HARIANREPORTASE.com — Perkataan Sineuk Inong terdiri dari dua kata: Sineuk dan Inöng. Sineuk bermakna sebiji dan Inöng berarti wanita/perempuan.
Dikatakan sineuk/sebiji kepada perempuan karena perempuan cenderung memiliki sikap dan prilaku santun, bersahaja, tunduk dan patuh tetapi berkembang semisal sebiji kacang yang kita tanam lalu berbenih, tumbuh, berkembang dan berbuah sehingga menghasilkan keturunan yang makmur di muka bumi ini.
Beda sibak dengan sineuk dalam terminology ke-Aceh-an adalah; Sibak itu berdiri tegak sedangkan Sineuk duduk dan terletak.
Sibak itu tidak mungkin ada tanpa adanya sineuk manakala kita padankan dengan perkembangan pepohonan. Artinya sebatang pohon itu tidak mungkin langsung lahir menjadi pohon tanpa adanya sebiji benih dari biji pohon tersebut, makanya antara sibak dengan sineuk itu sulit untuk dipisahkan bahkan tidak boleh dipisahkan sama sekali.
Di sinilah letak keunggulan sineuk berbanding sibak, sineuk itu menjadi sumber utamanya sebatang pohon sementara Sibak itu lahir dan wujud dari sineuk/sebiji biji bijian tersebut.
Manakala dipadankan antara sineuk untuk seorang perempuan dengan Sibak untuk seorang lelaki maka lelaki tidak boleh merendahkan perempuan karena sibak itu tidak akan pernah ada tanpa adanya Sineuk.
Maka dari situlah nampak kekokohan dan ketangguhan Sineuk Inöng yang tidak kalah dengan perkasanya Sibak Agam.
Filosofi inilah yang menggambarkan bahwa Sibak Agam itu aktif-innovatif dan Sineuk Inong itu pasif-proaktif.
Sikap dan perangai seorang perempuan itu identik dengan kelembutan, kesenyapan dan ketenangan sehingga terkesan lebih banyak pasif ketimbang aktifnya, pasif dalam arti lebih menunggu arahan dan tunjuk ajar dari sang suami.
Namun proaktifnya nampak ketika sang suami tidak berada di rumah maka segala urusan rumah tangga mulai dari mengurus anak-anak, memasak, mencuci (piring, gelas, pakaian dan ngepel lantai), menggosok pakaian, menyapu dan membersihkan rumah semuanya dapat ditanganinya secara mandiri.
Apalagi ketika sang suami sudah tiada karena diambil kembali oleh Allah Ta’ala, disitulah nampak sekali sikap Sineuk Inöng muncul dan bereaksi seperti yang dimiliki oleh Edmiral Keumala Hayati (Malahayati) yang bangkit tampil melawan penjajah Portugis dengan pasukan Inöng Balèinya setelah suaminya syahid dalam jihad fi sabi lillah, Cut Nyak Dhien tampil memimpin pasukan Aceh melawan penjajah Belanda sampai umurnya menua menggantikan posisi suaminya sebagai panglima perang yang syahid di medan perang.
Sineuk Inöng itu tidak dapat diartikan dengan sikap pasif sahaja melainkan ia identik dengan kesantunan yang proaktif pada masanya dan pada tempatnya.
Tamaddun Aceh telah menyimpan banyak rahasia untuk seorang wanita yang bergelar Sineuk Inöng, umpamanya seorang Wanita Aceh paling pantang dan menjadi ‘aib besar kalau berani menawarkan diri kepada seorang lelaki baik untuk keperluan pernikahan apalagi kalau untuk pacaran.
Kalau itu yang terjadi maka perempuan tersebut hilang marwah dan kehormatan dalam tamaddun Aceh karena bangsa Aceh sangat menghormati dan memuliakan seorang perempuan sebagai Sineuk Inöng.
Makna Sineuk dalam pengertian lain yang diartikan bangsa Aceh adalah; satu-satunya, yang tidak ada duanya, kalaupun ada tentu berbeda dengan yang satu ini.
Sineuk Inöng bermakna satu-satunya jenis manusia yang tidak ada duanya yang memiliki peran dan fungsi ganda. Pada waktunya ia berperan sebagai Sineuk Inöng dalam konteks isteri dan pada waktu lain ia terkadang mengambil peran peran suami tatkala suami tidak berada bersamanya, malah di waktu lain ia berperan ganda sebagai isteri dan suami manakala suaminya sudah tiada. Peran inilah yang tidak dimiliki seorang lelaki walaupun bergelar Sibak Agama.
Sineuk Inöng dapat dan mampu mencari rizki, mengayomi, mendidik anak-anaknya ketika suaminya sudah tiada atau suaminya masih ada tetapi kurang berdaya karena ia menjadi pengawal dan penguasa rumah tangga yang setiap hari, setiap sa’at, setiap waktu dan setiap masa bergelimang di dalamnya.
Tidak ada alasan bagi seorang isteri untuk tidak bergelimang dengan sejumlah permasalahan dalam rumah tangga, ia harus menangani dan menyelesaikannya, tanggungjawab ini terkadang tidak dimiliki oleh seorang suami yang bergelar Sibak Agam.
