Kota Sabang, Harian Reportase – Air kelapa yang selama ini kerap menjadi hasil samping dalam produksi Virgin Coconut Oil (VCO) kini mulai mendapat nilai baru. Di Gampong Batee Shoek, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, air kelapa tersebut diolah menjadi tiga produk pangan bernilai tambah, yaitu gula cair kelapa, kecap kelapa, dan kecap rempah kelapa.
Inovasi tersebut diperkenalkan Universitas Syiah Kuala (USK) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) yang didanai melalui PTNBH Universitas Syiah Kuala, pada 10 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di kediaman mitra pengabdian, Kelompok Tani Ingin Jaya A.R.A. Oils, Gampong Batee Shoek, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang. Pasted text
Program tersebut mengusung tema “Transformasi Limbah Industri VCO Menjadi Produk Pangan Bernilai Tambah Melalui Teknologi Tepat Guna untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat Sukamakmue Kota Sabang.”
Sebanyak 20 ibu rumah tangga mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pengenalan bahan baku, praktik pengolahan, penggunaan Teknologi Tepat Guna, hingga pengemasan produk. Pasted text
Air Kelapa Tidak Lagi Dipandang sebagai Limbah
Kelompok Tani Ingin Jaya A.R.A. Oils selama ini telah mengembangkan usaha berbasis kelapa, terutama produksi VCO. Namun, seperti industri pengolahan kelapa pada umumnya, proses tersebut juga menghasilkan bahan samping berupa ampas kelapa dan air kelapa.
Air kelapa menjadi salah satu persoalan karena belum seluruhnya dimanfaatkan. Jika dibiarkan, bahan organik tersebut mudah mengalami fermentasi dan dapat menimbulkan bau di lingkungan produksi. Kondisi inilah yang kemudian mendorong tim USK mengembangkan pendekatan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.
Ketua tim pengabdian, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., mengatakan pengembangan produk dari air kelapa merupakan bagian dari upaya memperluas pemanfaatan kelapa hingga seminimal mungkin menghasilkan limbah.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa air kelapa dari proses produksi VCO bukan sekadar sisa produksi. Bahan tersebut masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Melalui program ini, air kelapa kami olah menjadi gula cair, kecap kelapa, dan kecap rempah kelapa. Harapannya, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memperoleh alternatif sumber pendapatan baru,” kata Raida.
Menurut Raida, program tersebut dirancang sebagai bagian dari pengembangan konsep zero waste pada industri VCO, yakni memanfaatkan sebanyak mungkin bagian dan hasil samping kelapa menjadi produk yang masih mempunyai nilai guna dan nilai ekonomi.
Melanjutkan Inovasi dari Ampas Kelapa ke Air Kelapa
Program tahun 2026 merupakan kelanjutan dari kegiatan PKMBP-TTG yang telah dilakukan pada 2025. Pada tahun sebelumnya, tim USK telah mendampingi mitra mengolah ampas kelapa sisa produksi VCO menjadi tepung kelapa. Pasted text
Tahun ini, perhatian diarahkan pada pemanfaatan limbah cair berupa air kelapa.
Dengan skema tersebut, industri VCO yang dikembangkan A.R.A. Oils secara perlahan bergerak menuju pengolahan yang lebih terpadu. Daging kelapa menghasilkan VCO, ampasnya dapat dikembangkan menjadi tepung kelapa, sementara air kelapanya diolah menjadi berbagai produk pangan.
Pendekatan ini sekaligus memperpanjang rantai nilai komoditas kelapa. Bahan yang sebelumnya tidak memberikan nilai ekonomi kini berpotensi menjadi produk baru yang dapat dipasarkan.
Tiga Produk Baru untuk A.R.A. Oils
Ketua Kelompok Tani Ingin Jaya A.R.A. Oils, Rita Trisanti, menyambut baik pengembangan tiga produk baru tersebut. Menurutnya, selama ini perhatian kelompok masih lebih banyak tertuju pada produksi VCO, sementara air kelapa belum dimanfaatkan secara optimal. Pasted text
“Setiap produksi VCO menghasilkan air kelapa dalam jumlah yang cukup banyak. Sebelumnya kami belum mengetahui bagaimana mengolahnya menjadi produk yang bisa dijual. Setelah mendapat pendampingan ini, ternyata air kelapa bisa dikembangkan menjadi gula cair dan beberapa jenis kecap. Bagi kami ini sangat menarik karena membuka peluang usaha baru bagi kelompok dan ibu-ibu di sekitar,” ujar Rita.
Ia berharap ketiga produk tersebut nantinya dapat terus dikembangkan, baik dari sisi rasa, kualitas, kemasan maupun pemasaran.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan. Setelah mengetahui prosesnya, kami ingin mencoba memproduksinya kembali secara bertahap. Harapannya produk ini nantinya bisa menjadi produk tambahan A.R.A. Oils dan dikenal oleh konsumen,” lanjutnya.
Teknologi Tepat Guna untuk Mendukung Produksi
Selain memberikan pelatihan, tim USK juga menyerahkan sejumlah perangkat Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada kelompok mitra.
