Award Winners

Wahyu Hidayat, Adik Kami

Harian Reportase - Jumat, 3 Oktober 2025
Wahyu Hidayat, Adik Kami
  
|
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Wahyu Hidayat adalah adik kami yang istimewa. Usianya masih SD saat teman-temannya datang dan memberikan hadiah sebuah mainan mobil tamiya.

Hadiah itu, dan juga perayaan ulang tahun itu, belum pernah kami lakukan untuk semua anggota keluarga. Biasanya, mamak dan kak inong yang paling hafal tanggal lahir kami, membuatkan masakan mie caluek dan kami bersantap bersama, Hanya itu.

Wahyu di usianya masih belia, mengajarkan teman temannya matematika. Di rumah ia juga sering membantu selesaikan soal yang agak rumit. Tetangga kami, deknyak dan dek Ira juga sering ke rumah. Bahas PR matematika.

Dengan tubuhnya agak kecil dan kesannya pendiam, ternyata Wahyu memiliki perhatian terhadap pelajarannya khususnya matematika.

Siapa yang ajarkan Wahyu? setau kami yang paling jago matematika di rumah adalah mamak kami, meski hanya lulusan dari sekolah rakyat.

Saat masuk SMA, ayahwa, sebutan untuk pak Ibrahim Moekmin membantu agar Wahyu diterima di sekolah unggul SMA Modal Bangsa (Mosa).

Ayahwa meyakinkan panitia seleksi bahwa Wahyu istimewa dan tidak akan mengecewakan.

Baca Juga:  Fasilitator PSP Fitra Muliani Kunjungi 4 Sekolah di Bireuen

Secara postur memang tubuhnya sedikit lebih kecil. Kemungkinan tidak diterima di sekolah yang mensyaratkan tinggi badan tertentu.

Pada akhirnya Wahyu bisa diterima dan mulai memakai baju abu-abu dan memakai dasi. Seingat saya Wahyu angkatan pertama SMA Modal Bangsa.

Tahun 2012 di atas pesawat, saya bersebelahan duduk dengan salah seorang guru perempuan Modal Bangsa dalam perjalanan ke Jakarta.

Saya kenalkan diri sebagai abang kandung Wahyu Hidayat. Dan respon beliau seperti tidak percaya.

“Merinding Ibu mendengar disebut nama Wahyu”. katanya.
Lalu mulailah ia bercerita tentang adik kami itu.
“saat itu sedang ada pengawas yang datang dari Jakarta untuk memeriksa dan menguji siswa Mosa” katanya .
“Bapak itu mengatakan akan menguji siapa anak Mosa yang bisa menjawab sebuah soal.
Teman teman wahyu memberi suport dan menyebut nama “ wahyu… wahyu.. wahyu. Saya khawatir. Lalu saya bisikkan ke Wahyu. “wahyu bisa, Nak ?”
“Wahyu menjawab optimis . “Bisa , bu !”.

Dan benar. Wahyu mampu menjawabnya.

Menjelang sore hari, Wahyu pulang dari Modal bangsa di kawasan Lampeuneurut ke rumah kos kami di Lingke. Saya menyaksikan wajahnya yang pucat pasi. Wahyu sakit parah.

Baca Juga:  Gus Ipul Dilantik Jadi Mensos Gantikan Risma

Dari belakang jendela kamar, saya terduduk. Air mata saya mengalir deras karena sedih. Sedih sekali.
Anak ini tidak pun mengeluh padahal kondisinya lemah begitu.

Wahyu bergegas ke belakang, dia muntah di sana. Muntahannya seperti mie yang halus. Saya semakin sedih.

Tak lama kemudian, kami boyong Wahyu ke RSUZA. Di sana ia ditempatkan di bagian penyakit dalam. Di ruangan itu, yang jaga saya dan mamak.

Hujan tahun 1996 seperti ikut berduka. Ia memuntahkan airnya dari langit tanpa henti. Hingga banjir memenuhi semua ruangan rumah sakit itu.
Wahyu diungsikan ke lantai dua. Sementara ada pasien lain diberikan pilihan untuk dibawa pulang saja.

Setelah banjir mereda. Wahyu kembali ke kamar bawah. Di ruangan itu Wahyu harus mendapatkan transfusi darah. HB nya tinggal 5.

Saya mencari kesana sini darah golongan AB ke kampus. Setiap ruang kelas saya coba cari. Dan seorang anak Leuser, bernama Parmakope membuat saya lega.

Baca Juga:  Haji dan Kemanusiaan Universal

“Sama aku aja, man.” katanya.

Bergegas kami ke rumah sakit. Parmakope mendonorkan satu kantung darah. Di sana, ternyata, teman-teman wahyu dari Mosa juga sudah menyumbangkan beberapa kantong darah. Kami lega.

Kini Wahyu bisa berselonjor kaki di dipan rumah sakit. Dia mengatakan kondisinya baik baik saja.

“ini adalah hari yang paling sehat bagi Ayu”. katanya. Saya, almarhum bang Mun, kak Inong dan Mamak merasa lega.

Besok hari, wahyu merasa tidak enak. Dia berada dalam pelukan saya. Mamak dan kakak duduk di depan dipan.

“apa itu bang yang berbaju putih?” tanyanya. Dia menunjuk ke arah dokter .
“itu dokter dan perawat yang rawat Wahyu”. kata saya.

Itu saat-saat terakhir adik kami Wahyu Hidayat. Ia menghembuskan nafasnya di sebuah ruangan rawat, yang diliputi duka mendalam mamak. Tangis kami pecah. Buah hati hilang satu.

Di luar ruangan, para perawat sedang cekikikan. Entah apa yang membuat mereka tertawa.

20 Septenber 2025.

Nourman. Sebuah Autobiografi

Bagikan:

Tinggalkan Komentar