Walaupun Sibak Agam itu terkesan keren, gagah dan perkasa namun dalam amalan kesehariannya terkadang Sineuk Inöng itu jauh lebih gagah perkasa manakala ia tiba masanya.
Sebagai contoh dan misal, seorang lelaki akan kalang kabut mengurus rumah tangga apabila isterinya sudah meninggal dunia, ia tidak mampu mengurus, memandikan, menyucikan dan membelai anak-anaknya yang ditinggalkan isteri. Ia juga tidak mampu mengurus rumah untuk disapu dan dibersihkannya, apalagi kalau berhadapan dengan masak memasak, cuci menyuci, gosok menggosok pakaian dan mengurus sibayi yang masih kecil.
Seorang suami akan kewalahan dengan semua itu karena itu bukan alamnya silelaki, namun berbeda dengan seorang isteri yang ditinggalkan mati oleh seorang suaminya yang tidak ada alasan untuk tidak mampu dan tidak sanggup mengurus anak-anak dan rumah tangganya.
Pada posisi semisal ini maka filosofi Sibak Agam yang dimiliki seorang suami itu terkadang dapat tersaingi secara mutlak oleh filosofi Sineuk Inöng yang disandang seorang isteri. Untuk itulah seorang lelaki tidak perlu berbangga diri dengan kelebihan yang diberikan Allah kepadanya dalam konteks Sibak Agama berbanding seorang perempuan yang hanya diberikan posisi sebagai Sineuk Inöng.
Dalam keterbatasan Sineuk Inöng itu tersimpan sejuta kekuatan yang pada masa-masa tertentu dapat mengalahkan filosofi Sibak Agam, dalam waktu-waktu tertenyu pula Sineuk Inöng itu dapat menutupi kekurangan Sibak Agam yang barangkali tidak ada kondisi semisal itu pada posisi Sibak Agam, karena Sibak Agam itu cenderung tumbuh, melurus, menua, mati dan tiada. Akan tetapi Sineuk Inöng itu akan tetap bertahan, berfungsi, berprestasi, berfaedah dan menjadi saksi.
Walaubagaimanapun, antara Sibak Agam dengan Sineuk Inöng bukanlah lahan dan lapangan untuk dipertandingkan, dipertentangkan apalagi kalu untuk saling didiskriminasikan. Antara keduanya mestilah dipadukan untuk saling berbagi, saling menambah dan mengurangi, saling membantu dan saling mencintai, karena Allah telah menyandingkan antara keduanya sebagai perpaduan yang sangat sakral yang disebut dengan miytsaqan ghaliydza dalam Al-Qur’an surah An-Nisak ayat 21 yang mengandung makna perjanjian ketat, tegas dan ikatan erat yang sulit diputuskan.
Mengacu kepada sejarah kehidupan awal nabiyullah Adam AS yang sendirian dan menyendiri, beliau tidak dapat hidup aman dan nyaman sebelum Allah anugerahkan seorang Hawa kepadanya sehingga dapat hidup berdua.
Ketika Allah mencoba keduanya dengan menurunkan dari syurga kedunia secara terpisah, Adam berposisi di di India (dalam pendapat lain di Sri Langka) dan Hawa di Jeddah. Keduanya kemudian dipertemukan Allah di Jabal Rahmah di area Padang Arafah. Area Jabal Rahmah tersebut sekarang oleh kaum muslimin/muslimah yang menunaikan ibadah haji/umrah memanjat do’a untuk mendapatkan jodoh bagi yang belum menikah sempena mengambil hikmah pertemuan Adam dengan Hawa.
Dari kisah tersebut maka seperkasa apapun Sibak Agam tercatat dalam sejarah tidak akan dapat hidup aman, nyaman, tenteram tanpa kehadiran Sineuk Inöng bersamanya. Dan segagah apapun Sibak Agam ketika berhadapan dengan Sineuk Inöng di rumahnya cenderung selalu kuyub dan tidak berdaya, walaupun barusan saja tadi di luar berkisah ria dengan teman-temannya tentang poligami yang menjadi satu-satunya kisah yang paling diminati kaum lelaki sekaligus paling ditakuti untuk mengamalkannya karena berhadapan dengan ketangguhan Sineuk Inöng di rumahnya.
Nabi Adam sendiri kalau benar kisah terpesona oleh Hawa untuk makan buah kuldi yang ditawarkan syaithan tunduk dan patuh untuk memakannya menjadi permisalan lain betapa dahsyatnya peran Sineuk Inöng. Memang kelembutan Sineuk Inöng itu mampu meruntuhkan kekerasan Sibak Agam pada masa-masa tertentu secara manut, runut dan tha’at.
Untuk itulah semua pihak harus berdiri pada posisinya masing-masing untuk tidak saling menuduh secara menghinakan karena semua pihak diberikan kelebihan dan kehebatan oleh Allah sekaligus diberikan kelemahan dan keterbatasan dalam setiap hidup dan kehidupan.
Penulis adalah Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry.
[email protected]=