Award Winners

LAGÈI CINA DEUNGÖ SEUDATI

Harian Reportase - Kamis, 4 Juni 2026
LAGÈI CINA DEUNGÖ SEUDATI
Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA  
Penulis
|
Bagikan:

Oleh: Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA


HARIANREPORTASE.com — Dahulu baik masa pra penjajahan maupun dalam masa penjajahan Negeri Aceh memiliki hubungan dan relasi dengan negeri Cina yang dahulu disebut negara Republik Rakyat Cina (RRT) dan sekarang disebut Tiongkok.

Dalam abad kelima tahun 413 M. Fa Hin (Fa Hian) dari Dinasti Liang pernah berkunjung ke Sumatera dan singgah di Poli (Pidie).

Dalam beberapa literatur malah disebutkan bahwa asal kata ACEH merupakan gabungan dari A = Arab, C = Cina, E = Eropa dan H = Hindia/Hindustan.

Data ini menunjukkan bahwa antara Aceh dengan Cina memiliki keterkaitan tersendiri dari asal usulnya bangsa Aceh yang terdiri dari perpaduan bangsa Arab, bangsa Cina, bangsa Eropa, bangsa Hindia.

Menurut catatan H. M. Zainuddin, pasukan dakwah dari Persia pasca wafatnya Rasulullah SAW tahun 632 pernah berlayar kenegeri Cina lalu berangkat ke Sumatera sampai kenegeri Aceh, boleh jadi ketika kafilah dakwah tersebut singgah di Cina ada orang Cina yang bergabung sehingga mereka sampai ke Aceh.

Ada juga kaitannya dengan teori masuknya Islam ke Nusantara yang pertama sekali di Aceh, termasuklah teori asal Arab, Yaman, India dan Cina, semua itu ada hubungannya dengan eksistensi orang-orang Cina yang menetap di Aceh.

Karena orang-orang Cina yang menetap di Aceh itu selalu berusaha untuk membaur dengan kaum tempatan maka mereka sering berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dalam kehidupan baik yang terkait dengan kerja-kerja social seperti gotong royong, saling menyapa dan berkunjung sesama penghuni kampung dan juga terkait dengan budaya seni.

Salah satu budaya seni yang diminati orang-orang Cina itu Adalah Seudati; suatu karya seni Aceh yang dimainkan oleh delapan pemain lelaki dengan pimpinan seorang syekh seudati ditambah dengan dua orang penyair yang disebut anak seudati.

Orang-orang Cina dahulu di Aceh kebanyakannya belum menguasai penuh Bahasa Aceh apalagi Bahasa seni yang dilantunkan dalam permainan seudati dengan kisah-kisah lucu.

Ketika kisah-kisah lucu itu ditampilkan para pemain seudati tentunya orang-orang Aceh ketawa terbahak-bahak, sementara orang-orang Cina walaupun tidak tahu maknanya ikut berpartisipasi juga ketawa seperti orang Aceh.

Baca Juga:  Camat di Aceh Dilaporkan karena Diduga Berbuat Mesum di Mobil Pemerintah

Ketika orang Aceh bertanya kepada orang Cina tersebut: kenapa kamu ketawa apa tahu artinya, orang Cina menjawab tidak tahu, lalu orang Aceh bertanya pula: kalau tidak tahu kenapa juga ketawa? Jawab orang Cina: karena kami lihat orang Aceh ketawa maka kami ketawa jugalah.

Dari kondisi semisal itulah yang kemudian lahir istilah: Lagèi Cina Deungö Seudati.

Lagèi Cina Deungö Seudati merupakan satu istilah yang diperumpamakan kepada seseorang yang setelah mendengar sesuatu syarahan, pengajian, pendapat orang berkali-kali tetap tidak mengerti namun Ketika orang lain mengangguk dan senyum tertawa dari mendengar sesuatu tersebut orang itu juga ikut senyum dan tertawa walaupun tidak tau apa-apa.

Disebutkan Lagèi Cina Deungö Seudati karena dinisbahkan kepada kaum Cina tempo dulu yang mendiami negeri Aceh yang belum bisa berbahasa Aceh, manakala mereka menonton tarian seudati yang mengkisahkan cerita lucu-lucu mereka tidak tau makna dan pengertian dari kisah tersebut tapi karena mereka melihat orang Aceh ketawa terbahak-bahak ketika menonontonnya kaum Cina tersebut juga ketawa dalam kehampaan makna.

Makanya kalau dalam sesuatu majlis ada orang yang tidak paham tentang apa yang sedang dibincangkan tetapi berlagak paham, orang tersebut dinisbahkan kepada istilah; Lagèi Cina Deungö Seudati.

Berasal dari empat kata: Lagèi yang berarti seperti, semisal atau seumpama, Cina yang bermakna orang Cina, Deungö yang artinya dengar/perhatikan dan Seudati yang merupakan sebuah tarian Aceh yang penuh nilai heroik dan patriotisme.

Secara etimolagi ia mengandung makna seumpama orang Cina mendengar seudati yang dalam pengertian terminologinya bermakna; orang yang tidak paham sesuatu setelah didengarkan berkali-kali tetapi tetap bersemangat mendengarnya dan tetap bergairah serta senyum ketawa seperti orang yang memahaminya.

