HARIANREPORTASE.com — Gaza hanya secuil kisah kelam, tentang bencana kemanusiaan yang dibiarkan terjadi diabad yang konon disebut sebagai abad modernitas. Hampir puluhan ribu manusia sipil tak berdosa telah menjadi korban konflik ini, ratusan ribu lainnya hilang tak berjejak dibalik puing-puing reruntuhan gaza yang setiap hari dibombardir tanpa henti sejak tiga tahun yang lalu. Sedang dua juta manusia lainnya yang tersisa, kini dibiarkan bertahan hidup atau bahkan perlahan-lahan mati dibalik pengepungan tanpa bantuan yang memadai.
Dunia mengecam, ICJ telah memutuskan, PBB senantiasa menyerukan perdamaian, namun tetap tak ada yang bisa menghentikan krisis ini. Komunitas internasional bahkan lembaga tertinggi bangsa-bangsa sendiri, tampak tak berdaya. Kejahatan Israel nyatanya dapat terus berlangsung dengan aman tanpa adanya tekananan yang signifikan.
Kekejaman Israel sudah berada diluar batas hukum kemanusiaan, namun tak ada satu negarapun yang berani melakukan tindakan yang tegas dan nyata. Tiga tahun sudah umat manusia menyaksikan kebisuan berbagai kekuatan dunia yang disebut-sebut selama ini sebagai polisi dunia. Nyatanya, tindakan yang tidak adil ini seolah dibiarkan terjadi dan kekuatan yang sering memposisikan dirinya sebagai penjaga perdamian dunia malah turut andil dalam genosida ini.
Dalam menghadapi kenyataan ini, kepada kekuatan manakah harapan keadilan terhadap para korban dapat diberikan? setiap kekuatan didunia kini seolah tersandera oleh berbagai kepentingan yang ada. Masing-masing hanya mampu mengeluarkan kecaman atas ketidak adilan ini, tetapi tak ada yang berani bertindak tegas.
Dunia muslim dalam permasalahan ini, merupakan salah satu korban utama yang terus menerus menjadi korban ketidak adilan dalam tatanan dunia modern. Bencana kemanusiaan yang menimpa Gaza hanya secuil kisah kelam, dunia sejak dulu diam. Dunia diam, ketika Amerika dan sekutunya melakukan invasi secara semena-mena terhadap Iraq, yang membuat hampir 1 juta warga sipil Iraq menjadi korban.
Dunia diam, saat 80.000 warga muslim bosnia terbunuh ditangan tentara Serbia. Dunia diam, saat AS menginvasi Afghanistan yang membuat sekitar 241,000 warga sipil tak berdosa menjadi korban. Saat nyawa 25,000 warga sipil tak berdosa di Libya jatuh akibat intervensi dalam negeri yang dilakukan oleh AS dan sekutunya, dunia juga tak pernah bertindak. Disaat yang sama kekacauan juga terjadi di Suriah akibat perang proksi kekuatan barat yang mengorbankan 600,000 warga sipil Suriah terbunuh.
Berbagai standar ganda diterapkan oleh kekuatan barat demi mengatur dunia sesuai kehendak mereka. Saat Israel dibiarkan melakukan pengayaan atas kekuatan nuklir mereka dengan aman, kedaulatan Iran harus terus diganggu oleh barat karena mereka menuntut hak yang sama. Barat bersuara lantang dan bertindak tegas terhadap Rusia yang berusaha merebut kedaulatan Ukraina, namun diam saat sekutu mereka dikawasan melakukan genosida terhadap penduduk Palestina.
Tak ada kekuatan lainnya yang menjadi penyeimbang, merupakan salah satu penyebab dari berlanjutnya ketidak adilan yang sedang berlangsung diatas panggung politik global. Setelah berakhirnya perang dingin dengan runtuhnya blok timur; Uni Soviet. Barat sejak itu dengan bebas memonopoli setiap pergerakan catur politik dunia. Dalam hal ini, dunia muslim harus mulai sadar dan berusaha mengambil peran kekosongan ini demi menjaga kepentingan dan hak-hak mereka. Sejak jatuhnya kekaisaran Utsmaniyah pada akhir perang dunia I, tak pernah ada lagi kekuatan muslim yang memiliki daya tawar kuat dalam melawan hegemoni barat.
Dunia muslim harus bersatu dan mandiri, Sejarah telah menyaksikan bahwa jauh sebelum Utsmaniyyah berdiri dan runtuh, berbagai kekuatan muslim silih berganti memainkan peran dan tak pernah absen dalam panggung percaturan politik dunia. Saat dunia muslim mulai disibukkan dengan berbagai konflik dan kepentingan internalnya pasca perang dunia I; kemiskinan, kelemahan, ketidakberdayaan hingga ketertinggalan merupakan hal yang kini tak dapat dipisahkan dari dunia muslim.
Bangkit merupakan pilihan, sedangkan diam menerima keadaan tak akan merubah apapun. Sudah saatnya dunia muslim mulai menghidupkan kembali mesin-mesinnya yang selama ini hanya dikerahkan untuk menyaingi sesamanya, dan mulai menatap kedepan dan melakukan berbagai inovasi dalam memajukan ummat. Muslim merupakan umat yang memiliki tanggung jawab ilahiyyat dalam menjaga perdamaian dan keseimbangan bumi. Allah SWT berfirman;
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Ali ‘Imran: 110)
Ibnu Jarir pernah meriwayatkan sebuah kisah yang berasal dari Abu Qatadah, bahwa ketika Khalifah Umar ibnul Khaththab ra. sedang melakukan ibadah haji, beliau mendapati adanya gejala hidup santai pada kaum muslimin disaat itu. Lalu Umar membacakan ayat ini, “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (Ali lmran: 110).
Kemudian Khalifah berkata, “Barang siapa yang ingin dirinya termasuk golongan umat ini, hendaklah ia menunaikan syarat yang ditetapkan oleh Allah di dalamnya.”
Wallahu A’lam.
Kairo, 30 Juli 2025