Karakter Munafiq

Harian Reportase - Minggu, 5 Juni 2022
Karakter Munafiq
Prof. Syabuddin Gade. (Doc: Ist/Harian Reportase).  
Penulis
|
Editor

Oleh Al-Faqir Syabuddin Gade

Harian Reportase — Istilah “munafiq” merupakan sebuah istilah amat klasik dan bahelak dalam sejarah kehidupan manusia.

Istilah “munafik” ini sering disematkan pada manusia yang berperilaku tidak konsisten alias bermuka dua atau lebih, dalam intraksi sosial.

Rekam jejak karakter manusia munafik itu bermacam model, tergantung situasi dan kondisi yang sedang dilakoninya.

Jika ia sedang berbicara, maka pura-pura berkata jujur, padahal ucapannya sarat kebohongan. Jika ia mengikat janji baik dengan Allah ataupun dengan manusia, maka dengan enteng ia mengingkari janjinya tanpa sebab syar’i.

Jika ia diberi kepercayaan atau “amanah” apapun, maka ia pun tidak segan-segan berkhianat. Rekam jejak karakter manusia munafik semacam itu sebenarnya sudah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, antara lain;

آية المنافق ثلاث؛ إذا حدث كذب و إذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان (رواه البخاري)

Tanda-tanda munafiq itu tiga; apabila ia berbicara ia berbohong; apabila ia berjanji, ia mengingkarinya; apabila ia dipercaya, ia berkhianat (HR. Bukhari).

Perilaku manusia munafik juga digambarkan Allah dalam al-Qur’an. Misalnya, jika ia berhadapan dengan satu pihak (orang-orang beriman misalnya), maka ia berkata “kami juga beriman, dong, sama seperti kalian”.

Tetapi, manakala mereka berkumpul bersama “bos-bos” atau para pembesar” mereka, mereka berkata ; “kami ini bersama kalian, kami hanya mengolok-olok mereka saja.

Baca Juga:  Pengaturan Dan Ketentuan PPKM Level 3 dan Level 4 Berdasarkan Inmendagri

Isyarah karakter manusia munafik semacam ini, misalnya digambarkan oleh Allah dalam QS. Al-Baqarah: 14;

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
Terjemahan
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

Nah, karakter manusia munafik semacam itu ternyata masih saja berlangsung sampai hari ini di era moderen, bahkan gayanya lebih parah lagi dalam berbagai kasus sosial.

Jika dalam al-Qur’an, Surah Al-Baqarah, Ayat: 14, Allah menggambarkan betapa karakter manusia munafik yang berpura-pura beriman yang notabenenya masuk wilayah sosial-teologis, namun hari ini karakter semacam ini semakin mewabah dalam wilayah sosial-politik, sosial-ekonomi, dan sebagainya.

Manusia munafik dengan enteng mengumbar janji baik dengan pribadi, kelompok ataupun masyarakat ramai.

Misalnya, mereka berjanji; “jika saya berjaya menjadi ini itu (…..) dst, maka saya akan melakukan begini, begitu…., dst”. Namun, begitu ia berjaya, maka janji tinggallah janji, mereka lupa pada janji bahkan mengingkari janji.

Dalam konteks masyarakat Aceh, manusia berkarakter munafik sering ditamsilkan dengan ungkapan hadih maja;

“Di keue bu bëi bu, di likot bu bëi ëk” (Terjemah harfiahnya; di depan nasi bau nasi, di belakang nasi bau kotoran).

Baca Juga:  Dewan Dakwah Aceh Serahkan Sapi Kurban untuk Masyarakat Rumpet

Maksudnya adalah orang yang bermuka dua; pada satu sisi orang itu berpura-pura konsisten ketika ia berhadapan dengan satu pihak tertentu, tetapi di balik itu justru ia tidak berpihak atau berpihak kepada pihak lain.

Manusia semacam ini bukan hanya dikenal dalam masyarakat Aceh, tetapi juga dalam masyarakat dunia.

Manusia berkarakter semacam ini akan tumbuh dan subur dalam masyarakat, jika masyarakat itu tidak dibekali dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa manusia mau meniru karakter munafik (hipokrit)?Jawabannya bisa multi faktor. Secara umum ada dua faktor; internal dan ekternal.

Faktor Internal

Misalnya, seseorang atau lebih bisa saja meniru karakter munafik karena memang ia lahir dari darah orang-orang munafik dan dibesarkan dalam keluarga yang berkarakter munafik.

Ayah-bundanya atau salah satunya memang berkarakter munafik. Karakter keluarga munafik biasanya sedikit banyak akan menurunkan karakter munafik dalam darah dan karakter anak keturunannya.

Jika, karakter munafik ini dibiarkan dan tidak diobati, maka orang itu akan terus menerus menjalani kehidupannya sebagaimana layaknya manusia berkarakter munafik.

Makanya, sejak awal Islam mengajarkan agar seseorang mencari jodoh yang kuat agamanya, karena orang yang kuat agamanya dan benar-benar mengamalkan ajaran agamanya, diyakini orang itu, anak dan keturunannya akan lebih selamat, misalnya sejak awal sudah terbebas dari bibit heriditas orang berkarakter “munafik”.

Baca Juga:  Surati Dirut BRI, Gubernur Aceh Minta Perpanjangan Layanan Agen BRILink

Faktor Eksternal.

Misalnya, seseorang atau lebih bisa saja berkarakter munafik karena ada sebab eksternal yang mendorongnya berperilaku munafik, bisa jadi karena ekonomi, jabatan, janji tekanan, dan/atau lainnya.

Seseorang atau lebih dengan mudah berkarakter munafik, misalnya gara-gara “uang” dan demi uang apapun dilakukan; demi jabatan apapun mau dilakukan. Demi memenuhi janjinya apapun dilakukan, meskipun harus bermuka dua.

Demi menyelamatkan jabatannya manusia munafik rela melakukan pengkhianatan. Demi menutup aib sendiri, apapun dilakukan walau itu salah dan/atau bohong; demi menghindari tekanan dari atasan, teman atau bawahan, manusia munafik mau megumbar janji bohong dan melakukan apa saja walau itu salah baik dari sudut pandang agama maupun hukum sosial.

Memang karakter munafik sangat sulit dihilangkan dalam kehidupan manusia. Sungguhpun demikian, sebagai seorang muslim, karakter munafik mestilah dihindari. Sebab manusia munafik itu, berdampak besar terhadap kehidupan manusia pada umumnya, baik secara pribadi maupun sosial, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dalam kehidupan sosial, manusia berkarakter munafik, pasti dinilai tidak baik, bahkan berbahaya. Sedang di kehidupan akhirat kelak, mereka akan ditempatkan dalam “kerak” api neraka.

Jadi, marilah kita menghindar diri dari sikap, perilaku atau karakter munafik. Janganlah kita ini menjadi manusia berkarakter munafik.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar