Aceh Timur, HARIANREPORTASE.com – Aliansi Pers Kawal Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab Rekon) Pasca Banjir Aceh menyoroti pembangunan Rumah Sementara (Huntara) bagi korban banjir di Kabupaten Aceh Timur.
Pembangunan tersebut dinilai tidak mempertimbangkan aspek ekologi dalam tahap perencanaan, sehingga berpotensi menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat terdampak.
Ketua Umum Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Masri, menyebutkan bahwa pembangunan Huntara di Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, dilakukan tanpa kajian ekologis yang memadai.
“Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, terdapat sekitar 312 unit Huntara yang akan dan sedang dibangun, baik secara komunal maupun personal. Sebagian bangunan tersebut berada di kawasan rendah dan rawan tergenang air saat hujan deras,” ujar Masri, Selasa (13/01/2026).
Menurutnya, pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), seharusnya lebih cermat dalam menyusun perencanaan dengan memperhatikan aspek ekologi dan psikologis korban banjir. Hal ini penting agar Huntara yang dibangun tidak kembali terdampak saat cuaca ekstrem terjadi.
“Selain berada di daerah rendah, lantai bangunan juga sangat rendah. Ketebalan cor lantai hanya sekitar 4 sentimeter, bahkan lebih rendah dari permukaan lumpur. Jika hujan turun, air dan lumpur akan dengan mudah masuk ke dalam Huntara,” jelasnya.
Masri menambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan Huntara yang dibangun di Gampong Blang Nie, Kecamatan Simpang Ulim. Di lokasi tersebut, bangunan menggunakan tiang dengan ketinggian lantai mencapai 25 hingga 50 sentimeter dari permukaan tanah.
“Seharusnya pembangunan Huntara di Pante Rambong mengikuti pola seperti di Gampong Blang Nie, yakni lantai ditinggikan dengan menggunakan tiang agar aman dari genangan,” tegas Masri.
Atas kondisi tersebut, Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh meminta pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap pembangunan Huntara di Gampong Pante Rambong maupun gampong lainnya yang memiliki perencanaan lantai rendah.
“Pembangunan jangan dilakukan asal-asalan. Aspek ekologi dan psikologis masyarakat harus menjadi perhatian utama agar Huntara benar-benar layak dan aman dihuni,” pungkas Masri.