Award Winners

Kader Minta Makhyar Dicopot Sebagai Ketua PKS Aceh

Harian Reportase - Senin, 5 Mei 2025
Kader Minta Makhyar Dicopot Sebagai Ketua PKS Aceh
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh periode 2020-2025, Tgk H Makhyaruddin Yusuf. (Dok. pks.id)  
Penulis
|
Bagikan:

Kader PKS Aceh meminta Makhyaruddin Yusuf dicopot sebagai ketua DPW PKS Aceh, karena dinilai sudah tidak mampu memimpin partai kader sekelas PKS.


Banda Aceh, HARIANREPORTASE.com — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh, Makhyaruddin Yusuf dinilai tidak mampu memimpin partai kader sekelas PKS.

Hal itu disampaikan oleh Kader PKS Aceh yang juga advokat senior, Nourman Hidayat, kepada Harianreportase.com, Senin (5/5/2025).

Nourman mengatakan, PKS Aceh harus melakukan perubahan besar dalam pengelolaan partai. Perubahan yang paling prinsipil dan segera adalah dengan pergantian pimpinan khususnya ketua DPW PKS yang saat ini diketuai oleh Makhyarudin Yusuf.

“Makhyar tidak mampu memimpin partai kader sekelas PKS.” ujar Nourman

Baca Juga:  Tokoh Masyarakat Timika Ajak Warga Papua Bersatu Jaga Kedamaian dan Dukung Stabilitas Kamtibmas

“Selama lima tahun kita alpa dari segi kaderisasi pembinaan wilayah, kehumasan, dan pendidikan politik. Kepemimpinan Makhyar bukan hanya lemah tapi juga telah merusak soliditas kader yang berakibat PKS gagal penuhi target pemilu 2024” lanjut Nourman.

Menurut Nourman, pergantian ketua DPW tidak harus menunggu hasil pemilihan anggota majelis syuro, tapi bisa dilakukan pencopotan segera.

“pencopotan ini sangat mendesak untuk dilakukan karena tantangan politik kedepan semakin berat dan PKS harus memiliki peran kuat di dalamnya,” terangnya

Menurut Nourman, Perolehan suara PKS pada pemilu 2024 yang baru saja dilalui, PKS mengalami pengurangan kursi, khususnya untuk DPRA.

Baca Juga:  Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Langsa Laksanakan Pembekalan PPL

“Berkurangnya jumlah kursi di DPRA akan berefek terhadap kinerja partai  baik di dalam maupun diluar parlemen,” ungkap Nourman

Padahal, lanjut Nourman, perolehan suara ini yang menentukan bisa tidaknya menjadi fraksi penuh di DPRA. Penyebabnya adalah ketidakmampuan Makhyar membangun soliditas kader.

“Ini bertolak belakang dengan visi misi PKS sebagai partai kader.  Makhyar tidak mampu mengelola soliditas dan bahkan cenderung merusaknya hingga menjangkau semua jenjang kaderisasi. Padahal selama ini kaderisasi adalah mesin partai yang paling efektif,” ungkapnya

Selain terjadi pengurangan kursi di DPRA , PKS juga nyaris kehilangan dua kursi DPR RI.

“Ini sangat fatal. Dalam sejarahnya mesin politik PKS berupa kader selama ini sangat menentukan perolehan suara, dengan biaya murah dan militansi mengawal suara. Namun ini tidak terjadi. Ada yang berbeda dan sangat mengganggu. Semua mengarah kepada lemahnya soliditas kader, lemahnya kepemimpinan partai,” ujarnya

Baca Juga:  Perkuat Sinergi Pemberdayaan Perempuan, Poliven dan FPPI Tandatangani MoU

“Dalam jangka panjang kader harus menghadapi PR yang lebih berat.  Membangun partai bukan setahun dua tahun. Harusnya kita leanding pada tahun 2024.” urainya

“Melalui mekanisme internal partai yang mulai bergulir beberapa waktu ke depan, kita harapkan DPP PKS memperhatikan suara kader dan membuat kebijakan strategis untuk Aceh.” harapnya

“Masa depan PKS Aceh ditentukan dengan kepemimpinan yang cerdas, baik dan energik” tegas Nourman.

“Makhyar sudah cukup,” tutup Nourman

Bagikan:

Tinggalkan Komentar