Award Winners

Liberalisme Penyakit Bunuh Diri Bagi Agama

Harian Reportase - Minggu, 5 April 2026
Liberalisme Penyakit Bunuh Diri Bagi Agama
Prof. Dr. Muhammad Ar, M.Ed   
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh The Joe Rogan Experience, seorang warga kulit hitam membeberkan tentang bahayanya paham liberalisme bagi agama.

Sebagai bukti bisa dilihat di negara-negara Barat dewasa ini karena paham liberalisme dijalankan dalam kehidupan bangsa dan negara mereka.

Dia menyatakan bahwa Inggris dan Canada yang memulai paham Liberalisme sehingga agama Kristen hampir punah keberadaannya di negara-negara tersebut, kini diikuti Amerika dan seluruh Eropa, sehingga hampir semua gereja tutup atau kosong bahkan banyak yang sudah dijual atau dijadikan masjid oleh umat Islam setelah itu.

Dia mengatakan bahwa liberalisme adalah pil pembunuh bagi kekristenan dan memunculkan penyakit sosial yang masuk hingga ke setiap rumah.

Liberalisme juga penyakit bunuh diri yang telah terhinggapi hampir seluruh manusia di negara Barat. Dalam pikiran mereka kita tidak perlu beranak banyak lagi karena menyibukkan dan tambah kerjaan bahkan orang-orang kulit hitam-pun semakin banyak yang menggugurkan kandungannya karena tidak masanya lagi beranak banyak sementara umat Islam dianjurkan beranak banyak-banyak dan tidak lama lagi mereka akan menguasai negara-negara Barat terutama Amerika dan Eropa.

Paling parah lagi gara-gara penyakit liberalisme ini orang-orang perempuan kulit hitam terikut-ikut mau hidup lebih merdeka sehingga menghalau suami-suami mereka keluar dari rumah alias bercerai (menceraikan suami mereka) yang akhirnya ketika sudah menjelang masa tua dan bahkan pada usia 40 tahun tidak produktif lagi karena tubuh telah sangat capek sebelumnya diperas dan dipaksa makan dan minum sesukanya dan begadang hampir saban malam karena itu kerap digerogoti berbagai penyakit, anak tidak ada dan suami-pun telah diceraikan akhirnya sama-sama menderita di usia yang demikian.

Semua ini karena ingin bebas tetapi menderita sepanjang hayat. Warga kulit hitam-pun tidak mau kalah dengan kaum kulit putih karena mereka menganggap itu sebuah kemajuan dan modern.

Akhirnya mereka terkontaminasi juga dengan penyakit sosial yaitu dengan menggandrungi melakukan bunuh diri, itulah paham liberalisme yang ingin bebas sebebasnya tanpa batas dan tidak mungkin menghalang penyakit tersebut masuk ke dalam relung hati dan otak manusia serta masuk ke setiap rumah tangga.

Baca Juga:  Berikut Profil Tim Pemenangan Anies Yang Diberi Nama BAJA Amin

Karena lingkungan inilah yang paling populer dalam masyarakat Barat dewasa ini dan juga sekarang digandrungi pula oleh orang Jepang, Korea dan China yang melakukan bunuh diri untuk menyelesaikan masalah.

Nasib baik Umat Islam masih mendapat hidayah dari Allah untuk tidak melakukan kebiasaan buruk itu. Namun besar kemungkinan kalau iman para remaja Islam sudah tidak lagi terhinggapi dalam dada mereka, penyakit tersebut suka tidak suka kecipratan juga suatu saat nanti.

Sekarang kita sebagai orang kulit hitam di peringkat pertama dalam hal membunuh anak sendiri melalui aborsi dimana-mana karena enggan beranak dan capek mendidik serta tidak mau bertanggung jawab, sudah minoritas tambah minoritas lagi, dan juga kulit putih-pun sudah menjadi trend untuk melakukan aborsi.

Gara-gara ini semua para suami seringkali keluar rumah ingin bebas dan menghirup udara segar di luar karena di rumah bukan lagi tempat aman dan damai untuk beristirahat.

Kalau ada anak, maka anak pun menjadi nakal, sering melakukan hal-hal terlarang, pembunuhan dan perampokan, narkoba, mabuk-mabukan dan akhirnya mendekam dalam penjara. Karena rumah tangga retak dan tidak ada lagi tempat mengadu dan mencari ketenangan, karena itu semua penghuni rumah berjalan sendiri-sendiri.

Sementara orang-orang Islam semakin subur, semakin ramai dan semakin sehat karena pola hidupnya bagus, model peribadatan mereka terstruktur dan bermanfaat dan tidak lama lagi mereka akan menguasai Amerika dan Eropa. Itulah kata warga kulit hitam tersebut dalam podcastnya.

Sekolah dan perguruan tinggi belum menjamin melahirkan orang-orang yang baik dan berguna baik bagi keluarga ataupun bagi negara karena pikiran mereka selama menempuh jenjang pendidikan berubah tetapi bukan ke arah yang bermanfaat dan berguna tetapi semakin mandiri hingga tidak mau peduli lagi siapapun bahkan orang tuanya sendiri kecuali kesenangan untuk diri sendiri.

Baca Juga:  Ternyata Gugatan soal Usia Capres-cawapres Tak Ditandatangani Almas Tsaqibbirru

Inilah hidup dalam pandangan orang-orang Barat sekarang baik yang pernah menempuh jalur pendidikan tinggi ataupun tidak. Dan ini sangat berbeda dengan umat Islam yang semakin hari semakin berkembang dan menguasai masyarakat dimana mereka hidup, maka disitu pula eksistensi mereka bermanfaat bagi orang lain.

Umat Islam punya konsep “manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainhya.”

Kita tidak menafikan pendapat podcast warga kulit hitam tersebut, karena penyakit liberalisme itu saudaranya pluralisme dan sekularisme bukan hanya tatanan masyarakat dan keluarga yang telah hancur, bahkan agama-pun yang dulunya dianggap hal yang sacral, sekarang secara bergerombolan ditinggalkan oleh para pemeluknya.

Ini bukan hanya penyakit bunuh diri secara phisik, tetapi penyakit bunuh diri mental-spiritual dan keutuhan masyarakat serta keluarga. Semuanya karena berpaham liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan, sementara para pengidola sekularisme-pun lebih kurang sama juga pemikiran dan tindakannya.

Para sekularis kemanapun mereka pergi senantiasa menggaungkan persoalan agama di dalam masjid, gereja, sinagog, kuil, vihara, kelenteng, dan pura. Agama hanya untuk orang yang belajar agama di institusi pendidikan, sedangkan di luar lingkungannya dibiarkan alias focus ilmu dulu baru kemudian berdakwah.

Inilah yang melahirkan sebuah statement yaitu “Religion against development”, artinya tidak ada ruang bagi agama untuk maju dan berkembang karena menurut Scripture mereka tidak boleh mencampur adukkan antara agama dan negara.

Namun penyakit ini kadang-kadang sudah terhinggapi juga dalam masyarakat Islam. Bahkan ada lagi statement yang lebih popular yaitu religion is an opium of society. Statement ini adalah milik agama Kristen, karena mereka tidak boleh bercampur antara politik dan agama, mereka harus pilih salah satu antara dua hal tersebut, namun dalam Islam istilah-istilah yang membingungkan itu tidak pernah ada, tidak perlu difamiliarkan, karena tempat dan lingkungan umat Islam sudah lama menghadang paham tersebut, dan kalaupun ada segelintir diantara umat Islam yang menganut paham liberlisme, sekularisme dan pluralisme, lihat siapa gurunya, siapa pemberi beasiswa kepada mereka, dimana mereka belajar, buku-buku rujukannya yang selalu dibaca sangat condong ke arah itu, dan kalau pemikiran dan hati sudah sekufu dalam aliran-aliran tersebut, maka sukar sekali untuk kembali kepada pemikiran yang murni. Makanya kita sering mendengar perkataan seperti “perang pemikiran jauh lebih berbahaya dari pada perang nuklir.”

Baca Juga:  Lembaga Pengelola Zakat Terima Penghargaan Dari Kemenag, Berikut Daftarnya

Racun pemikiran merusak hati, jika hati sudah membatu, maka Pencipta dianggap antara eksis atau tidak karena akal menafikannya disebabkan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Demikian pula agama bagi kaum pluralisme yang menganggap semua agama sama dan juga baik, tergantung manusianya bagaimana memperlakukan agama yang dianutnya. Malahan ada umat Islam yang super toleransi terhadap agama lain, baik dalam hal Aqidah ataupun muamalah. Ada pernyataan yang paling celaka lagi begini, “ untuk masuk Sorga tidak harus Islam.” Apakah benar ini keluar dari mulut orang Islam? Kalau ya, perlu dipertanyakan keislamannya atau aqidahnya. Namun yang mengherankan kita kaum Nasrani saja tidak mau dan tidak menerima kalau kita bilang semua agama sama, artinya kalau ada orang Islam yang super toleran, artinya ia melebihi Nasrani, melebihi Hindu, melebihi Budha. Karena semua pemeluk agama lain tidak mau disamakan agama mereka dengan agama lain. Kenapa ada orang super toleran, karena ia gagal paham dalam memahami ayat 19 dan 85 Surat Ali Imran.

Semoga ini menjadi renungan dan ibrah bagi orang-orang yang memiliki hati dan pikiran serta mau memahami Islam secara benar berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw.

Kalau Islam dipelajari lewat mulut orang-orang yang anti Islam, apalagi Yahudi dan Nasrani, maka semacam itu itulah Islam yang anda ikuti dan sebarkan, sehingga kebingungan dan keragu-raguan yang akan anda peroleh dalam masyarakat di mana anda berada. Ini merupakan racun berbisa bagi agama dan masyarakat beragama.

Penulis adalah Guru Besar Pendidikan Islam S3 PAI UIN Ar-Raniry-Banda Aceh

Bagikan:

Tinggalkan Komentar