Ada dua kajian dapat dihadirkan untuk mencari sebab kenapa ada orang yang sudah lama mendengar sesuatu pemaparan bahkan berulangkali didengarnya tetapi masih juga tidak dapat memahaminya adalah: pertama karena faktor jahil/bodoh, orang jahil itu memang agak sulit diajari karena kapasitas daya tangkap dan antenanya yang sangat terbatas sehingga ia lama sekali koneks dengan pelajaran yang diberikan kepadanya.

Baca Juga:  Setiap Manusia Memiliki Tanggung Jawab Cegah Kemaksiatan

Walaubagaimanapun orang bodoh itu sesungguhnya masih punya peluang untuk dijadikan orang pandai manakala ada pihak yang mahu mengajarnya secara spesifik.

Allah sudah jadikan manusia ini dalam bentuk dan kapasitas yang berbeda-beda tetapi manusia dapat meracik manusia lain untuk merobah sisi pandang bodoh menjadi sisi pandang pandai dengan berbagai cara, berbagai media dan berbagai gaya asalkan manusia itu mau berusaha untuk merobbah dirinya yang jahil itu menjadi andai, selaras dengan ayyat Al-Quur’an surah Ar-Ra’d ayat 11:
….. sesungguhnya Allah tidak akan meruubah Nasib sesuatu kaum sehingga kaum tersebut berupaya untuk merubahnya terlebih dahulu ..…

Kedua, seseorang itu tidak tau karena tidak mengerti Bahasa yang disampaikan orang kepadanya. Dalam hal ini orang yang banyak menguasai Bahasa maka lebih mudah untuk menguasai banyak ilmu, sebaliknya orang yang terbatas menguasa Bahasa maka terbatas pula memiliki ilmu.

Karena Bahasa dari berbagai suku dan bangsa di dunia ini merupakan alat komunikasi lisan dan juga alat komunikasi tulisan bagi seseorang, yang banyak menguasai berbagai Bahasa banyak pula mendapatkan teman, Kawan relasi dan pengetahuan, minimal ia akan mudah Ketika berada dalam perjalanan dari satu kelain negara dan bangsa.

Dalam konteks istilah; Lagèi Cina Deungö Seudati, perumpamaan yang terbesit adalah lebih didominasi oleh faktor bahasa.

Dahulu orang-orang Cina di Aceh khususnya pada masa penjajahan belum mampu berbahasa Aceh dan tidak tau Bahasa Aceh, namun mereka senang mendengar tarian seudati walaupun tidak paham ungkapan-ungkapan yang dikisahkan dalam penampilan seudati tersebut dalam Bahasa Aceh.

Yang uniknya Ketika nonton bareng Bersama orang-orang Aceh ketikan orang Aceh ketawa dengan kisah-isah yang dilantunkan pemain seudati orang-orang Cina juga ikut ketawa hampa tanpa mengetahui apa kisah yang dilantunkan para pemain seudati.

Ketika itulah maka orang Aceh mengeluarkan fatwa kepada orang Aceh sendiri yang tidak mengerti sesuatu yang sedang terjadi atau sesuatu yang diberi tahu tetapi tetap senyum dan ketawa: Lagèi Cina Deungö Seudati = seperti orang Cina mendengar tarian seudati

Baca Juga:  Menuju WBK dan WBBM Polres Aceh Timur Gelar Apel Pencanangan Zona Integritas

Seorang guru yang bersusah payah menerangkan Pelajaran kepada para muridnya dan muridnyapun mendengarnya dengan penuh gairah sambil tersenyum ria, namun sehabis jam Pelajaran guru menanyakan kepada murid tentang apa yang sudah diterangkan tadi, murid tidak tau samasekali walaupun sudah lama mendengarnya, para murid tersebut identik dengan istila; Lagèi Cina Deungö Seudati. Seorang teungku/ustaz dalam sebuah pengajian sudah berjam-jam menyampaikan syarahan kitab yang diajarkan kepada para santrinya namun Ketika teungku meminta santrinya mengulang kembali apa yang sudah disyahkan tadi tapi santrinya sama sekali tidak mampu mengulangnya, maka para santri tersebut dihubungkan dengan istilah Lagèi Cina Deungö Seudati. Demikian juga dengan seorang dosen di perguruan tinggi yang dengan penuh persiapan memberikan kuliah kepada para mahasiswanya dan para mahasiswa dengan penuh gairah pula mendengarnya, namun ketika dosen mau tau apa yang belum diketahui para mahasiswa dan meminta mahasiswa untuk mengulanginya malah mereka tidak tau apa-apa dan tidak mampu mengulanginya, maka para mahasiswa tersebut dinisbahkan kepada adagium; Lagèi Cina Deungö Seudati.

Istilah Lagèi Cina Deungö Seudati dalam kehidupan bangsa Aceh mengandung makna dungu dan makna lugu. Makna dungu dikaitkan dengan ketidak tahuannya terhadap sesuatu sehingga dia disimilarisasikan dengan sifat orang dungu, istilah dungu itu lebih banyak mengandung nilai negatif berbanding positif .

Sementara makna lugu disabitkan kepada orang-orang yang tidak berkepentingan apa-apa lalu mendengar sesuatu tanpa interes pribadi dan ketika ditanya seseorang tentang yang dia lakukan dia tidak tau memberikan penjelasan dengan tepat dan benar tetapi dia berikan jawaban yang polos.

Namun demikian kedua model manusia tersebut tetap identic dengan adagium; Lagèi Cina Deungö Seudati.


H. M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961, hal. 84.
Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA (Ed), Aceh Serambi Makkah, Banda Aceh: Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2010, hal.265.


Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry
[email protected]=

Bagikan:

Tinggalkan Komentar