Putra Aceh Kerja di Facebook, Jabat Manager Se-Asia Pasifik, Siapa Dia? Begini Kisahnya

Harian Reportase - Senin, 9 Agustus 2021
Putra Aceh Kerja di Facebook, Jabat Manager Se-Asia Pasifik, Siapa Dia? Begini Kisahnya
Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur berbincang bersama Manager Ekosistem Konektivitas Facebook kawasan Asia Pasifik, Aulia Velmi di Kantor Serambi Indonesia, Banda Aceh, Senin (9/8/2021). (Doc: Ist/SerambiNews.Com)  
Penulis
|
Editor

Harian Reportase — Tak banyak yang tahu, layanan jejaring sosial raksasa dunia, Facebook yang didirikan Mark Zuckerberg, juga mempekerjakan satu-satunya putra Aceh.

Tak tanggung-tanggung, Putra Aceh yang masa kecilnya di Banda Aceh dan Aceh Besar tersebut dipercayakan sebagai Manager Ekosistem Konektivitas Facebook kawasan Asia Pasifik.

Jabatan besar mengurusi konektivitas Facebook di seluruh negara yang mencakup Asia Timur, Asia Tenggara, termasuk Australia.

Lantas siapa Putra Aceh dimaksud? Dia adalah Aulia Velmi, putra asli Montasik, Aceh Besar.

Tadi, Senin (9/8/2021), ditemani sahabat semasa kecilnya, Alfa Taras Bulba, Aulia Velmi berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Kedatangannya disambut Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur.

Sekitar satu jam, Aulia berbagi pengalaman dan menceritakan singkat jejak kariernya hingga diterima sebagai salah seorang manager penting di Facebook dan kini berkantor di Singapura.

Dalam pertemuan singkat, Aulia mengungkapkan, ayahnya berasal dari Montasik, sedangkan ibunya dari Ulee Kareng.

Aulia Velmi lahir di Bandung, Jawa Barat, karena alasan pekerjaan dan pendidikan orang tua kala itu.

Setahun setelah ia lahir, mereka sekeluarga kembali ke Aceh. Aulia kemudian hidup di Aceh, bahkan sekolah dasar, menengah pertama, dan sekolah menengah atas di Aceh.

“Saya dulu SD 21 Banda Aceh, di Kampung Mulia. Sekarang sudah gak ada lagi, sudah digabung dengan SD 20.

Dulu pernah tinggal di Kampung Laksana, sebelum pindah ke Ketapang. Kemudian SMP 1 Banda Aceh di Blangpadang dan SMA 3 juga di Banda Aceh,” katanya kepada Pemimpin Redaksi Zainal Arifin.

Setelah selesai pendidikan formal, Aulia langsung kuliah di negeri jiran Malaysia untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Ia diterima sebagai mahasiswa pada tahun 2000 di University Kebangsaan Malaysia dan memilih jurusan Elektrik , Elektronik  dan Sistem.

“Tapi saya kebetulan juga fokus pada telekomunikasi jaringan dan infrastrukturmya. Kalau di telekomunikasi di networking data  komunikasi sistem satelit, seluler, dan lain-lain,” katanya.

Aulia termasuk pribadi yang sangat visioner kala itu, dia bisa melihat jauh ke masa depan dengan mengambil jurusan tersebut.

Dari sanalah Aulia meniti karier hebatnya, minat dia dalam ilmu tentang jaringan infrastruktur itu membawanya hingga berkantor di Facebook saat ini.

Baca Juga:  Komisi VI DPRA Gelar RDPU Raqan Baitul Mal

Memang, lulusan-lulusan seperti Aulia kini kini diincar banyak perusahaan telekomunikasi dunia, termasuk layananan media sosial seperti Facebook yang terus memperkuat konektivitas di semua negara.

“Minat saya saat itu ingin mempelajari hal baru, karena tahun 2000 itu telekomunikasi masih baru sekali. Jadi pengen coba hal itu, pengen belajar saja,” kata dia.