Peralatan tersebut meliputi alat pengaduk atau kristalisator, food dehydrator, ayakan, alat penghalus bumbu, kompor gas, serta seperangkat alat untuk pembuatan kecap kelapa. Kelompok juga memperoleh perlengkapan pengemasan berupa botol ukuran 250 ml, 100 ml, dan 60 ml, label produk, serta plastik segel botol. Pasted text
Penggunaan TTG diarahkan untuk membantu kelompok beralih dari proses yang sepenuhnya manual menuju proses yang lebih efisien, higienis, dan konsisten.
Pelatihan dilakukan secara langsung agar peserta dapat memahami seluruh tahapan proses produksi, mulai dari persiapan bahan, pengolahan air kelapa, pencampuran rempah, pemasakan, penyaringan, pengentalan, pendinginan, hingga pengisian produk ke dalam kemasan.
Produk Harus Bernilai Ekonomi, Bukan Hanya Berhasil Dibuat
Anggota tim pengabdian, Dinaroe, SE., MBA., Ak., CA., ASEAN CPA, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari kemampuan masyarakat menghasilkan produk baru.
Menurutnya, produk perlu dikembangkan menjadi usaha yang memiliki perhitungan ekonomi yang jelas.
“Yang ingin dibangun bukan hanya kemampuan membuat gula cair atau kecap. Kelompok juga harus memahami berapa biaya produksinya, bagaimana menentukan harga jual, berapa keuntungan yang diperoleh, bagaimana memilih kemasan, serta bagaimana produk tersebut dipasarkan. Inovasi teknologi akan lebih bermanfaat apabila dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan,” kata Dinaroe.
Ia menambahkan, keterlibatan ibu rumah tangga memberikan peluang besar bagi pengembangan usaha berbasis rumah tangga karena proses produksi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kapasitas kelompok.
Diversifikasi produk juga memungkinkan A.R.A. Oils tidak hanya mengandalkan VCO sebagai produk utama, tetapi mulai memiliki pilihan produk lain yang dapat menyasar konsumen berbeda.
Dukungan Pemerintah Gampong
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Keuchik Gampong Batee Shoek, Ridwan Nasution.
Ia menilai potensi kelapa yang tersedia di wilayahnya perlu terus dikembangkan melalui inovasi yang dapat langsung diterapkan oleh masyarakat.
“Kelapa merupakan salah satu potensi yang dimiliki masyarakat kami. Kalau setiap bagian kelapa dapat dimanfaatkan dan menghasilkan produk, tentu manfaat ekonominya juga akan semakin besar. Kami berharap teknologi dan pengetahuan yang diberikan USK dapat terus digunakan oleh kelompok dan nantinya berkembang menjadi peluang usaha bagi masyarakat Gampong Batee Shoek,” ujar Ridwan.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah gampong, dan masyarakat menjadi penting agar inovasi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi terus berkembang hingga produk benar-benar memiliki pasar.
Libatkan Dosen, Teknisi, dan Mahasiswa
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc.; Dinaroe, SE., MBA., Ak., CA., ASEAN CPA; Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Arip Munawar, S.TP., M.Sc., IPU; dan Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc.
Kegiatan juga dihadiri Dr. Siti Mechram, S.TP., M.Sc., serta didukung teknisi Khairul Anwar, S.TP., M.T.
Mahasiswa turut terlibat dalam mendukung kegiatan di lapangan, yaitu mahasiswa KKN Tematik Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian USK, Fras Tafis, Arif Ramadhan, dan Zawil Qiram, serta mahasiswa Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam Roudzatul Jinan, S.TP.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transfer pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi kepada masyarakat.
Dari Zero Waste Menuju Ekonomi Sirkular
Pemanfaatan air kelapa menjadi gula cair, kecap kelapa, dan kecap rempah kelapa melengkapi langkah yang telah dimulai sebelumnya melalui pemanfaatan ampas kelapa menjadi tepung.
Dengan pendekatan tersebut, konsep zero waste dalam industri VCO tidak berhenti pada upaya mengurangi limbah, tetapi diarahkan untuk membangun sistem ekonomi yang lebih sirkular.
Bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dikembalikan ke dalam siklus produksi sebagai bahan baku produk lain. Pendekatan ini tidak hanya berpotensi mengurangi limbah organik, tetapi juga memperluas diversifikasi produk, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, dan membuka sumber pendapatan tambahan bagi kelompok masyarakat. Pasted text
Bagi Kelompok Tani Ingin Jaya A.R.A. Oils, perubahan tersebut dapat menjadi langkah awal menuju usaha kelapa yang lebih terintegrasi: VCO sebagai produk utama, tepung kelapa dari ampas, serta gula cair dan kecap dari air kelapa.
Melalui program PKMBP-TTG, USK berharap model tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal di Kota Sabang.
Pada akhirnya, inovasi yang dibangun bukan sekadar mengubah air kelapa menjadi produk baru, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap sisa produksi.
Sebab dalam industri kelapa, sesuatu yang semula dianggap limbah dapat menjadi awal dari nilai ekonomi yang baru.