Award Winners

“Di Rumah Reyot Itu, Kami Bertahan” – Potret Kemiskinan di Aceh Timur yang Perlu Perhatian Pemerintah

Harian Reportase - Sabtu, 2 Agustus 2025
“Di Rumah Reyot Itu, Kami Bertahan” – Potret Kemiskinan di Aceh Timur yang Perlu Perhatian Pemerintah
  
Penulis
|
Bagikan:

Kemiskinan di Aceh Timur, seorang perangkat gampong tinggal di rumah kecil berukuran 4×6 meter, nyaris roboh. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, tapi juga saksi bisu perjuangan hidup.


Sungai Raya, HARIANREPORTASE.com — Di sudut Kecamatan Sungai Raya, berdiri sebuah rumah kecil berukuran 4×6 meter, nyaris roboh. Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, tapi juga saksi bisu perjuangan hidup Alfath, seorang perangkat gampong, bersama istri dan keempat anaknya.

Rumah itu bukan dari bata atau semen, tapi dari kayu dan papan lapuk yang sudah bolong di sana-sini. Dindingnya ditambal seadanya, menggunakan baliho bekas calon legislatif. Atap dari daun rumbia pun tinggal rangka, seolah hanya menunggu waktu untuk runtuh.

“Kalau hujan, kami harus pindah-pindah posisi,” kata Alfath pelan saat ditemui media infopwdpiaceh.

“Kadang malam-malam terpaksa duduk saja, menunggu hujan reda, supaya tidak kehujanan di tempat tidur.”

Baca Juga:  Ketua DPRK Banda Aceh Buka Musprov IAI Aceh, Tekankan Soal Kolaborasi

Suara Alfath terdengar berat. Sesekali ia menarik napas panjang. Bukan karena lelah fisik semata, tetapi karena beban hidup yang tak juga reda. Di balik senyumnya yang ramah, tersimpan kegelisahan mendalam tentang masa depan anak-anaknya yang tumbuh di tengah kekurangan.

“Saya kerja sebagai perangkat gampong. Gaji 2 juta per bulan, itu pun hanya dibayar 7 atau 8 bulan dalam setahun, dan sering terlambat. Untuk kebutuhan sehari-hari, kami harus utang,” ujarnya, menahan air mata yang menggenang.

Lebih menyedihkan lagi, Alfath mengatakan bahwa untuk memberi jajan anak-anak ke sekolah pun sering tidak ada. Apalagi membangun rumah baru, itu hanya jadi mimpi.

“Untuk bangun rumah? Mimpi kali, Pak,” ucapnya lirih.

Kisah yang Tak Dilihat, Tapi Dirasakan

Warga setempat, Mando, tak kuasa menyembunyikan keprihatinannya. Ia menunjukkan langsung kondisi rumah Alfath yang tiangnya dari kayu bulat marak (tampu), dindingnya dari papan lapuk, dan atap yang bocor hampir di seluruh bagian.

Baca Juga:  Ikuti Peluncuran 166 Sekolah Rakyat, Wamen Ossy: Setiap Anak Indonesia Berhak atas Pendidikan yang Layak

“Kalau malam dan hujan datang, mereka harus pindah dari tempat tidur, cari tempat aman agar tidak kehujanan,” tutur Mando. “Saya takut sekali kalau datang angin kencang. Rumah itu bisa roboh sewaktu-waktu dan membahayakan jiwa.”

Potret Kesetiaan dan Harapan

Di tengah semua keterbatasan, ada satu hal yang membuat terharu. Di dinding rumah yang hampir roboh itu, tergantung sebuah foto usang — potret Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, dan wakilnya. Foto itu sudah mulai pudar, tapi masih tergantung di sana, tepat di samping pintu rumah.

“Beliau masih bangga. Padahal hidupnya seperti itu,” kata seorang warga, lirih.

Alfath diketahui merupakan bagian dari tim pemenangan Al-Farlaky di kampungnya. Dan meski belum merasakan perubahan berarti, ia masih menyimpan harapan — bahwa suatu hari nanti, perjuangannya dan suara rakyat kecil lainnya akan didengar.

Baca Juga:  Kementerian ATR/BPN Gandeng Stranas PK dari KPK Susun Rencana Aksi

Ajakan untuk Peduli

Kisah Alfath bukan sekadar berita, tapi panggilan nurani bagi kita semua, khususnya pemerintah daerah. Di tengah geliat pembangunan dan janji-janji kemajuan, masih ada rakyat yang tinggal dalam rumah reyot, berjuang melawan hujan dan lapar, namun tetap setia.

Sudah saatnya pemerintah setempat hadir, bukan hanya dalam baliho dan foto-foto kampanye, tapi dalam bentuk nyata: bantuan rumah layak huni, penghasilan yang manusiawi, serta perhatian yang sungguh-sungguh.

Karena setiap warga negara, sekecil apa pun perannya, berhak hidup dengan layak dan bermartabat.

Penulis: Isa Ismail (Anggota PWDPI Aceh Timur, Berdomisili di Sungai Raya).

Bagikan:

Tinggalkan Komentar