atau harus pula terlihat dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan yang hanya menekankan penguasaan pengetahuan tanpa memberikan perhatian yang memadai terhadap pembentukan karakter akan menghadapi tantangan besar.
Sebab, seseorang dapat menguasai banyak teori tentang kebaikan tanpa pernah sungguh-sungguh menjadikannya kebiasaan.
Kita mengajarkan kejujuran, tetapi terkadang lebih sibuk mengejar hasil daripada menghargai proses. Kita mengajarkan keadilan, tetapi mungkin masih memberi perlakuan berbeda berdasarkan kedekatan.
Kita mengajarkan tanggung jawab, tetapi tidak selalu memberikan teladan ketika melakukan kesalahan.
Padahal, nilai-nilai kehidupan tidak cukup diwariskan melalui ceramah. Ia harus dihidupkan melalui keteladanan, pembiasaan, dan keberanian untuk konsisten.
Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan manusia yang tahu mana yang benar, melainkan juga manusia yang bersedia melakukan kebenaran ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Inilah pekerjaan rumah bagi keluarga, sekolah, lembaga pendidikan, pemimpin, dan seluruh elemen masyarakat. Kita perlu memastikan bahwa ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dihafal, tetapi tumbuh menjadi kesadaran yang membimbing tindakan.
Ilmu, Akhlak, dan Tanggung Jawab Moral
Dalam perspektif Islam, ilmu menempati kedudukan yang sangat mulia. Al-Qur’an bahkan menegaskan perbedaan kedudukan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 9
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.
Ayat ini memberikan penghargaan terhadap ilmu dan orang-orang yang berilmu. Namun, kemuliaan ilmu semestinya mendorong manusia semakin dekat kepada kebenaran, bukan semakin jauh darinya.
Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 5, Allah juga memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, tetapi tidak melaksanakan kandungannya, seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.
Perumpamaan ini mengandung pelajaran penting: memiliki atau membawa pengetahuan tidak sama dengan memahami dan mengamalkannya.
Seseorang bisa dekat dengan sumber ilmu, tetapi jauh dari nilai yang dikandungnya. Ia bisa menguasai banyak nasihat, tetapi gagal menjadikan nasihat itu sebagai pedoman bagi dirinya sendiri.
Di sinilah akhlak dan tanggung jawab moral menjadi penting. Ilmu memberi manusia kemampuan untuk mengetahui, sedangkan kesadaran moral menuntunnya untuk mempertimbangkan apa yang seharusnya dilakukan. Keduanya perlu berjalan bersama agar pengetahuan tidak berubah menjadi alat untuk memenuhi keinginan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula tanggung jawabnya. Ia seharusnya semakin berhati-hati dalam berbicara, semakin adil dalam menilai, semakin terbuka terhadap kritik, dan semakin berani mengakui kekeliruan.
Bukan sebaliknya semakin tinggi ilmunya, semakin sulit menerima nasihat semakin luas pengetahuannya, semakin lihai mencari pembenaran dan semakin banyak gelar yang disandangnya, semakin merasa dirinya tidak mungkin salah.
Ilmu yang benar seharusnya melahirkan kerendahan hati, sebab semakin dalam seseorang memahami luasnya pengetahuan, semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Lalu, Apa yang Salah dari Ilmu, Mungkin, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang salah dari ilmu, melainkan apa yang salah dari manusia ketika memperlakukan ilmu.
Ilmu tidak pernah menjanjikan bahwa setiap orang yang menguasainya akan otomatis menjadi jujur.
Pengetahuan dapat memperluas pemahaman, tetapi manusia tetap memiliki pilihan untuk menggunakannya bagi kebaikan atau kepentingan yang bertentangan dengan kebaikan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara kecerdasan, kebenaran, dan kebijaksanaan.
Kecerdasan membantu manusia memahami persoalan. Kebenaran menjadi ukuran bagi apa yang patut dipercaya dan diperjuangkan.
