Ketidakadilan Tempatnya di Neraka

Harian Reportase - Minggu, 11 Juli 2021
Ketidakadilan Tempatnya di Neraka
Dr. Muhammad Ar. M.Ed (Doc: Ist/Harian Reportase).  Harian Reportase
Penulis
|
Editor

Oleh Dr. Muhammad AR. M.Ed

Keadilan  mudah sekali diucapkan  dan sangat sukar untuk dijewantahkan dalam dunia nyata. Namun, secara realistis yang paling banyak  terlihat adalah ketidakadilan di berbagai tempat dan pada setiap keadaan.  Ketidakadilan yang dilakukan oleh para pemimpin ujung-ujungnya adalah dalam neraka sebagai tempat kembalinya. Ini balasan sebenarnya yang telah Allah janjikan bagi siapapun ia yang bernama pemimpin yang tidak adil, baik ia sebagai pemimpin di peringkat bawah ataupun pemimpin berskala besar/tertinggi.

Memang, ketidakadilan tersebut telahpun dilakukan oleh para penguasa di zaman dahulu kala, akan tetapi itu bukan rujukan yang sangat menyentuh bagi orang-orang yang sedang berkuasa sekarang ini. Dalam sebuah hadis yang sering kali kita baca atau seringkali disampaikan oleh para khatib, para muballigh, dan para ulama  adalah:

Artinya: Bahwasanya telah binasa mereka yang sebelum kamu, karena apabila ada orang-orang bangsawan mereka mencuri, mereka tidak diapa-apakan (tidak diambil tindakan ke atasnya), tetapi kalau yang mencuri itu adalah orang-orang lemah, barulah mereka menegakkan hukum ke atasnya. (H. R.  Bukhari).

Berkenaan dengan Hadis Rasulullah di atas, maka kita sebagai ummat Islam sangat prihatin seandainya hal ini berlaku di tengah-tengah kita, berlaku dalam masyarakat kita, dan berlaku di negara kita. Sebab Rasulullah saw telah menyebutkannya  lebih kurang 15 abad yang lalu tentang ketidakadilan para penguasa sebelumnya apabila memutuskan perkara.

Jika ini benar-benar berlaku, maka kehancuran sebuah negara tidak akan lama lagi, karena petunjuk Rasulullah itu ditujukan secara umum baik terjadi di negeri kita ataupun di negeri-negeri lainnya. Kalaupun ini sudah dan sedang berlangsung di negeri kita, maka negeri kitapun akan hancur berantakan disebabkan ketidakadilan para penguasa dalam memutuskan perkara ummat, ketidakadilan penguasa dalam memperlakukan  rakyatnya, dan ketidakadilan para pemimpin  dalam mengurus negara.

Baca Juga:  Mengorbankan Perasaan Demi Islam

Sebuah negeri akan binasa, hura hara akan berlaku, pemberontakan akan terjadi di mana-mana, darah manusia tertumpah di merata tempat, kelaparan dan kemiskinan semakin memuncak, perampokan uang negara dan harta rakyat dilakukan oleh kroni-kroni penguasa, harta dan  kekayaan hanya dimiliki dikalangan kroni-kroni para penguasa, akhirnya yang namanya sebuah negara akan gulung tikar karena ketidakadilan para pemimpin. Dalam suasana yang demikian rupa, rakyat jelata  seperti domba-domba kelaparan yang dihalau kesana sini, ditendang sekali kesana dan sekali ke sini, hingga mereka mati kelaparan karena penindasan dan kekejaman penggembalanya.  Ini merupakan sinyal yang kuat dan benar yang diwariskan oleh baginda Nabi saw kepada umat manusia siapapun ia kalau menjadi pemimpin yang mengurus umat manusia.

