Karakteristik Orang Bertaqwa

Harian Reportase - Kamis, 15 Juli 2021
Karakteristik Orang Bertaqwa
Ketua Dewan Dakwah Aceh, Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed. (Doc: AS/Harian Reportase).  Harian Reportase
Penulis
|
Editor

Oleh : Dr. Muhammad AR. M.Ed

Ada beberapa tanda atau karakteristik orang-orang yang bertaqwa sebagaimana yang telah kita ketahui baik menurut Hadis Rasulullah SAW ataupun menurut pendapat para sahabat dan para ulama. Memang tidak dinafikan bahwa shalat itu melahirkan orang-orang yang bertaqwa, puasa juga mempersiapkan orang-orang bertaqwa dan ini bisa dilihat setelah bulan Ramadhan selesai, zakat juga memproduksi orang-orang yang bertaqwa karena mereka ikhlas mengeluarkan zakat tanpa menipu sampai nisab dan haulnya, demikin pula haji mabrur akan pula menghasilkan ahli syurga karena ketaqwaannya. Kalau disiplin, ikhlas, dan tunduk kepada semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya, maka cap ketaqwaan akan kita peroleh.

Kita sanggup mengekang hawa nafsu selama sebulan penuh selama bulan Ramadhan, tidak mendatangi isteri-isteri kita di siang hari, meninggalkan makan dan minum di bulan ramadahan, tidak berkelahi dan membunuh, tidak berzina, tidak minum arak (khamar), tidak berjudi, tidak mencuri, tidak ada fitnah memfitnah, tidak ada gossip, tidak ada iri hati dan dengki, tidak ada adu domba, tidak menggunjing sesama Muslim, tidak memutuskan silaturrahmi sesama Muslim dan orang tua kita, tidak mencari-cari kesalahan saudara kita yang seiman dan seagama, tidak mempersulit urusan kaum Muslimin dan pelaksanaan syari’at Allah di muka bumi ini, dan tidak berfikir yang merusak serta mendatangkan malapetaka kepada umat Islam dan agama Allah. Jika kita sanggup mentaati semua perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya, maka insya Allah predikat taqwa akan kita gapai.

Ciri-ciri orang bertaqwa adalah paling tidak menurut Ali bin Abi Thalib adalah:
الخوف من الجاليل والعمل بالتنزيل والرضا بالقليل والاستعداد ليوم الرحيل

Artinya: Taqwa adalah takut kepada Allah, mengamalkan apa yang diturunkan (al-Qur’an), redha untuk mendapatkan sesuatu meskipun sedikit, dan bersiap-siap menghadapi hari keberangkatan (kematian).

Orang-orang yang taqwa perlu memperhatikan keempat hal sebagai berikut:

1. Dia harus takut kepada Allah dan ini dibuktikan lewat ketaatannya, ketundukannya kepada semua perintah Allah dan Rasul-Nya dan demikian pula dengan kesukarelaanya meninggalkan semua larangan Allah dan Rasul-Nya. Kita mengetahui bahwa mati itu sakit sekali tidak ada bandingannya ketika roh kita dicabut oleh malaikat maut. Kita mengakui bahwa azab kubur itu sangat dahsyat, kita tahu bahwa hiruk pikuknya hari kiamat tidak ada yang bisa peristiwa di bumi ini yang paling menyeramkan.

Baca Juga:  Ketidakadilan Tempatnya di Neraka

Oleh karena itu apakah kita semua sudah membekali diri dengan berapa kali kita telah mengkhatamkan al-Qur’an, berapa banyak sedekah yang telah kita salurkan, berapa banyak zakat yang kita keluarkan, bagaimana syahadat kita, bagaimana puasa kita, bagaimana shalat kita, bagaimana hajji kita, bagaimana hubungan kita terhadap sesama Muslim, bagaimana hak kita terhadap anak kita, terhadap guru kita, terhadap orang tua kita, dan tehadap tetangga kita dan bagaimana terhadap tubuh kita. (tubuh perlu olahraga rohani dan jasmani) apakah telah kita salurkan?

2. Kita harus beramal dengan apa yang diturunkan (al-Qur’an). Bagaimana pandangan kita terhadap al-Qur’an dan para Rasul dan Nabi. Jika satu ayat dari al-Qur’an kita perselisihkan, maka bagaimana kualitas iman kita terhadap al-Qur’an, jika kita mengkritik al-Qur’an, bagaimana hati dan otak kita, hal ini mesti dipertanyakan, bagaimana dengan pemikiran sebagian orang yang mengatakan bahwa beberapa ayat al- Qur’an harus ditinjau ulang/kembali. Di sini kita perlu pertanyakan apakah al-Qur’an yang memiliki kekurangan ataukan pikiran kita yang sudah kerasukan setan? Orang taqwa tidak akan mempertanyakan isi al-Qur’an karena ini Kalam Allah.

Firman Allah:
انا نحن نزلنا الد كر و انا له لحافظون

Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)

3. Ridha terhadap yang sedikit. Ini adalah sifat qana’ah. Kita percaya akan taqdir Allah dan menerima apa yang dianugerahkan Allah walaupun dalam pandangan kita itu merasa kurang atau tidak memuaskan. Qana’ah adalah ikhlas menerima segala pemberian Allah, karena itu merupakan kekayaan yang tidak habis-habis. Qana’ah lawannya adalah tamak dan rakus. Orang-orang yang tamak dan rakus adalah manusia yang tidak sabar dan tidak mau menerima kehendak Allah swt. Banyak sekali kehidupan orang yang tamak dan rakus berakhir dengan ketidaknyamanan.

4. Bersiap-siap menghadapi hari keberangkatan. Setiap manusia wajib berangkat dan meninggalkan segala kenikmatan atau kesulitan di dunia ini menuju alam barzakh dan akhirat. Hidup ini singkat maka jangan mempersingkat kehidupan dengan segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan kepada Allah. Mati itu sakit dan menyakitkan, alam kubur itu menyengsarakan, akhirat itu penghinaan dan penghargaan.

Baca Juga:  BMA Salurkan Bantuan untuk Muallaf Binaan Dewan Dakwah Aceh

خا فضة رفعة

Artinya: (Kejadian itu ) merendahkan satu golongan dan meninggikan (golongan
yang lain). Al-Waqi’ah: 3

Apakah bekal hari keberangkatan itu sudah cukup, atau sudahkah dipersiapkan?
Bagaimana dengan amal baik kita ketika di alam kubur, apakah kita selalu membaca surat al- Mulk ketika menjelang tidur, berapa banyak ayat al-Qur’an yang sudah kita hafal dan dengan itu kita persiapkan pada detik- detik kematian, sadaqah, infaq, membantu fakir dan miskin, shalat wajib dan shalat sunat kita bagaimana, puasa wajib dan puasa sunat kita bagaimana, hablum minallah dan hablum minan nas bagaimana, dan yang paling sengsara
pada hari kiamat adalah para pemimpin.

Pemimpin yang enggan melaksanakan ajaran Allah, pemimpin yang tidak adil dan korup dan pemimpin yang ketika dia memimpin banyak darah kaum Muslimin yang mengalir. Dan pemimpin yang model begini terhalang di pintu sorga. Akhirnya mereka dihalau ke neraka.

Barirah (seorang hamba sahaya Aisyah r.a.) pada suatu hari berkata kepada Sulaiman bin Abdul Malik sebelum menjadi salah seorang Khalifah Bani Umayyah. Wahai Sulaiman, aku melihat anda bakal menjadi seorang pemimpin, aku mendengar Rasulullah saw bersabda yang artinya: Nanti di hari kiamat seorang pemimpin menuju ke syurga, tetapi ketika dia sudah berada di pintu syurga dia terhalang oleh satu noda merah. Lalu dia bertanya apa gerangan ini ya Allah? Kamu tidak masuk ke syurga karena ketika kamu menjadi pemimpin banyak darah kaum muslimin yang tumpah bukan secara hak. Maka silakan menuju neraka.