Kebijaksanaan membantu manusia menggunakan pengetahuan secara tepat, dengan mempertimbangkan nilai moral dan akibat tindakannya.
Ketiganya perlu berjalan beriringan.
Jika kecerdasan tumbuh tanpa kejujuran, ia dapat menjadi alat manipulasi. Jika pengetahuan berkembang tanpa tanggung jawab, ia dapat menjadi sarana penyalahgunaan. Jika kemampuan berbicara tidak disertai ketulusan, ia dapat menjelma menjadi panggung pembenaran.
Karena itu, yang perlu kita benahi bukan hanya cara memperoleh ilmu, tetapi juga cara membangun karakter manusia yang memilikinya.
Kita perlu melahirkan generasi yang tidak sekadar pandai berdebat, tetapi mampu mendengarkan. Bukan hanya berani mengkritik, tetapi juga bersedia dikritik. Bukan hanya mampu menemukan kesalahan orang lain, tetapi juga berani mengoreksi kesalahannya sendiri.
Sebab, salah satu tanda kematangan orang berilmu bukanlah kemampuannya memenangkan setiap perdebatan, melainkan kesediaannya menerima kebenaran meskipun kebenaran itu datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau bahkan orang yang selama ini tidak disukainya.
Orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran tidak akan merasa kehilangan kehormatan ketika mengakui kesalahan.
Sebaliknya, ia justru menunjukkan kehormatan karena tidak membiarkan harga dirinya mengalahkan kebenaran.
Sebagai penutup jangan Sampai Pintar Menjadi Kutukan
Pada akhirnya, ilmu seharusnya menjadi jalan pembebasan manusia dari kebodohan, ketidakadilan, dan kesesatan berpikir.
Ilmu semestinya membantu manusia melihat sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin ia lihat demi kepentingannya sendiri.
Kita tentu membutuhkan orang-orang pintar.
Masyarakat memerlukan ilmuwan, pendidik, pemimpin, ahli hukum, ulama, dan berbagai kalangan profesional yang memiliki kompetensi tinggi. Namun, kita juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki keberanian moral untuk menjaga agar kepintaran tidak kehilangan arah.
Sebab, kepintaran tanpa kejujuran dapat menyesatkan. Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat merugikan. Dan kefasihan berbicara tanpa ketulusan dapat membuat kebatilan terdengar seolah-olah kebenaran.
Jangan sampai manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar, tetapi tidak pernah benar-benar belajar menjadi manusia. Jangan sampai pendidikan melahirkan orang yang semakin pandai menyusun alasan, tetapi semakin kehilangan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar gelar hingga lupa memperbaiki akhlak, begitu bersemangat memenangkan perdebatan hingga lupa mencari kebenaran, dan begitu bangga menunjukkan kepintaran hingga lupa bahwa ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati. Sebab, tujuan ilmu bukanlah membuat seseorang selalu tampak benar, melainkan membantunya mengenali kebenaran.
Bukan membuat manusia semakin pandai membela diri, melainkan semakin berani mengoreksi diri dan bukan menjadikan seseorang unggul dalam mengalahkan orang lain, melainkan bijaksana dalam menaklukkan kesombongan dirinya sendiri.
Maka, jika hari ini kita menyaksikan semakin banyak orang pintar tetapi semakin sedikit yang benar, barangkali bukan ilmunya yang telah kehilangan cahaya. Bisa jadi, manusia yang memilikinya telah berpaling dari cahaya itu.
Ilmu tetaplah cahaya. Namun, cahaya hanya akan menerangi jalan bagi mereka yang bersedia membuka mata dan mengikutinya.
Pertanyaannya sekarang apakah kita sedang menggunakan ilmu untuk mencari kebenaran, atau justru menggunakan kepintaran untuk membuat kesalahan kita tampak seperti kebenaran, jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Wallahu a’lam.