Award Winners

KAMMI Banda Aceh : Jangan Bahas Dapur MBG. Kami Nggak Respek!

Harian Reportase - Jumat, 10 Juli 2026
KAMMI Banda Aceh : Jangan Bahas Dapur MBG. Kami Nggak Respek!
  
Penulis
|
Bagikan:

Banda Aceh, HARIANREPORTASE.com – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banda Aceh menilai pembahasan mengenai bisnis dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kalangan sebagian pelaku usaha belakangan ini sudah bergeser dari semangat pengabdian menjadi pembicaraan yang minim empati terhadap kondisi masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Ketua KAMMI Banda Aceh, Ariska, didampingi Aulia Rahmi, yang membidangi advokasi dan isu-isu perempuan di KAMMI Komisariat Universitas Syiah Kuala (USK).

Ariska mengatakan dirinya prihatin karena diskusi yang berkembang justru berkisar pada besarnya keuntungan bisnis, jumlah dapur yang berhasil dikelola, hingga potensi ekspansi usaha.

“Di saat masyarakat sedang berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang semakin berat, kami justru mendengar sebagian orang membicarakan laba harian, omzet, bahkan berlomba menunjukkan berapa banyak dapur yang mereka miliki. Menurut kami, ini sudah tidak lagi mencerminkan empati terhadap situasi rakyat,” kata Ariska, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga:  Kementerian ATR/BPN Dukung Pembangunan Kawasan Transmigrasi dengan Sertipikasi Tanah dan Reforma Agraria

Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih jauh dari kata pulih. Banyak keluarga harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

Karena itu, Ariska meminta pemerintah lebih kreatif dalam menghadirkan kebijakan yang benar-benar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha produktif, dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.

“Kami berharap pemerintah tidak hanya terpaku pada satu program. Yang lebih dibutuhkan masyarakat hari ini adalah bagaimana ekonomi bergerak, daya beli meningkat, dan masyarakat memiliki sumber penghasilan yang layak. kita menuju masa masa paceklik yang berat. (Pemerintah) jangan nggak hadir,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan program MBG, Ariska menilai ruang kritik publik tidak lahir tanpa alasan. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul telah menjadi konsumsi publik, mulai dari dugaan persoalan tata kelola anggaran, proses penunjukan penyedia yang dinilai sarat kepentingan, hingga kualitas makanan yang kerap menuai keluhan.

Baca Juga:  PW IWO Aceh Desak Klarifikasi atas Pemberitaan di media keizalinnews.web.id yang Dinilai Tidak Sesuai Fakta

“Semua orang tahu program ini sejak awal tidak lepas dari berbagai persoalan. Isu tata kelola anggaran menjadi perhatian banyak pihak dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. Sekarang terbukti sebagian dapur MBG terpaksa berhenti beroperasi. Di sisi lain, masyarakat juga mendengar berbagai cerita mengenai proses memperoleh pengelolaan dapur yang dianggap penuh transaksi kepentingan. Akibatnya, ketika kualitas makanan dipersoalkan, publik menjadi semakin antipati,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap narasi yang dibangun terkait program tersebut.

“Kami terus terang tidak respek jika yang dipamerkan adalah keuntungan dari program yang sejak awal masih menyisakan banyak pertanyaan publik. Jangan lagi membanggakan berapa besar laba atau berapa banyak dapur yang dimiliki,” tegasnya.

Sebaliknya, Ariska mengaku lebih menghormati para pelaku usaha yang memilih menggunakan kemampuan dan sumber daya mereka untuk kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Baca Juga:  Rekrutmen Tamtama TNI AU, Pelamar Minimal Tamatan SMP

“Kami justru lebih salut kepada orang-orang yang bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun jembatan gantung di pedalaman, memperbaiki fasilitas umum, atau membantu masyarakat tanpa berharap keuntungan. Kontribusi seperti itu jauh lebih bermakna bagi rakyat Aceh,” ujarnya.

“Kami sampaikan salut kepada warga Nener Meriah yang bergotong royong membangun jembatan Enang-enang. Mereka pahlawan ditengah kemiskinan dan absennya pemerintah” ujarnya

Meski demikian, Ariska menegaskan pernyataannya tidak ditujukan kepada seluruh pelaku usaha yang terlibat sebagai mitra penyedia dalam program MBG.

“Kami tidak menggeneralisasi. Masih banyak mitra penyedia yang bekerja dengan baik, menjaga integritas, dan benar-benar ingin memberikan pelayanan terbaik. Kepada mereka yang tetap memegang etika dan tidak menjadikan program ini sebagai ajang pamer keuntungan, kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya,” tutupnya.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar