“Khalifah Umar bin Khattab setiap malam keluar berkeliling atau meronda kampung-kampung atau tempat-tempat dimana para penduduk berdomisili. Pada suatu malam beliau melihat seekor anak kambing yang berkurap sehingga beliau merawat anak kambing tersebut. Baginda berkata, “kalau saya biarkan anak kambing ini di tepi parit ini dan tidak mau merawatnya, sungguh aku takut nanti di hari kiamat akan diminta pertanggungjawaban.” (Lihat Counsel for Kings, 17-18; Alchemy of Happiness, 439).
Bagi yang merasa dirinya seorang yang telah dimanahkan tugas sebagai pemimpin, apalagi pemimpin keluarga, pemimpin masyarakat, pemimpin bangsa dan pemimpin negara, maka kepemimpinan Umar Bin Khattab wajib diejawantahkan dalam sistim kepemimpinannya karena inilah seorang pemimpin yang didalam Islam hampir tidak ada yang menafikan sistim kepemimpinan beliau.
Bahkan para non-muslim pun banyak yang mempelajari dan mengikuti langkah-langkah kepemimpinan beliau.
Sungguh merasa malu dan terhina sebagai seorang yang mengaku muslim, tidak pernah mempelajari bagaimana Umar bin Khattab memimpin keluarga, memimpin masyarakat, memimpin agama (peribadatan), memimpin perang dan memimpin bangsa dan negara sekalipun.
Jika memang belum mempelajarinya, maka silakan tekuni kepemimpinan beliau, jika memang enggan mengikuti cara-cara yang telah beliau jalankan, maka kembalikan komando kepemimpinan kepada orang lain yang lebih bertanggung jawab dan jauh dari sifat munafik.
Memimpin tidak seperti memimpin orang-orang terbelenggu di dalam lock-up, dalam penjara, dalam sel tahanan, yang mereka itu semua sudah terbelenggu jiwa dan raga dan menuruti apa yang dikatakan oleh penjaganya.
Kalau model kepemimpinan seperti ini, anak umur tujuh tahun bisa memimpinnnya dengan jalan memberikannya cambuk dan cemeti untuk menggembala orang-orang tak berdaya.
Manakala kalau kita memimpin makhluk hidup yang memiliki ragam pemikiran dan latar belakang pendidikan serta keinginan, maka hentikan melakukan pemaksaan kepada orang-orang, rakyat dan bawahan saudara dengan apa yang ada dalam benak saudara dan kehendak kroni-kroni anda.
Sebelum anda menjadi pemimpin, pernahkah anda berjanji kepada konstituen atau para rakyat jelata, maka tunaikan janji itu agar tidak dicap munafik, jangan memperkaya diri, memperkaya kroni, dan jangan memberi kebebasan kepada yang mau membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, sebab hisab Allah nanti di Hari Pembalasan, tidak ada yang mampu membela anda. Makanya kalau anda memimpin, lakukan dengan adil dan bijaksana agar bebas dari hisab Allah yang sangat teliti.
Pemimpin itu bukan duduk dan nongkrong di pendopo, bukan duduk di meuligoe, dan bukan duduk di istana saja, tetapi temuilah rakyatmu dan tanyakan apa keluh kesah mereka, bukan mengirim pasukan untuk menumpas mereka, kalau begini sifat pemimpin sama saja seperti Firaun, sama seperti Assisi, sama seperti Marcos, sama seperti Soeharto yang suka Menggebuk, dan sama seperti Idi Amin di Uganda, dan sama seperti …..
Seorang pemimpin akan semakin ketat hisabnya, berapa banyak hartanya, berapa lama ia memimpin, berapa isterinya, berapa anak-anak-nya, berapa kroninya, berapa dendayangnya, berapa banyak yang terbunuh selama masa kepemimpinannya, berapa banyak binatang yang mati karena tidak ada makanan dan minuman, berapa rumah hancur dan harta benda rakyat yang hilang karena bencana yang disebabkan oleh undangan para pemimpin seperti memberi izin atau menanda tangani surat untuk membabatan hutan, mengeruk gunung, sungai dan laut dan sebagainya.
Sebelum menghadapi audit atau hisab Allah, maka bertaubatlah dengan cara hengkang dari kursi kepemimpinan agar orang-orang lain yang punya hati yang jernih, pikiran yang luas penuh kasih sayang, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi keadilan akan menggantikan kita yang sangat bobrok ini.
Bertafakkurlah dengan memohon ampun kepada Allah karena keteledoran selama ini, karena kerakusan selama ini, karena keras kepala selama ini, dan karena keegoan selama ini.
Pertimbangkanlah orang-orang yang mengkritikmu, yang berseberangan pemikiran dengan-mu, dan yang kamu anggap mengacaukan kelezatanmu yang sedang memimpin.
Ketahuilah orang-orang yang selalu memberi khabar yang manis dan menggembirakanmu, tidak pernah menentangmu, tidak pernah menyalahkanmu walau itu memang salah, dan tidak pernah menegurmu dikala salah, dan tidak pernah membimbingmu dikala kamu sedang sesat jalan, mereka tidak berfungsi untuk menjadi advokat ketika menghadap Mahkamah Allah. Bahkan para punggawa itu saling melepaskan diri, Mereka tak ubahnya seperti setan yang lepas tangan terhadapkesalahan yang kita lakukan. Lihat bagaimana pengakuan setan nanti di hari kiamat: Dan mereka semua (di Padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap kehadhirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari Azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunya tempat untuk melarikan diri.” (Ibrahim: : 21).
Makanya kalau hendak menjadikan diri sebagai pemimpin, tanya dulu kepada diri sendiri, apakah dengan menjadi pemimpin hanya untuk memperkaya diri, untuk membunuh lawan-lawan politik kita, untuk memenjarakan lawan-lawan kita, untuk memakmurkan keluarga dan kroni-kroni kita saja, untuk menghancurkan negara, menghancurkan masyarakat, untuk menghancurkan adat istiadat dan budaya, untuk menghancurkan hukum, menyengsarakan rakyat, dan menghancurkan agama? Jika ini oreintasinya, maka tunggu saja azab Allah akan menimpa seluruh negara dan bangsa karena ulah para pemimpin. Pemimpin itu sebelah kakinya ke sorga, dan yang sebelah lagi ke neraka, tergantung nawaitunya mau kemana? Keadilan para pemimpin akan membawanya ke sorga, sebaliknya ketiraniannya dan kepongahannya, akan memperlebar pintu neraka untuk menyambutnya. Kita bisa memaksa rakyat jelata ini untuk mengikuti kita dan mematuhi kita karena kekuasaan yang ada di tangan kita, tetapi kita tidak dapat memaksa hati rakyat kita untuk mengakatakan bahwa kita benar. Firuan bisa memaksa rakyatnya untuk murtad, namun gagal memurtadkan isterinya—Asiah, dan mengakui Firaun sebagai Tuhan.
Penulis adalah Ketua Dewan Dakwah Islmiyah Indonesia Provinsi Aceh