Award Winners

Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Lambatnya Pemulihan, Pemerintah Desa Akui Keterbatasan Alat

Harian Reportase - Senin, 2 Februari 2026
Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Lambatnya Pemulihan, Pemerintah Desa Akui Keterbatasan Alat
Kondisi rumah warga di Dusun Hasanah, Desa Kota Lintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (1/2/2026).  
Penulis
|
Bagikan:

Aceh Tamiang, HARIANREPORTASE.com – Enam puluh tujuh hari telah berlalu sejak banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 yang lalu. Namun hingga awal Februari 2026, dampak bencana tersebut masih jelas terlihat. Lumpur mengeras, akses jalan terputus, rumah-rumah rusak berat, dan ratusan warga belum bisa kembali ke tempat tinggalnya.

Kondisi ini ditemukan Tim Aliansi Pers Rehab Rekon saat melakukan kunjungan lapangan ke Aceh Tamiang, Minggu (1/2/2026).

Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung kondisi daerah dan masyarakat pascabanjir sekaligus melakukan pendalaman informasi melalui dialog dengan warga terdampak.

Berdasarkan amatan dilapangan, Jalan-jalan masih banyak yang tertimbun lumpur yang mulai mengeras, jalan tersebut membentang hingga puluhan kilometer di tengah kawasan permukiman padat penduduk yang sebagian besar telah ditinggalkan penghuninya.

Rumah-rumah kosong itu masih tergenang lumpur setinggi 30 hingga 50 sentimeter yang kini telah mengeras. Seorang warga setempat mengungkapkan alasan mengapa rumah-rumah tersebut belum dibersihkan.

“Gimana mau kami bersihkan, Pak. Jalan ke sana nggak bisa, air PDAM belum hidup, lumpurnya keras dan tebal. Mau dibuang ke mana? Kami berharap ada bantuan beko untuk membersihkan jalan dan saluran air,” ujarnya.

Baca Juga:  Rapim TNI-Polri, Prabowo: Rakyat yang Menggaji Saudara

Menurut warga, banyak pipa PDAM rusak parah dan saluran air masih tertimbun tanah liat hitam yang lengket. Warga hanya sesekali datang untuk melihat kondisi rumah dan membersihkan semampunya dengan peralatan seadanya, sembari berharap ada bantuan alat berat, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.

Tim kemudian menyusuri Gang Rambong 1, Dusun Hasanah, dengan panjang sekitar 200–300 meter. Di gang tersebut terdapat puluhan rumah, sebagian masih berdiri kokoh, namun tak sedikit yang mengalami rusak berat, bahkan bergeser dari posisi semula.

Lumpur di gang ini mencapai 50 sentimeter dan telah mengeras. Air bersih juga tidak tersedia. Banyak sumur warga tertimbun tanah, sementara sumur yang masih ada airnya berbau tidak sedap.

Zulkarnain, salah satu warga yang nekat membersihkan rumahnya sendiri. Meski bagian dalam rumah sudah bersih dari lumpur, kondisi jalan di depan rumah masih lebih tinggi dari teras.

“Kalau hujan turun, lumpur di jalan bisa masuk lagi ke rumah. Air nggak tahu mau mengalir ke mana,” ujarnya.

Zulkarnain mengaku telah menyampaikan kebutuhan alat berat kepada datok (kepala desa), BPBD, hingga Dinas Sosial, namun belum mendapatkan tanggapan.

Baca Juga:  Tujuh ASN Terjaring Razia Satpol PP dan WH Aceh saat Nongkrong di Warkop pada Jam Kerja

“Pemulihannya memang sangat lamban, sudah dua bulan lebih masih seperti ini, kami pun sudah pasrah,” ujarnya

Warga lain, Maimunah, memilih mengungsi ke rumah anaknya. Hingga kini ia belum bisa kembali ke rumah karena akses jalan tertutup lumpur keras.

“Tidak bisa pulang karena jalan belum bisa dilewati, rumah juga masih tertimbun tanah,” katanya.

Ia berharap pemerintah desa segera membantu pembersihan jalan agar warga bisa kembali, apalagi menjelang bulan puasa.

Penelusuran dilanjutkan ke Dusun Al Ihsan, salah satu titik terparah terdampak banjir bandang. Sekitar 500 rumah di kawasan ini rusak berat akibat hantaman balok-balok besar yang terbawa arus dari lereng gunung.

Seorang warga Lorong 1, Ali Ardi, mengungkapkan bahwa meski sebagian rumah terlihat masih berdiri, namun kondisinya tidak layak huni.

“Rumah disini hancur semua, jikapun ada yang masih berdiri, namun dalamnya hancur semua. Ada yang miring, retak dan bergeser, tidak berani ditempati, banyak warga masih tinggal di tenda-tenda, karena rumah dan pekerjaan sudah hilang,” ujarnya.

Selain kerusakan rumah, kondisi lingkungan juga memprihatinkan. Jalan-jalan dipenuhi debu tebal. Di Jalan Perbatasan Dusun Ar-Rahman, jarak pandang hanya sekitar satu meter ketika kendaraan melintas akibat debu beterbangan.

Baca Juga:  Kepala BKN: Semua Honorer yang Terdata Tidak Boleh Dirumahkan Walau Ada Efisiensi Anggaran

Dikonfirmasi terpisah, Datok Desa Kota Lintang, Fadil, membenarkan bahwa masih banyak warganya belum mampu membersihkan rumah secara mandiri akibat tebalnya lumpur pascabanjir.

“Kami juga mengalami kesulitan membersihkan jalan lingkungan karena membutuhkan alat berat,” kata Fadil.

Menurutnya, kebutuhan mendesak saat ini adalah ketersediaan ekskavator kecil dan mobil dump truck untuk mengangkut lumpur, serta pembangunan sumur bor guna memenuhi kebutuhan air bersih warga.

“Jika jalan lingkungan dapat dibersihkan, warga yang rumahnya tidak rusak parah bisa kembali menempati rumahnya dan mulai beraktivitas, sehingga pemulihan ekonomi dapat berjalan secara bertahap,” ujarnya.

Fadil juga berharap adanya tambahan bantuan bahan pangan, terutama menjelang bulan Ramadan, mengingat persediaan kebutuhan pokok warga semakin menipis.

Terkait keluhan warga mengenai minimnya bantuan dan lambatnya pemulihan pascabanjir, redaksi telah berupaya mengonfirmasi BPBD serta Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi terkait progres penanganan, distribusi bantuan, maupun rencana pengerahan alat berat ke wilayah terdampak.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar