HARIANREPORTASE.com — Kalau kita mau membuka kembali lembaran-lembaran hadis Rasulullah saw tentang kesehatan dan waktu luang, mungkin kita tidak akan terus terjebak dengan jabatan dan popularitas di atas bumi ini. Karena kedua hal itulah yang sering melalaikan kita hidup di dunia ini.
Makna dari hadis tersebut adalah bahwa manusia senantiasa terjebak atau terpedaya oleh waktu luang dan kesehatan yang prima sehingga kita lupa akan kematian dan kehidupan alam barzakh serta kehidupan alam akhirat.
Kita harus sering-sering merenungkan atau menanyakan pada diri sendiri bahwa semakin tinggi jabatan yang kita pegang, maka semakin berat dan lama kita menghabiskan waktu dihadapan mahkamah Allah di yaumil mahsyar untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat.
Demikian pula, semakin banyak tempat bertugas maka semakin sulit menghadapi hisab Allah nanti diakhirat, karena semakin banyak kesalahan yang mungkin kita lakukan atau semakin banyak orang yang kita dhalimi.
Mudah-mudahan kita diselamatkan dari pemeriksaan yang ketat oleh Allah yang Maha Pengampun.
Sebuah Hadis Rasulullah saw yang bermakna: Barang siapa yang dihisab dengan teliti, dia akan disiksa /diazab. Kemudian aku bertanya, “Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” ‘Itu bukanlah hisab, tetapi penyajian amal, karena orang yang dihisab dengan teliti akan disiksa. (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Nasa’i).
Maka sering kita temukan tulisan dimana-mana di tempel, atau ditulis misalnya, “Shalatlah kamu sebelum kamu dishalatkan, hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung.”
Statemen ini sangat dalam maknanya walau tidak terasa dalam lubuk hati kita ketika membacanya, namun jika kita merenungkan dengan penuh makna, maka kita berkesimpulan bahwa kita tidak akan lagi ketawa di dunia ini sebelum mengetahui dimana ditempatkan kita nanti setelah mati (ke dalam syurga atau ke neraka).
Inilah yang sangat ditakuti oleh Imam Hasan al-Bashri (seorang ulama tabi’in) sehingga beliau memilih jalan taubat nasuha dan berbakti sepenuhnya kepada Allah.
Dia lebih banyak menangis dalam sisa hidupnya karena tidak sanggup menahan sakitnya ketika dicabut nyawa, tidak sanggup membayangkan bagaimana dahsyatnya azab kubur, dan tidak kuat sama sekali menghadapi hiruk pikuknya hari kiamat dengan jahannamnya.
Para Nabi dan para ulama salih memahami benar bagaimana dahsyatnya azab Allah sehingga mereka khasnya para pelaku curang dan maksiat kepada Allah akan menerima resiko yang sangat mengenaskan di alam barzakh dan alam akhirat.
Semoga Allah menghisab kita sebagaimana Dia lakukan kepada para Nabi dan hamba-hamba yang shalih.
Pesan-pesan di atas bukanlah sebuah anjuran yang muthlak untuk tidak berdinas di banyak tempat, bukan untuk melarang kita menjadi pemimpin, dan bukan pula melarang kita meninggalkan persoalan duniawi secara totalitas.
Ini hanya sebatas saling nasehat menasehati dalam takwa dan kesabaran dan saling mengingatkan ummat Nabi Muhammad saw dan hamba Allah yang mulia agar tidak lupa daratan.
Agar kita tidak curang dalam mendapatkan jabatan, dan tidak mencari kehidupan dengan cara haram.
Kalau kita menjadi seorang pemimpin, paling tidak ikutilah Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Azis dan Harun al-Rasyid.
Jika kita menjadi hartawan, maka ikutilah Khadijah binti Khuwailid, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi, Abu Ayyub Al-Anshari, dan Abu Dahdah al-Anshari.
Jika kita menjadi orang shalih, maka ikutilah Imam Hasan al-Bashri, Said bin Musayyab, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Sufyan Tsuri.
Kalaupun kita tidak bisa mengambil contoh-contoh yang baik dari mereka semuanya, namun jangan ditinggalkan semuanya.
Mereka telah memenuhi lembaran sejarah Islam dari segi ketegasannya, dalam menjalankan keadilannya, melaksanakan keistiqamahannya, kedermawanannya, keikhlasannya membantu agama Allah dan Rasul-Nya, keberaniannya berjihad fi sabilillah, kesalihannya, kebijaksanaannya serta keunggulan ilmunya.
Jadilah pekerja yang jujur dan mendapatkan pekerjaan bukan dengan membeli, menyogok, persekongkolan jahat, atau menjilat. Karena semua itu berujung pada dahsyatnya hisab Allah suatu saat nanti ketika kita menghadap Allah didepan pengadilan-Nya.
Kalau kita menjadi seorang pemimpin lihatlah bagaimana Abu Bakar bertindak kepada orang murtad yang harus diperangi.
Artinya pemimpin itu adalah penjaga ummat dan penjaga agama, bukan penjaga proyek dan kroni-kroninya, dan bukan membagi-bagikan jabatan dan tempat basah kepada yang mahu menjilatnya.
Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab mengatur negara dengan penuh keadilan, ketegasan, dan kasih sayang kepada kaum fakir miskin atau kaum dhuafa.
Tidak mengangkat keluarganya menjadi orang-orang penting di lingkungan kekuasaannya, tidak mengutamakan kroni-kroninya mengurus negara, dan tidak menjadikan orang-orang dekatnya menjadi pengurus negara kecuali mereka-mereka yang sangat taqwa dan professional.
Memang rakyat banyak tidak berani protes dan tidak berani bertanya apalagi mengkritisi orang-orang yang berkuasa, mereka lebih baik memilih diam daripada membuka mulut, karena mengkritisi dan menasehati orang-orang yang berkuasa, salah-salah kalau bukan dikirim ke penjara, dipisahkan antara roh dan raga.
Panorama ini banyak terjadi dimana-mana khususnya dalam kalangan kerajaan-kerajaan umat Islam dan dalam kalangan pemerintahan umat Islam. Karena mereka menganggap lebih baik membungkam seseorang daripada merebak kepada seluruh masyarakat mengkritik penguasa. Mereka lupa terhadap hisab Allah yang Maha teliti dan dahsyat.
Ya Rabb ampunilah dosa kami dan saudara kami yang telah terlanjur dalam berbuat kesalahan, tunjukilah kami kepada kebenaran dan keselamatan dunia dan akhirat.
Zaman sekarang adalah era dimana semua lini berlakunya sogok menyogok dalam mendapatkan pekerjaan, sogok menyogok untuk naik pangkat ke jenjang lebih tinggi, sogok menyogok untuk menjadi tenaga honor sekalipun, sogok menyogok untuk membawa pulang beasiswa ke institusi kita, sogok menyogok untuk mendapatkan proyek, dan sogok menyogok dalam menentukan penempatan tempat kerja serta sogok menyogok untuk mendapatkan tiket haji lebih duluan.
Dan yang terakhir telah dipraktekkan oleh Menteri agama Yaqut Kholil dan juga mengalir kepada saudaranya Ketua PB NU yang hingga sekarang kasus ini sudah jarang terdengar lagi.
Mereka sering menjelek-jelekkan umat Islam, mengkritisi Islam, malah berkawan erat dengan Pemerintah Yahudi Pembunuh umat Islam di Gaza, namun dana haji dikorupsi secara berjamaah.
Sanggupkah mereka mempertahankan hisab didepan Mahakamah Allah nanti? Kalau mereka memang berkhianat terhadap Islam, terhadap umat Islam, dan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai walinya, mereka saja yang harus diberi pelajaran wahai Rabb yang Maha Kuasa. Dan tunjukkilah kami kepada jalan yang Engkau redhai ya Rabb.
Ya Rabb yang Maha Teliti dan Maha Akurat perhitungannya, hisablah kami hamba-Mu yang dhaif ini dengan hisab yang mudah dan ampunilah dosa kami dan orang-orang yang mahu meminta ampun dan menyerah diri kepada-Mu.
Selamatkan kami, keluarga kami, saudara kami, dan orang-orang yang merasa menyesal berbuat salah dan kecurangfan, permudahkan urusan kami dunia dan akhirat ya Zat Yang Maha Rahman dan Rahiim.
Kalau ada individu yang bersalah dan mempertahankan keangkuhannya, janganlah Engkau menghukum kami yang dhaif dan tak berdaya ini, namun jika Engkau maafkan semua kesalahan kami dan saudara kami, itu hak Prerogatif-Mu ya Rabb, kami adalah hamba-Mu yang tidak berdaya dan sangat lemah dihadapan-Mu apalagi menghadapi pengadilan-Mu yang Maha Adil dan Teliti.
Penulis adalah pensyarah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.