Rasanya perlu definisi yang akurat dan benar, apa itu neraka sehingga orang-orang tidak menganggap neraka adalah sebuah ancaman abstrak yang tidak memiliki legalitas yang muthlak akan eksistensinya. Dalam bahasa sederhana bahwa neraka adalah tempat berkumpulnya orang-orang musyrik, orang-orang munafik, pemimpin yang tidak adil, pemakan haram (koruptor, penipu, pencuri, penipu, perampok, pelaku riba, pemakan riba, pembuat riba, penulis riba, perantara riba), penzina, peminum khamar, penjudi, pemutus hubungan silaturrahmi, pendurhaka kepada kedua ibu bapak, pemfitnah, penggosip, pencerca,  pendengki, pendendam, pembunuh, penganianya, penyiksa manusia dan binatang, penghalang manusia ke jalan Allah, pemaksa orang untuk melakukan maksiat kepada Allah, pengkhianat terhadap agama Allah, pengkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, perusak agama Allah,  dan sejenisnya. Namun kebanyakan manusia tidak takut akan ancaman Allah karena mereka menganggap ini hanya hal yang abstrak dan  tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Baca Juga:  Memaknai Badai Kehidupan

Manusia selalu ditipu oleh kemewahan dunia sehingga walaupun dalam keadaan yang sangat berbahaya seperti sekarang (masa pandemic yang melanda seluruh dunia)  ini sekalipun, namun masih saja berlomba-lomba mengejar jabatan dan memperbanyak harta walapun secara tidak benar dan wajar. Ini sebagai pertanda bahwa manusia tidak takut dan gentar terhadap  dahsyatnya azab neraka di yaumil mahsyar kelak. Jika manusia takut akan azab Allah, maka kelakuan, pemikiran, dan tindakannya  tidak akan pernah menyimpang dari koridor Qur’an, Sunnah Rasul saw, dan petuah ulama. Karena manusia yang paling takut kepada azab Allah adalah para Nabi, Rasul dan para ulama, karena mereka tahu bagaimana sakitnya ketika nyawa dicabut, bagaimana  hiruk pikuknya hari kiamat, bagaimana sengsaranya azab neraka dsb.

Nampaknya apa dinyanyikan oleh Rhoma Irama pada era 1980-an semakin terbukti sekarang ini, “Yang benar dipenajara, yang salah tertawa,”. Misalnya  kesalahan protocol kesehatan hanya dikenakan untuk IB Habib Rizik Syihab saja, sedangkan kepada yang lain apalagi kepada kroni penguasa, keluarga penguasa dan  para penjilat penguasa bebas tertawa ria dan bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Rupanya pemerintah sangat senang kepada orang-orang yang ber-amar makaruf saja,  dan sangat anti dan benci kepada orang-orang  melakukan nahi mungkar. Dan telah terbukti sekarang ini di negeri tercinta ini.

Baca Juga:  Halal Food di Public Schools Kota New York

Kita akan salut  kepada pemerintah terutama para polisi jika mereka menangkap orang-orang yang bersalah tanpa pilih kasih, para jaksa yang menuntut seseorang sesuai dengan kesalahannya, para hakim dalam memutuskan perkara dengan seadil-adilnya, dan KPK menangkap siapapun dia kalau terbukti  koruptor, menerima hasil koruptor, menikmati hasil koruptor, menyuruh atau merekomendasikan untuk koruptor, tanpa pandang bulu.   Namun jika mereka semua aparatur ini bertindak tidak adil, berat sebelah, mempermainkan hukum, atau memakan rasuah  maka kami rakyat kecil atau rakyat jelata hanya bisa melapor kepada Allah Yang Maha Kuasa saja, dan kami akan setia menunggu keputusan-Nya walaupun dalam waktu terlalu lama.

Kami sangat merindukan keadailan ya Allah Yang Maha Adil, kami sangat mengharapkan  yang benar itu benar dan yang batil itu batil, mohon diperlihatkan ya Allah, kami sangat merindukan aparat penegak hukum yang bersih dari rasuah, bersih dari suap, bersih dari menerima fee haram, bersih dari menerima gravitasi,  dan bersih jiwa dan raga mereka dari barang yang harama. Inilah orang-orang yang kami impikan yang Allah dalam memimpin  atau mengurus negeri ini sehingga keberkatan akan turun dari langit, keamanan akan terjamin, kedamaian akan tercapai, dan keharmonisan akan  terlaksana dalam kehidupan masyarakat berbangsa.

Wahai para pemimpin, berlaku adillah dalam segala lini kehidupan bangsa andaikan anda ingin kedamaian dan keamanan.

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

Bagikan:

Tinggalkan Komentar