Dalam hal ini Nabi saw bersabda:
اول ما يقضى بين الناس يوم القيامة فى الدماء

Artinya: Perkara yang pertama sekali diputuskan di antara manusia di hari kiamat adalah hal ihwal darah (pembunuhan). (H. R. Bukhari dan Muslim).

Para pemimpin dan orang-orang yang bertaqwa tidak akan pernah melakukan hal-hal yang dapat menggelincirkan mereka ke dalam neraka. Jika seseorang masih ada iman dalam dadanya maka ia tidak akan berzina, tidak akan membunuh, tidak akan meminum khamar, tidak akan mencuri, tidak akan meninggalkan shalat, tidak akan melakukan maksiat sekecil apapun terhadap Allah swt.

Rasulullah saw bersabda:
لا يذ نى الزنى حين يز نى وهو موْمن ولا يشرب الخمر حين يشرب وهو موْمن
ولا يسرق حين يسرق وهو موْمن ولا ينتهب نهبة يرفع الناس اليه فيها أبصارهم وهو موْمن

Baca Juga:  Hamba Ar Rahman

Artinya: tidaklah berzina orang yang berzina saat berzina sedang ia dalam keadaan mukmin. Tidaklah meminum khamar saat ia minum khamar sedang ia dalam keadaan mukmin. Tidaklah mencuri saat ia mencuri sedangkan ia dalam keadaan mukmin. Dan tidaklah merampas saat ia merampas sementara manusia mengangkat dan mengarahkan pandangan kepadanya sedang ia dalam kaeadaan mukmin. (H. R. Bukhari).

Orang-orang yang melakukan kesalahan akan menangung sendiri akibatnya, sebagaimana firman Allah swt dalam al-Qur’an, yang Artinya Dan berkatalah setan-setan tatkala perkara telah diputuskan, “Sesungguhnya Allah telah
menjanjikan kepadamu janji yang benar dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaanku terhadapmu melainkan sekadar aku menyerumu lalu kamu mematuhi seruanku. Maka janganlah kamu mencelaku, celalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan penyekutuanmu terhadapku sejak dahulu.
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu memperoleh siksa yang pedih. ( Ibrahim: 22)

Bagi orang-orang yang percaya kepada syaitan atau manusia yang seperti syaitan, maka mereka pada suatu saat nanti akan melepaskan diri kepada kita dan inilah makhluk yang tidak bertanggung jawab di atas muka bumi ini.

Mereka suka menyesatkan orang namun tidak berani mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukannya.

Mereka adalah para penjilat dan pendusta agama, para pembohong serta penghancur Islam baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan. Kebohongan dan kemunafikan adalah perbuatan para pengikut setan dan mereka ini banyak bersileweran dimana-mana, yang kerja mereka hanya menyudutkan Islam, mengadu domba umat Islam,
dan mereka ini sangat jauh dari ketaqwaan konon lagi beriman. Inilah yang harus diwaspadai oleh umat Islam dewasa ini agar kebohonan dan kemunafikan tidak menjadi kebenaran di tengah ummat.

Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang sangat membenci kebohongan, kemunafikan, ketidak adilan dan ketidak jujuran. Karena itu sebagai manusia yang bertuhan kepada Allah dan pengikut setia Rasulullah SAW., berjuanglah untuk menyebarkan keadilan, kejujuran, kedamaian, dan kemurnian Islam kepada masyarakat dunia agar mendapat pertolongan Allah azza wajalla.

Bagikan:

1 Komentar pada “Karakteristik Orang Bertaqwa”

  1. Dr. Syabuddin, M.Ag berkata:

    Asssalamu”alaikum wrwb.
    Bang, ada beberapa kesalahan ketik teks Bahasa Arab dalam tulisan tersebut, SEHARUSNYA;
    الجليل
    يزني
    الزاني
    رافعة

Tinggalkan Komentar