Jakarta, HARIANREPORTASE.com – Universitas Syiah Kuala (USK) menegaskan eksistensinya sebagai penggerak ekonomi kreatif nasional dengan berpartisipasi aktif dalam forum internasional Friends of Creative Economy (FCE) Meeting 2025 yang digelar di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.30 WIB ini merupakan bagian dari World Conference on Creative Economy (WCCE) — inisiatif global yang diusung Indonesia sejak 2018.
Tahun ini, FCE mengusung tema “Glocalisation of Creative Economy: Policies, Practices, Partnerships”, menyoroti pentingnya penyelarasan kebijakan global dengan agenda lokal, khususnya bagi negara-negara Global South.
USK hadir sebagai mitra strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, dengan mengirimkan dua delegasi utama: Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, M.Sc. selaku Direktur Direktorat Kewirausahaan dan Alumni, serta Hendra Halim, M.E., Manajer Operasional Inkubator Kewirausahaan USK.
Dalam forum tersebut, USK menyoroti tiga agenda utama:
“Dalam konteks globalisasi kebijakan, peran kampus tak lagi sekadar mencetak talenta, tapi juga menjadi policy partner yang menjembatani inovasi lokal dengan standar global,” ujar Prof. Rahmat Fadhil saat ditemui di sela sesi diskusi.
Ia menambahkan, keikutsertaan USK di forum ini sekaligus membuka peluang kolaborasi baru untuk memperkuat daya saing UMKM binaan kampus, khususnya di sektor kreatif.
“Jejaring yang terbangun di FCE akan kami tindak lanjuti secara konkret melalui program-program seperti startup clinic, market access matchmaking, hingga skema pembiayaan inklusif bersama mitra strategis,” lanjutnya.
Partisipasi USK di FCE 2025 tidak hanya menjadi representasi dari komitmen universitas dalam pengembangan ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mengintegrasikan kewirausahaan kreatif ke dalam roadmap universitas.
Diharapkan, langkah ini dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan talenta muda, penguatan UMKM, dan penciptaan ekosistem inovasi di Aceh.
Sebagai informasi, WCCE merupakan konferensi dua tahunan bertema “Inclusively Creative” yang telah digelar di Bali (2018, 2022), Dubai (2021), dan Tashkent (2024). Setelah melewati fase pengarusutamaan, WCCE kini memasuki tahap implementasi dengan fokus pada praktik dan kemitraan lintas negara.