Acara tersebut menghadirkan penulis buku, Haekal Afifa, sebagai pemateri utama, serta akademisi UNISAI Samalanga sekaligus Koordinator Peace Generation Aceh, Avicenna Al Maududdy, M.Hum, sebagai pemantik diskusi.
Ketua HABA Sagoe Kuta Radja, Muksalmina, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif independen masyarakat sipil.
“Diskusi ini kami inisiasikan sendiri tanpa afiliasi dengan lembaga pemerintah manapun. Ini murni gerakan dari hati nurani untuk merawat ingatan akan sosok Tgk. Hasan di Tiro sebagai tokoh revolusi Aceh,” ujarnya.
Dalam paparannya, Haekal Afifa menekankan bahwa gagasan Hasan di Tiro lebih bertumpu pada kesadaran politik dan pendidikan, bukan semata pada perjuangan bersenjata.
“Perjuangan 1976 bukanlah pemberontakan, terorisme, atau separatisme. Itu adalah upaya mendidik rakyat Aceh agar kembali mengenali jati dirinya. Pemikiran beliau adalah warisan sejarah yang harus dijaga bersama,” kata Haekal.
Sementara itu, Avicenna Al Maududdy menyoroti dimensi historis perjuangan Hasan di Tiro yang berakar pada fakta sejarah.
“Perjuangan beliau bukanlah sekadar pilihan, melainkan takdir sejarah. Aceh adalah kerajaan berdaulat yang diakui dunia, dan karenanya memiliki hak menentukan kemerdekaannya,” jelas Avicenna.
Diskusi berlangsung hingga larut malam dan diikuti mahasiswa, akademisi, pegiat literasi, hingga masyarakat umum. Suasana penuh keakraban dan refleksi itu menegaskan bahwa gagasan Tgk. Hasan di Tiro masih relevan untuk direnungkan, khususnya oleh generasi muda Aceh.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang bersama untuk memahami kembali warisan intelektual sang proklamator Aceh dan memperkuat kesadaran sejarah di tengah arus perubahan zaman.