Dia menyelesaikan kuliah S1-nya selama empat tahun, kemudian melanjutkan S2 di kampus yang sama.

Setelah menamatkan S2, Aulia kemudian hijrah ke Jakarta. Di Jakarta Ia langsung bekerja pada perusahaan Huawei yang kala itu baru beroperasi di Indonesia.

“Kantornya di Jenderal Sudirman. Waktu itu masa awal Huawei, kantornya masih satu tingkat sekitar tahun 2007.

Huawei itu penyedia perangkat telekomunikasi bukan hanya device, tapi juga infrastruktur jaringan,” katanya.

Setelah itu, Aulia pindah ke grup salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di mana saat itu pemiliknya bercita-cita membangun jaringan 4G pertama menggunakan teknologi wimax.

“Saat itu, LTE belum ada, yang ada cuma wimax.

Saya kebetulan yang membantu membangun infrastruktunya di Jakarta untuk skala nasional. Itu tahun 2010,” cerita Aulia.

Dari situ, karena kariernya bagus, Aulia kemudian kembali lagi ke Malaysia. Salah satu perusahaan lokal di sana meminta Aulia untuk membangun infrastruktur jaringan 4G.

“Memang mereka mencari sumber daya manusia, akhirnya saya pindah ke Malaysia untuk membantu perusahaan swasta di sana membangun jaringan 4G juga,” kata dia.

Dari sini kemudian jalan Aulia menuju Kantor Facebook di Singapura kian dekat.

Dari Malaysia ia mendapat tantangan baru.

Perusahaan lokal Malaysia tempat dirinya bekerja itu ingin membangun inovasi infrastruktur telekomunikasi open akses yang bisa dibagikan ke provider tanpa harus bangun jaringan sendiri.

“Saya jadi direktur saat itu, membangun pilotnya di Kedah. Lalu kita ekspansi. Di sana tiga tahun, akhirnya perusahaan ini diakuisisi oleh Singapura,” kata dia.

Saat itulah, karena kesuksesannya di beberapa perusahaan telekomunikasi dan rekam jejak karier yang cemerlang, Aulia kemudian mendapat tawaran dari Facebook pada tahun 2018 lalu.

Baca Juga:  Minta Blokir Game Higgs Domino, Polda Aceh Surati Kemenkominfo

Facebook kepincut atas kecerdasan Aulia, putra asli Aceh ini karena membaca semua rekam karier di laman Linkedin miliknya.

“Saya memang aktif di Linkedin, pernah bekerja di mana, kerja di perusahaan lokal membangun jaringan, ada di sana semua.

Kebetulan Facebook sedang mencari SDA yang berpengalaman, saya diminta untuk interview. Akhirnya saya ikuti prosesnya, alhamdulilah diterima,” kata Aulia.

Beruntungnya, saat itu posisi yang diminta adalah posisi yang Aulia Jabat saat ini  sebagai Manager Ekosistem Konektivitas Facebook kawasan Asia Pasifik.

Posisi Aulia saat ini termasuk salah satu posisi yang sangat penting di Facebook, jangkauan kerja dan tanggung jawabnya se-Asia Pasifik untuk urusan infrastruktur jaringan dan konektivitas Facebook.

Berkantor di Singpura, namun Aulia kerap melakukan perjalanan ke berbagai negara di Asia setiap waktu.

Bahkan, ia tak jarang ke Amerika melakukan meeting dengan pimpinan di kantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat.

Saat ditanya apakah Ia sering jumpa dengan Mark Zuckerberg selaku pendiri Facebook? Aulia menjawab sambil tersenyum. “Ya kita kadang meeting dengan pimpinan-pimpinan, menyusun program dengan tim global,” kata dia.

Sebagai Manager Ekosistem Konektivitas Facebook Asia Pasisifk, Aulia bertanggung jawab menjaga kaawasan Asia Pasifitik, seperti Jepang, Australia, Indonesia, Australia, negara Asia Timur,  China, Jepang, Korea, dan lain-lain.

Salah satu pekerjaannya, yakni berkunjung ke berbagai negara dan membangun kemitraan.

“Pekerjaan itu posisi untuk konektiviti ekosistem. Misi kita mengkoneksi orang-orang yang belum terkoneksi. Di dunia 3,5 miliar orang sudah terkoneksi, tapi setengah dari populasi dunia itu belum terkoneksi.

Koneksinya belum bagus. Kita ingin mengakselerasi untuk dapat konektivitas yang lebih bagus. Kita bangun konektivitas dengan bagus agar orang-orang yang belum dalam konetivitas bisa merasakan,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, di era teknologi 4.0, kebutuhan terhadap digital tidak bisa dinafikan. Oleh karena itu, Facebook ingin terus mengoneksi orang-orang di muka bumi dengan aplikasi dan konektivitas yang mereka miliki.

Ditanya Serambinews.com, apakah ada peluang bagi putra-putri Aceh lainnya untuk bisa berkarier di Facebook dan apa sebenarnya motivasi untuk menggapai cita-cita karier seperti Aulia?

Baca Juga:  Dewan Dakwah Aceh Salurkan Daging Kurban untuk Muallaf dan Keluarga Kurang Mampu

“Yang paling penting adalah pengalaman. Tapi yang paling penting lagi punya mimpi. Jangan takut, jangan merasa tidak bisa. Motivasi, mimpi, usaha, berdoa, itu yang harus ada.

Saya rasa tidak sulit juga ketika kita sudah masuk ke tahap itu kita juga bisa bersaing dengan siapapun,” ungkapnya.

Lalu, apa benefit yang Ia peroleh saat ini dengan bekerja di perusahaan media sosial raksasa dunia itu?

“Pengalaman tentunya, itu penting sekali. Kita bisa bergaul dengan orang-orang yang dari background berbeda, menambah wawasan dan cara pandang. Itu yang saya dapat,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, bekerja di Facebook sesuai dengan motto, bahwa Facebook membudayakan konektivitas dengan siapapun.

“Facebook itu sangat terbuka, budaya sosialnya dibangunkan. Di sana nggak nampak kelas-kelas.

Open, membentuk paradigma baru, kita dibuat lebih berani dalam melakukan sesuatu dan terus berinovasi tanpa takut salah,” ungkapnya.

Pulang ke Aceh

Aulia sudah berada di Aceh kurang lebih hampir dua tahun, dia terpaksa harus bekerja dari sini karena pandemi Covid-19.

Biasanya, setiap tahun Aulia selalu pulang ke Aceh saat Lebaran Idul Fitri karena orang tuanya masih di Aceh.

Biasanya cuma hari raya pulang karena orang tua di sini. Ini gara-gara covid sudah satu tahun setengah, tapi hikmahnya saya juga bawa pulang keluarga ke sini,” kata dia.

Aulia beristrikan putri asli Aceh, tepatnya dari Sigli. Keduanya telah dikaruniai empat anak, dua di antaranya kembar.

Selama ini sejak dua tahun terakhir, mereka tinggal di Singapura.

“Jadi anak dan istri ikut saya, kita pindah ke Singapura tahun 2018. Pas covid keadaan belum bisa diprediksi, kita kerja di rumah,” katanya.
Saat ini, dia merasa sangat nyaman dan betah berada di Aceh, konon lagi anak-anaknya bisa merasakan bagaimana tinggal di kampung orang tuanya.

“Hikmahnya ya itu, bisa kumpul dengan keluarga, bisa bareng teman-teman lama,” kata dia. (*)

Sumber: SerambiNews.com
Penulis: Subur Dani | Editor: Mursal Ismail

Bagikan:

Tinggalkan Komentar