Award Winners

Usung Konsep Zero Waste, Inovasi Pengolahan Limbah VCO oleh Tim USK di Sabang Tuai Apresiasi Reviewer LPPM

Harian Reportase - Selasa, 27 Oktober 2026
Usung Konsep Zero Waste, Inovasi Pengolahan Limbah VCO oleh Tim USK di Sabang Tuai Apresiasi Reviewer LPPM
  Harian Reportase
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Kota Sabang, Harian Reportase – Inovasi pengolahan limbah industri Virgin Coconut Oil (VCO) menjadi aneka produk pangan bernilai tambah mendapat apresiasi dari reviewer Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala (USK) saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) program pengabdian di Gampong Batee Shoek, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang.

Kegiatan monev dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Mohd. Iqbal, M.T., Ketua Program Studi S-2 Teknik Industri USK, didampingi Mairina, S.E., Ak., M.Si., Kepala Bagian Administrasi Umum LPPM USK, serta Amni, S.E., Kepala Subbagian Umum LPPM USK.

Program bertajuk “Transformasi Limbah Industri VCO Menjadi Produk Pangan Bernilai Tambah Melalui Teknologi Tepat Guna untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat Sukamakmue Kota Sabang” ini dilaksanakan melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG).

Tim pengabdian diketuai Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., bersama Dinaroe, S.E., MBA., Ak., CA., ASEAN CPA.; Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Arip Munawar, S.TP., M.Sc., IPU.; Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc.; serta teknisi Khairul Anwar, S.TP., M.T. Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa KKN Tematik Teknik Pertanian USK, yakni Fras Tafis, Arif Ramadhan, dan Zawil Qiram.

Baca Juga:  Rakor Bersama Pemda NTB, Menteri Nusron Sebut Integrasi Data Tanah dan Pajak Bisa Dongkrak PAD hingga 300%

Keunikan program ini terletak pada penerapan konsep zero waste, yakni memanfaatkan hasil samping produksi VCO menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi. Setelah berhasil mengembangkan ampas kelapa menjadi tepung kelapa pada tahun 2025, tim pengabdian melanjutkan inovasi pada tahun 2026 dengan mengolah limbah cair berupa air kelapa menjadi gula kelapa.

Ketua tim, Dr. Raida Agustina, menjelaskan bahwa inovasi tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah kelapa sekaligus mengurangi limbah industri rumah tangga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dalam pengolahan kelapa hampir tidak ada bagian yang harus menjadi limbah. Produk utamanya adalah VCO, ampasnya dapat diolah menjadi tepung kelapa, sedangkan air kelapanya menjadi gula kelapa. Dari satu kegiatan produksi dapat lahir beberapa produk bernilai ekonomi. Inilah konsep zero waste yang ingin kami bangun bersama masyarakat,” jelas Raida.

Untuk mendukung produksi, tim memperkenalkan teknologi tepat guna berupa mesin kristalisator, food dehydrator, mesin penghalus, dan mesin pengayak. Kelompok mitra juga mendapatkan pendampingan pengolahan produk, pengemasan, manajemen usaha, serta pemasaran digital.

Baca Juga:  Kemendagri Apresiasi Rancangan Pergub Tata Kelola dan Sistem Informasi Cadangan Pangan Aceh

Salah satu momen menarik saat monev adalah ketika reviewer mencicipi cupcake, bolu kukus, dan puding karamel berbahan gula kelapa dan tepung kelapa hasil inovasi program. Aneka pangan tersebut mendapat respons antusias karena memiliki cita rasa dan aroma khas.

Reviewer Prof. Mohd. Iqbal memberikan apresiasi terhadap inovasi yang mengintegrasikan teknologi, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program ini menarik karena mampu mengubah persoalan limbah menjadi peluang usaha. Tidak hanya menghasilkan gula kelapa dan tepung kelapa, tetapi juga mengembangkannya menjadi berbagai produk pangan dengan cita rasa khas. Inovasi seperti ini memiliki potensi ekonomi dan layak dikembangkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan Mairina dan Amni, yang menilai keterlibatan aktif kelompok mitra serta pengembangan produk menjadi modal penting untuk keberlanjutan program. Keduanya menekankan pentingnya menjaga kualitas, memperbaiki kemasan, dan memperluas pemasaran produk.

Program ini bermitra dengan Kelompok Tani Ingin Jaya (A.R.A. Oils) yang diketuai Rita Trisanti, dengan 10 anggota kelompok yang terdiri dari ibu rumah tangga.

Baca Juga:  Peringati Hari Damai dan Semangat Kemerdekaan, Dinas Pendidikan Aceh Gelar Lomba Video

“Sebelumnya kami hanya berfokus pada produksi VCO, sementara ampas dan air kelapa belum dimanfaatkan dengan baik. Melalui pendampingan ini, kami mendapatkan keterampilan baru untuk menghasilkan tepung dan gula kelapa yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha tambahan,” ujar Rita.

Teknisi program, Khairul Anwar, menambahkan bahwa pendampingan pengoperasian dan perawatan mesin menjadi perhatian penting agar kelompok mampu menjalankan proses produksi secara mandiri. Sementara itu, keterlibatan mahasiswa KKN Tematik memberikan pengalaman langsung dalam penerapan teknologi pertanian untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Keuchik Gampong Batee Shoek, Ridwan Nasution, menyambut baik program tersebut dan berharap inovasi pengolahan kelapa dapat berkembang menjadi salah satu produk unggulan gampong yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Melalui integrasi VCO, tepung kelapa, gula kelapa, dan aneka produk pangan olahan, program PKMBP-TTG USK diharapkan menjadi model penerapan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal. Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah industri VCO, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperkuat peran perempuan dalam ekonomi produktif, serta mendorong pengembangan produk pangan unggulan Kota Sabang.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar