HARIANREPORTASE.com — Dalam bulan Mei tahun 2026 hampir semua bahan pokok naik dan tidak ada yang turun kecuali para pemanjat kelapa. Para pemanjat kelapa kalau tidak turun, tidak mungkin berlama-lama di atas pohon, kalau datang angin puting beliung, maka kematian akan semakin dekat.
Karena itu “turun” bagi pemanjat kelapa adalah suatu kemestian, tidak untuk harga. Namun untuk harga barang sangat tergantung pada pemiliknya (pemilik modal atau para pedagang). Nasib baik kalau para pedagang itu orang beriman, mereka tidak mau mengambil untung tiga kali lipat, karena itu bertentangan dengan ajaran Islam. Tetapi kalau para pedagang itu pengikut setia Karl Mark, maka jangankan tiga kali lipat, serratus kali lipat bersedia memakan untungnya. Mereka dalam pikirannya yang penting berapa banyak untung atau uang masuk, sumber datangnya tidak dipersoalkan. Inilah para pedagang yang tidak mendapat Ridha Allah. Kalau begitu kemana kita lapor tentang kenaikan harga ini, ya tentu saja kepada Allah Sang Pemilik alam ini. Kalau lapor kepada manusia, mereka berhadapan dengan sejuta masalah, tambah lagi laporan kenaikan harga. Jangankan untuk menstabilkan harga, menstabilkan jiwa dan tubuh mereka saja tidak mampu.
Pada masa Rasulullah saw pernah terjadi lonjakan harga, Anas bin Malik berkata, harga barang meningkat mahal, lalu mereka berkata, bagaimana jika engkau tetapkan harga barang? Baginda Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah-lah yang melapangkan rezki, dan Dia pula yang menggenggam, melepaskan, yang memberi rezki, dan menetapkan harga. Dan aku sangat berharap dapat menemui Allah azza wajalla dalam keadaan tidak seorangpun menuntut dari aku karena penganianyaan yang aku lakukan terhadapnya, baik yang berkaitan dengan darah ataupun harta.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Al-Tirmizi, Ibnu Madjah, Al-Darimi, Al-Bazzar dan Abu Ya’la).
Firman Allah dalam al-Qur’an yang artinya: Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Az-Zumar: 52).
Al- Syaukani berkata dalam bab harga, dari Abu Hurairah melalui jalur Ahmad dan Abu Daud, ia berkata, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: “ Ya Rasulullah! Tetapkanlah harga barang-barang.” Baginda berkata: “Aku akan berdoa kepada Allah untuk itu.” Kemudian datang lelaki yang lain dan berakata: “Ya Rasulullah ! Tetapkanlah harga barang-barang.” Baginda berkata” “Allah yang merendahkan dan Allah pula yang mengangkat.” Mungkin dari dua hadis di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa para pedaganglah yang menaikkan harga, apakah di backup pemerintah atau tidak, jadi tugas kita hanya berdoa kepada Allah agar Dia memberikan rezki kepada kita dari sumber yang halal dan dari arah yang tidak diduga-duga datangnya. Allahlah yang akan melunakkan hati makhluk yang menaikkan harga dan Allah pula yang paling berkuasa untuk memberikan rezki kepada seluruh hamba-Nya. Hanya tanggung jawab dihadapan Allah yang harus rasional di akhirat nanti.
Seharusnya kalau harga barang sudah meroket, ada upaya pemerintah untuk menaikkan gaji para pegawai, dan menaikkan UMR kepada buruh. Tetapi yang terjadi bukan demikian, masalah gaji seungap blemblom (Tidak ada yang mau membicarakannya kecuali diam sejuta bahasa), masalah harga barangpun pura thee, pura han (pura-pura tidak tahu), tetapi kita harus memikirkan itu tanggung jawab siapa, dan kalau kita berdoa kita tujukan kepada siapa, dan apa isi doa kita kepada Allah? Makanya kalau para pedagang itu bukan manusia beriman, ya mereka suka-suka merekalah dalam menjual barang dagangannya, apakah murah, mahal ataukah seimbang? Disinilah letak tanggung jawab bagi seorang yang beriman, tetapi kalau mereka tidak punya iman, ya mereka bertanggung jawab kepada ajaran agama mereka, kalau memang dalam ajaran mereka juga ada termaktub masalah-masalah seperti yang diatur dalam Islam, yang itu bagus, kalaupun tidak ada ya suka-suka hatilah, yang jelas Allah tidak membiarkan manusia ini berbuat dhalim terus menerus, karena setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya. Camkan ini wahai para penaik harga dan pendukung penaik harga!
Kalau kita orang beriman persoalan kenaikan harga bukan masalah yang mematikan dan menyengsarakan. Dalam sebuah buku Hilyatul Auliya’ karangah Abu Nuaim, seseorang berkata kerpada Abu Hazm Salamah bin Dinar Rahimahullah. Wahai Abu Hazm, tidakkah engkau melihat bahwa harga-harga barang meningkat naik (lebih mahal)? Abu Hazm menjawab, Apa yang menyebabkan kamu bersedih karenanya? Sesungguhnya yang memberikan rezki saat barang harganya murah adalah Allah, dan Dia pula yang akan memberikan rezki pada saat harga barang mahal.
Ini adalah pertimbangan orang-orang beriman, kalau tidak punya iman, maka silakan apa saja sesuai perintah perutmu, dan hidup di dunia ini tidaklah begitu lama sementara HISAB YANG MAHA TELITI akan kita hadapi lambat atau cepat. Oleh yang demikian, segala yang terjadi di dunia ini khususnya bangsa Indonesia, dan orang Aceh, kita sangat lempang dan tegak lurus untuk mengirim laporan kepada Allah bahwa Pemerintah Indonesia, tidak adil, hukum tidak berjalan sesuai aturan atau pilih kasih, utang negara semakin membengkak, harga Rupiah 17.500.00 per dolar atau 4500.00 per Ringgit Malaysia. Dan banyak lagi kemunafikan yang secara nyata dipertontonkan kepada rakyat , maka solusinya lapor saja kepada Allah Yang Maha Menerima segala permohonan. Kalau kita lapor ke polisi, salah-salah kita jadi tersangka, dan tambah kecewa, lapor kepada Jaksa, juga ujung-ujungnya kecewa, lapor kepada BPK juga kecewa, Lapor kepada BPKP juga penuh kekecewaan, dan lapor kepada KPK setali tiga uang, belum ada yang tuntas khususnya para koruptor kelas kakap. Tetapi yang kecil-kecil banyak yang sudah putus hukuman dan menjalani tahanan.
Lihat saja masalah ijazah Jokowi sudah dua tahun, lihat saja anak haram konstitusi masih saja tetap berkuasa, lihat saja masalah pertamina atau Riza Chalid cs apakah sudah terkubur atau mau dipetieskan, lihat saja masalah di lingkar istana, lihat saja masalah laporan Ketua DPRA Aceh tentang JKA Aceh, apakah Polisi tidak tahu, jaksa tidak tahu, BPKP tidak thau, BPK tidak tahu, dan KPK tidak tahu juga? Inilah yang perlu kita lapor kepada Allah sesuai kehendak masing-masing, namun mudah-mudahan semua PLEA hamba-Nya akan dimaqbukan hendaknya lambat atau cepat. Dan ini tidak akan mengecewakan siapaun jika Allah telah menentukan keputusan-Nya. Sering-seringlah melapor kepada Yang Maha Cepat merespon sesuai ilmu-Nya.
Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh