Award Winners

Dari Banjir ke Badai Debu: Derita Belum Usai di Aceh Timur

Harian Reportase - Jumat, 13 Februari 2026
Dari Banjir ke Badai Debu: Derita Belum Usai di Aceh Timur
Debu halus beterbangan saat kenderaan melintas dan menyelimuti kawasan hunian sementara warga.  
Penulis
|
Bagikan:

Aceh Timur, HARIANREPORTASE.com — Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Timur masih menyisakan persoalan serius bagi masyarakat. Setelah banjir surut, endapan lumpur tebal yang mengering di jalanan, permukiman, dan rumah warga kini berubah menjadi debu pekat yang beterbangan. Kondisi ini memicu fenomena “badai debu” yang mengancam kesehatan dan mengganggu aktivitas sehari-hari penyintas.

Situasi diperparah oleh lalu lintas kendaraan serta cuaca panas yang melanda dalam tiga pekan terakhir. Setiap kali kendaraan melintas, debu halus beterbangan dan menyelimuti kawasan hunian sementara warga.

Wilayah terdampak antara lain Desa Blang Seunong, Pante Labu, Sah Raja, dan Pante Rambong di Kecamatan Pante Bidari. Di kawasan tersebut, sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat yang didirikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di pinggir jalan.

Baca Juga:  Coffee Morning: Evaluasi Kinerja dan Percepatan Program Strategis Nasional di Kantor Pertanahan Aceh Singkil

“Saat panas terik, lumpur kering berubah menjadi debu halus yang beterbangan, terutama ketika tergilas kendaraan,” ujar Nuraki, relawan yang berada di lokasi kepada Harianreportase.com, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, badai debu telah berdampak serius terhadap kesehatan warga. Debu pekat mengancam saluran pernapasan dan memicu risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama bagi lansia, perempuan, dan anak-anak yang sebagian besar waktunya berada di sekitar tenda pengungsian. Selain gangguan pernapasan, paparan debu dan material sisa banjir juga berpotensi menimbulkan penyakit kulit.

“Kemarin saat tim tenaga kesehatan melakukan pelayanan di Dusun Peulalu, dari 55 warga yang diperiksa, mayoritas mengeluh batuk akibat debu,” ungkap Nuraki.

Baca Juga:  Daftar 20 Beasiswa S1 sampai S3 yang Buka Bulan Juni hingga Desember 2024

Upaya darurat telah dilakukan dengan membagikan masker kepada warga. Namun bantuan tersebut dinilai belum mencukupi.

“Kami sudah membagikan enam kotak masker, tetapi dengan kondisi debu seperti ini tentu tidak cukup untuk beberapa hari ke depan, apalagi anak-anak yang belajar di sekolah darurat harus melewati jalan berdebu setiap hari,” tambahnya.

Tak hanya mengancam kesehatan, debu tebal juga mengganggu aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat. Masjid yang berada di sisi jalan kerap dipenuhi debu saat waktu ibadah tiba, sehingga warga harus membersihkannya berulang kali.

Baca Juga:  Tiga Cara Mencapai Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

Warga sebenarnya berupaya mengurangi debu dengan menyiram jalan secara rutin. Namun keterbatasan air menjadi kendala. Sumur-sumur warga masih tertutup material lumpur sehingga sulit dimanfaatkan.

Menghadapi kondisi tersebut, para penyintas berharap adanya penanganan segera dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Mereka meminta pembersihan total sisa lumpur di sekitar permukiman serta memasukkan isu lingkungan dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P).

Bagi warga, pemulihan pascabanjir bukan sekadar membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga memastikan lingkungan tempat tinggal benar-benar aman dan sehat. Tanpa penanganan menyeluruh, badai debu dikhawatirkan akan menjadi ancaman baru yang memperpanjang derita penyintas bencana.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar