Award Winners

“Pure Seungke” Sebuah Nilai Moral dari Kearifan Lokal Masyarakat Aceh

Harian Reportase - Minggu, 27 Juli 2025
“Pure Seungke” Sebuah Nilai Moral dari Kearifan Lokal Masyarakat Aceh
Muhammad Sanusi Madli  
Penulis
|
Bagikan:

Oleh: M. Sanusi Madli


HARIANREPORTASE.com — Istilah pure seungke bukanlah hal asing bagi masyarakat Aceh tempo dulu, terutama mereka yang tinggal di gampong-gampong (desa). Dalam bahasa Indonesia, pure berarti penyakit kulit seperti kurap, sementara seungke berarti siku. Jadi, pure seungke secara harfiah diartikan sebagai “kurap di siku tangan”.

Namun, maknanya lebih dari sekadar istilah medis. Dalam budaya Aceh, pure seungke digunakan sebagai sebutan sindiran terhadap orang yang suka meminta kembali pemberiannya kepada orang lain, meskipun secara fisik orang tersebut tidak memiliki kurap di sikunya.

Ini adalah bentuk teguran sosial dan semacam “hukuman moral” atas tindakan yang dianggap tidak pantas secara adat dan agama.

“Pure Seungke” Sebagai Bentuk Pendidikan Moral

Di masa kecil kami, istilah ini sering diucapkan oleh orang tua sebagai bentuk peringatan agar kami tidak melakukan perbuatan yang tercela.

Baca Juga:  Mantan Mudir Al 'Athiyah, Arroni Walecsha Jabat Kepala Pusdiklat RQV Indonesia

Pure seungke menjadi momok yang cukup menakutkan bagi anak-anak. Bukan hanya karena konotasi penyakit kulit yang menjijikkan, tapi juga karena takut dijauhi dan dijadikan bahan olok-olok oleh teman sebaya.

Metode seperti ini menunjukkan bagaimana orang tua zaman dulu menanamkan nilai moral melalui pendekatan imajinatif dan simbolik yang bisa dipahami anak-anak.

Contoh lainnya adalah sosok geuntet, yang digambarkan sebagai makhluk hitam tinggi besar, penculik anak-anak yang masih bermain di luar rumah menjelang waktu maghrib. Pesan moralnya jelas: anak-anak harus berada di rumah saat waktu senja, yang dalam Islam dikenal sebagai waktu berbahaya dan rawan gangguan makhluk halus.

Fenomena “Pure Seungke” di Era Modern

Meskipun istilah ini sudah jarang terdengar di masyarakat saat ini, perilaku yang disindir melalui pure seungke masih sering kita jumpai. Terutama di tengah dinamika politik. Contohnya adalah kasus viral seorang caleg (calon legislatif) yang gagal terpilih lalu meminta kembali sajadah yang pernah disumbangkannya ke masjid. Ini adalah wujud nyata dari sikap tidak ikhlas dalam memberi—satu hal yang sangat tercela dalam Islam.

Baca Juga:  Sidara Award 2021, Anugerah Istimewa Dalam Mengukur Publikasi Dayah

Pandangan Islam Tentang Menarik Kembali Pemberian

Rasulullah SAW dengan tegas mengecam perbuatan semacam ini. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah lalu menjilat kembali muntahannya.”

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu ia mengambilnya kembali, kecuali orang tua yang memberikan kepada anaknya.”
(HR. At-Tirmidzi)

Mayoritas ulama sepakat bahwa meminta kembali pemberian adalah perbuatan haram, kecuali dalam kasus tertentu seperti orang tua terhadap anak-anaknya.

Memberi Karena Allah, Bukan Karena Manusia

Oleh karena itu, jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain—baik hadiah, bantuan, atau sedekah—berikanlah dengan penuh keikhlasan karena Allah SWT. Bukan karena ingin pujian atau balasan dari manusia.

Baca Juga:  10 Besar Dayah di Banda Aceh Terupdate Informasi

Jika kita mengharapkan imbalan dunia dari pemberian itu, dan ternyata tidak mendapatkannya, maka yang muncul adalah kekecewaan. Saat itulah setan masuk dan merusak hubungan sesama manusia, bahkan bisa menghapus pahala dari perbuatan baik kita.

Siapa yang memberi karena Allah, insya Allah akan mendapatkan imbalan di dunia dan akhirat. Tapi jika niatnya hanya dunia, maka hanya itu yang akan ia dapatkan.

Penutup

Istilah pure seungke adalah contoh bagaimana budaya lokal Aceh menyampaikan nilai-nilai moral yang sejalan dengan ajaran Islam. Semoga kita semua terhindar dari penyakit pure seungke, baik secara fisik maupun secara moral.


Artikel ini telah tayang di SANTERDAILY.COM, sekarang KABARDAILY.COM dengan judul Pure Seungke, pada 27 Juli 2019.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar