Ramadhan selalu hadir dengan suasana yang penuh berkah. Di banyak rumah, meja makan dipenuhi berbagai hidangan berbuka puasa—mulai dari kolak, gorengan, ayam gulai, hingga berbagai menu khas lainnya. Namun di balik kelimpahan hidangan tersebut, ada persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu makanan tersisa yang berakhir menjadi sampah.
Fenomena ini bukan sekadar masalah rumah tangga, tetapi telah menjadi persoalan nasional. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 40 persen dari total timbulan sampah di Indonesia berasal dari sampah makanan. Artinya, hampir setengah dari sampah yang kita hasilkan adalah makanan yang sebenarnya pernah layak dikonsumsi.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan pada bulan Ramadhan. Berdasarkan laporan KLHK dan berbagai pemantauan lingkungan pada periode Ramadhan 2023–2025, volume sampah makanan tercatat meningkat sekitar 10–20 persen dibandingkan bulan biasa. Lonjakan ini terutama berasal dari sisa hidangan berbuka puasa, makanan takjil, serta makanan berlebih yang tidak habis dikonsumsi.
Skala Masalah yang Sangat Besar
Jika dilihat dalam skala nasional, dampaknya jauh lebih besar. Food Waste Index Report 2024 yang diterbitkan United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan bahwa rumah tangga di Indonesia menghasilkan sekitar 14,73 juta ton sampah makanan setiap tahun.
Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan timbulan _food waste_ terbesar di kawasan Asia Tenggara. Bahkan, studi yang dirilis oleh Bappenas pada tahun 2021 memperkirakan bahwa total sampah makanan Indonesia—mulai dari tahap produksi hingga konsumsi—dapat mencapai 23–48 juta ton per tahun.
Kerugian ekonominya juga tidak kecil. Berdasarkan kajian Bappenas tahun 2021, nilai ekonomi makanan yang terbuang diperkirakan mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun, setara dengan sekitar 4–5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Jika jumlah makanan yang terbuang tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik, secara teoritis ia mampu memenuhi kebutuhan pangan 61 hingga 125 juta penduduk Indonesia setiap tahun.
Dampak Lingkungan yang Serius
Dari perspektif industri pertanian, makanan yang terbuang bukan sekadar kehilangan satu porsi makanan. Setiap makanan yang dibuang berarti juga membuang seluruh sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya—mulai dari air, energi, pupuk, hingga tenaga kerja.
Sebagai contoh, berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu kilogram beras diperlukan sekitar 2.500 liter air selama proses budidaya padi tersebut.
Ketika makanan tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), masalahnya tidak berhenti sampai di sana. Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana (CH₄), yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 25–30 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida (CO₂).
Menurut laporan UNEP tahun 2024, secara global _food waste_ berkontribusi sekitar 8–10 persen dari total emisi gas rumah kaca dunia. Artinya dapat dikatakan bahwa, membuang makanan tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga mempercepat krisis perubahan iklim.
Risiko Kesehatan dari Makanan Sisa
Selain masalah lingkungan dan ekonomi, makanan sisa juga dapat menimbulkan risiko kesehatan jika tidak ditangani dengan benar.
Banyak orang menyimpan makanan sisa tanpa memperhatikan prinsip keamanan pangan. Misalnya, nasi yang dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam berpotensi terkontaminasi bakteri Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan keracunan makanan yang dikenal sebagai _fried rice syndrome_.
Begitu pula dengan makanan berbahan daging, ayam, atau telur yang tidak segera didinginkan. Jika tidak disimpan dengan benar, makanan tersebut dapat menjadi media pertumbuhan bakteri patogen seperti Salmonella.
Karena itu, para ahli keamanan pangan merekomendasikan beberapa prinsip dasar penanganan makanan sisa. Pertama, Mendinginkan makanan dalam waktu maksimal 2 jam setelah dimasak. Kedua, Menyimpannya di kulkas pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah. Ketiga, Memanaskan kembali makanan hingga suhu minimal 74°C sebelum dikonsumsi. Prinsip ini sederhana, tetapi sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengubah Sisa Menjadi Manfaat
Makanan sisa sebenarnya masih memiliki potensi nilai tambah jika dikelola dengan baik. Berbagai teknologi pengolahan pangan dapat dimanfaatkan untuk menangani kembali makanan yang tersisa. Misalnya Nasi sisa dapat diolah menjadi nasi goreng, keripik nasi, atau produk fermentasi, Kuah opor atau gulai dapat dimanfaatkan sebagai dasar kaldu untuk masakan lain.
Pada dasarnya, penelitian teknologi pangan menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen kandungan nutrisi makanan masih dapat dipertahankan. Pendekatan ini juga dapat membuka peluang wirausaha pangan berbasis ekonomi sirkular, terutama bagi generasi muda dan mahasiswa.
Menghidupkan Nilai Ramadhan
Islam sejak awal telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam mengelola makanan. Al-Qur’an dalam Surah Al-A’raf ayat 31 mengingatkan “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.”
Begitu pula dalam Surah Al-Isra ayat 26–27, pemborosan disebut sebagai perilaku yang tidak diridhai oleh Allah. Karena itu, menjaga makanan agar tidak terbuang seharusnya menjadi bagian dari kesadaran spiritual selama Ramadhan.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, seperti merencanakan porsi makanan dengan bijak, bukan berlebihan karena lapar menjelang berbuka; berbagi makanan yang masih layak konsumsi kepada tetangga atau masyarakat yang membutuhkan; mengolah sisa makanan menjadi produk baru yang masih bermanfaat; dan mengomposkan sisa sayur dan buah sebagai pupuk organik rumah tangga.
Ramadhan sebagai Momentum Perubahan
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru dalam menghargai makanan. Jika setiap keluarga mampu mengurangi pemborosan makanan hanya 10–20 persen saja, dampaknya bagi lingkungan dan ketahanan pangan nasional akan sangat besar.
Mari jadikan Ramadhan bukan hanya bulan memperbanyak ibadah, tetapi juga bulan memperbaiki cara kita menghargai nikmat makanan. Habiskan yang ada di piring kita, bagikan yang berlebih kepada sesama, dan kelola yang tersisa dengan bijak. Dengan begitu, Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang penuh keberkahan—bukan bulan yang meninggalkan gunungan sampah makanan.
_Wallahu a’lam bish-shawab_