Award Winners

IO UINAR Gelar Talkshow Bertajuk Berpuasa di Ujung Dunia: Ramadhan di New Zealand

Harian Reportase - Jumat, 28 Maret 2025
IO UINAR Gelar Talkshow Bertajuk Berpuasa di Ujung Dunia: Ramadhan di New Zealand
Talkshow International bertajuk “Berpuasa di Ujung Dunia: Ramadhan di New Zealand” yang digelar oleh International Office Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (IO UINAR), Rabu, 26 Maret 2025.  
Bagikan:

Banda Aceh, HARIANREPORTASE.com — International Office Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (IO UINAR) mengadakan Talkshow International bertajuk “Berpuasa di Ujung Dunia: Ramadhan di New Zealand” pada Rabu, 26 Maret 2025.

Acara ini menghadirkan Yuliar Masna, M.TESOL, kandidat doktoral di University of Auckland, yang berbagi pengalaman tentang berpuasa dan kehidupan komunitas Muslim di Selandia Baru.

Talkshow ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom, dipandu oleh Ummu Aiman, dan diikuti lebih dari 40 peserta dari berbagai universitas di Indonesia.

Dalam talkshow ini, Yuliar membagikan pengalaman berpuasa di negara minoritas Muslim, kondisi komunitas Islam di sana, serta bagaimana atmosfer Ramadhan di Selandia Baru.

Puasa di Selandia Baru: Tantangan dan Keunikan

Ramadhan di Selandia Baru memiliki tantangan tersendiri bagi umat Muslim. Salah satu yang paling mencolok adalah perbedaan durasi puasa yang dipengaruhi oleh musim.

Saat musim gugur, umat Muslim di sana harus berpuasa hingga 16 jam, dengan sahur dimulai pukul 05.00 AM dan berbuka sekitar pukul 09.00 PM. Hal ini terjadi karena matahari tenggelam lebih lambat. Sebaliknya, di musim dingin, puasa menjadi lebih singkat, berkisar antara 12 hingga 14 jam, dengan waktu berbuka antara pukul 05.00 hingga 07.00 PM.

Baca Juga:  Wujudkan Masyarakat Aceh yang Bermartabat

Meskipun hidup sebagai minoritas, umat Muslim di Selandia Baru tetap dapat menjalankan ibadah dengan bebas. Warga asli Selandia Baru dikenal ramah terhadap pendatang, termasuk komunitas Muslim.

Selama Ramadhan, masyarakat Muslim, terutama diaspora Indonesia, sering mengadakan buka puasa bersama dan salat tarawih di bangunan yang difungsikan sebagai masjid.

Kegiatan ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi mahasiswa dan warga Indonesia yang menetap di sana.

Namun, tantangan tetap ada. Banyak masyarakat non-Muslim yang belum mengenal konsep Ramadan dan puasa, sehingga tidak jarang umat Muslim harus menahan lapar sambil melihat orang lain menikmati makanan saat bekerja atau berkuliah.

Baca Juga:  Jokowi Terbitkan Aturan Baru, Wali Kota Maju Pilpres Tak Perlu Mundur

Selain itu, sebagian besar toko dan kedai di Selandia Baru tutup pada pukul 05.00 PM, sehingga umat Muslim harus berbelanja lebih awal untuk persiapan berbuka.

Di Auckland, mahasiswa Muslim rutin mengadakan buka bersama dengan membawa keluarga masing-masing, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.

Makanan tidak tersentuh dan tersisa setelah berbuka biasanya akan dibagikan kembali kepada mahasiswa atau warga yang membutuhkan. Pada tahun ini, durasi puasa di Selandia Baru mencapai 13 jam, karena Ramadhan jatuh pada peralihan musim dingin ke musim panas. Waktu sahur dimulai sekitar pukul 04.00 AM, imsak pukul 05.53 AM, dan iftar pada pukul 19.29 PM.

Selain menjalani puasa di bulan Ramadhan, Yuliar Masna juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk yang berkaitan dengan isu Palestina.

Namun, ia mengungkapkan bahwa ada beberapa pihak yang menghalangi aksi-aksi kemanusiaan tersebut, uniknya bukan dari masyarakat setempat, melainkan dari kelompok tertentu asal India.

Dalam talkshow, Yuliar juga membahas peluang kerja bagi warga Indonesia di Selandia Baru. Warga Indonesia tidak memiliki visa musim panas (summer visa) di negara ini, sehingga pilihan pekerjaan cukup terbatas.

Baca Juga:  Diperlukan Perencanaan Keuangan Keluarga Sejak Dini

Profesi yang umum dijalani oleh diaspora Indonesia di Selandia Baru antara lain sebagai guru bahasa Indonesia, koki, serta pekerja di kedai atau tempat pemotongan daging halal.

Antusiasme peserta tinggi karena ingin mendengar pengalaman diaspora Muslim di negara minoritas Muslim.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama IO UINAR dan para volunteer, dengan bimbingan Prof. Dr. phil. Saiful Akmal, S.Pd.I., M.A.

Sementara itu, Ketua IO UINAR. Prof. Saiful berharap talkshow ini menjadi agenda bulanan guna mendorong internasionalisasi UINAR menuju World Class University.

Dengan semakin banyaknya program bertaraf internasional seperti ini, diharapkan UIN Ar-Raniry dapat terus membuka wawasan global bagi mahasiswa dan civitas akademika, serta mempererat hubungan dengan diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia.

Penulis: Riziq Elfathir

Bagikan:

Tinggalkan Komentar