Trump berencana untuk memindahkan seluruh penduduk Gaza dari wilayah itu ke wilayah yang direncanakan, meliputi Mesir, Yordania, hingga bahkan Maroko dan Somaliland
HARIANREPORTASE.com — Setelah dunia merasakan sedikit ketenangan, terutama pasca proses gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, harapan perdamaian di Gaza dan seluruh Palestina nampaknya masih jauh dari kenyataan.
Di tengah situasi yang rapuh, Israel masih menuntut agar seluruh kekuatan Hamas dapat segera hengkang dari seluruh wilayah Palestina. Pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan setelah gencatan senjata usai, hingga siapakah yang akan memimpin Gaza setelah proses gencatan senjata, masih menjadi sebuah pertanyaan yang begitu sensitif serta rawan menyulut kedua pihak untuk berada dalam konflik kembali.
Kondisi yang sudah kompleks seperti ini, semakin diperkeruh dengan rencana Trump yang baru saja dilantik kembali sebagai presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
Trump berencana untuk memindahkan seluruh penduduk Gaza dari wilayah itu ke wilayah yang direncanakan, meliputi Mesir, Yordania, hingga bahkan Maroko dan Somaliland.
Selain berencana merelokasikan seluruh penduduk Gaza dari wilayahnya, Trump juga berniat mengambil alih dan mengendalikan wilayah Gaza setelah perang. Dalam pernyataannya, Trump mencetuskan “kepemilikan jangka panjang” AS atas Jalur Gaza.
Dia dengan mudah menyebut AS akan meratakan Jalur Gaza dan membersihkan semua bangunan yang hancur di sana untuk menciptakan pembangunan ekonomi dan menciptakan ribuan lapangan kerja.
Rencana ini sontak mendapatkan kecaman dari berbagai kelompok, baik Otoritas Palestina di bawah Fatah, maupun Hamas yang telah mengendalikan Jalur Gaza sejak 2007 lalu. Seluruhnya menolak rencana Trump yang terkesan mengusir rakyat Palestina dari wilayah mereka. Beberapa negara tetangga yang sebelumnya diharapkan dapat menjadi tempat relokasi sementara warga Gaza, seperti Mesir dan Yordania, juga turut menolak rencana ini.
Meski demikian, Trump yang dikenal keras kepala seperti sebelumnya tetap bersikeras memaksakan kehendak politiknya. Dalam sebuah pernyataannya di hadapan para wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Jum’at (13/1/2025), Trump menyatakan, “Mereka akan melakukannya. Kita telah melakukan banyak hal untuk mereka, dan mereka akan melakukannya.”
Israel sebagai salah satu sekutu Amerika Serikat yang terlibat langsung dalam konflik ini beberapa waktu yang lalu, juga turut mendukung rencana “gila” Trump ini. Dilansir dari Times of Israel, Menteri Pertahanan Israel, Katz, dikabarkan telah menemui Kepala Staf IDF Letjen Herzi Halevi dan beberapa perwira tinggi lainnya untuk menginstruksikan persiapan rencana yang memungkinkan setiap penduduk Gaza untuk dapat berangkat dari Gaza.
Trump & Kegilaannya
Hampir tak ada kata-kata yang mampu mewakili keheranan kami akan sosok pria yang hampir berumur seabad ini, melainkan dua kata di atas. Mulai dari rencana relokasi penduduk Gaza hingga pendudukan Amerika Serikat di wilayah tersebut, merupakan hal yang sebelumnya sama sekali tak pernah terpikirkan oleh siapapun, bahkan mungkin oleh Biden sendiri yang pernah menjadi rival Trump dalam dua Pilpres Amerika kebelakang.
Kebijakan-kebijakan kontroversial Trump tidak baru muncul pertama kali ini saja, mulai dari periode pertamanya hingga saat ini, Trump seringkali mengeluarkan berbagai kebijakan yang memicu perdebatan yang tajam.
Mulai dari pengakuan Jerusalem sebagai Ibukota Israel pada 2018 lalu, hingga rencana Trump dalam perdamaian di Timur Tengah pada tahun 2020 silam, yang dikenal sebagai “Deal of the Century”, telah banyak dikritik karena dianggap tidak adil bagi rakyat Palestina.
Ambisi Trump di Gaza
Trump berambisi untuk mengambil keuntungan dari rekonstruksi wilayah Gaza. Membangun Gaza kemudian menguasainya merupakan hal gila yang sedang direncanakan Trump. Sebagai mantan pengembang real estate, Trump tentu sangat paham potensi ekonomi yang dapat digarap di wilayah ini. Setidaknya, Trump telah menyampaikan ketertarikannya berkali-kali akan keindahan pantai Gaza saat perang Hamas-Israel masih berkecamuk.
Dalam wawancara dengan salah seorang penyiar radio terkenal di Amerika Serikat, Hugh Hewitt, yang disiarkan Senin (7/10/2024), Trump mengatakan Gaza berada di lokasi terbaik di tepi Laut Mediterania.
“Mereka tidak pernah memanfaatkannya. Anda tahu, sebagai developer, itu bisa menjadi tempat terindah -cuacanya, airnya, iklim, semuanya- itu bisa sangat indah,” kata Trump.
Selain itu, rencana Trump yang terkesan sangat menguntungkan Israel ini tentunya dapat mengamankan posisi politiknya. Mengamankan kepentingan Israel sama dengan mengamankan posisi Trump selama lima tahun yang akan datang. Lobi Yahudi Amerika Serikat, atau yang dikenal dengan Komite Urusan Publik Israel-Amerika (AIPAC), merupakan salah satu kelompok lobi Yahudi terkuat yang bertujuan melawan reaksi keras internasional atas Israel serta menjaga keberpihakan pemerintah Amerika Serikat terhadap Israel.
“Jaringan kelompok itu juga menargetkan serta menghukum setiap kandidat yang kritis terhadap Israel,” kata Walter Hixson, seorang pensiunan profesor sejarah dan penulis terkemuka Amerika.
Langkah Trump Melawan Konvensi Internasional
Langkah pemindahan penduduk seperti ini dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis (ethnic cleansing). Hal ini disebutkan di dalam Konvensi Genosida (1948), Pasal II; bahwa genosida berarti setiap tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian, kelompok nasional, etnis, ras, atau agama tertentu, termasuk:
a) Pembunuhan anggota kelompok tersebut;
b) Perusakan serius terhadap integritas fisik atau mental anggota kelompok tersebut;
c) Pemberian kondisi hidup yang dirancang untuk menyebabkan penghancuran fisik seluruhnya atau sebagian kelompok tersebut.
Rencana Trump Sangat Berbahaya
Trump mungkin saja akan tetap bersikukuh menjalankan rencananya itu, meski ia akan berhadapan dengan kecaman komunitas internasional. Trump yang seringkali membawa slogan “Make America Great Again” tentu paham akan segala konsekuensi yang akan didapatinya untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Apalagi bila hal itu bersangkutan dengan kepentingan teritorial Amerika Serikat dan pemimpinnya. Hal ini turut memungkinkan terulangnya pelanggaran hukum internasional seperti yang dilakukan sebelumnya oleh Amerika Serikat terhadap Irak di bawah pemerintahan Bush pada awal abad 21 silam.
Tidak Ada Kata Lain Selain Menolak
Gaza bukan sekadar lokasi untuk dieksploitasi; ia adalah rumah bagi jutaan orang yang telah menderita akibat konflik berkepanjangan. Penjajahan yang dilakukan atas nama pembangunan hanya akan memperparah penderitaan rakyat Palestina.
Dunia Muslim harus bersatu menolak rencana ini dan mendukung hak-hak rakyat Palestina melalui langkah-langkah konkret. Jika tidak, rencana ini akan memicu lebih banyak konflik dan kekerasan di masa depan. Solidaritas Muslim se-dunia diperlukan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar rakyat Palestina dihormati dan diperjuangkan.
Bila di tahun 1969, negara-negara Muslim memutuskan bersatu dan menyerukan langkah konkrit dengan membentuk OKI (Organisasi Kerjasama Islam) saat menanggapi pembakaran Masjid Al-Qibli di dalam kompleks Al Aqsha, yang dilakukan oleh salah satu ekstremis Yahudi yang mengalami gangguan jiwa, maka pernyataan Trump yang berniat merelokasi rakyat Palestina lebih layak mendapatkan tanggapan yang lebih serius dan keras dari negara-negara Muslim. Hal ini kemudian hanya dapat diwujudkan dengan memperjuangkan langkah-langkah konkret yang bertujuan mengakhiri penjajahan Israel dan segala kekuatan asing lainnya di atas bumi Palestina.
Dengan tegas, kami menuntut agar suara rakyat Palestina didengar dan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri diakui. Tanpa penghormatan terhadap hak asasi manusia, perdamaian yang adil dan berkelanjutan tidak akan pernah tercapai.
Kairo, 7 Februari 2025.