Bandar Lampung, HARIANREPORTASE.com – Suasana Aula Hotel Graha Bintang, Bandar Lampung, mendadak hening saat nama Sultan Ibrahim, S.Pd, SH disebut. Keuchik Gampong Paya Dua, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur itu berjalan mantap menuju panggung untuk menerima PWDPI Award 2025.
Seketika tepuk tangan panjang disertai standing ovation bergemuruh, membuat suasana haru tak terbendung.
Dengan mata berkaca-kaca, Sultan berkata lirih, “Ini bukan penghargaan untuk saya pribadi, tapi untuk masyarakat Paya Dua.”
Bagi panitia, Sultan Ibrahim adalah sosok tokoh muda pembaharu dan pembawa aspirasi masyarakat. Dari puluhan nama kepala desa yang diajukan se-Aceh, hanya ia yang terpilih. Bukan karena retorika, tetapi karena inovasi nyata yang ia wujudkan di gampong kecilnya.
Dari Wartawan ke Pemimpin Desa
Perjalanan Sultan menuju panggung nasional ditempa pengalaman panjang. Sejak muda, ia aktif berorganisasi—kader HMI IAIN Ar-Raniry (2004–2007), pengurus KNPI (2005–2008), hingga Pemuda Muhammadiyah Aceh Timur (2006–2012).
Tahun 2009, ia meniti karier sebagai wartawan di Koran Orbit Medan, lalu kembali ke tanah kelahiran dan dipercaya memimpin koperasi di Kecamatan Peudawa.
Kini, selain menjadi keuchik, Sultan juga menjabat Ketua Persaudaraan Aceh Seranto (PAS) Aceh Timur. Rekam jejak yang beragam inilah yang membentuknya sebagai pemimpin visioner, berani, dan dekat dengan rakyat.
Desa yang Bangkit dari Utang
Saat dilantik sebagai keuchik, Paya Dua masih dibebani utang. Namun hanya dalam lima tahun, aset desa meningkat drastis hingga hampir Rp5 miliar.
Ia mendorong setiap dusun memiliki aset ekonomi sendiri, menyediakan ambulans gratis lintas provinsi—yang sudah membantu hampir 500 pasien dan jenazah—serta menjadikan Paya Dua desa bebas narkoba dan judi.
Komitmen itu tak lepas dari pengalamannya sebagai Ketua Gerakan Indonesia Anti Narkoba (GIAN) 2017–2020.
“Lebih baik rusak satu generasi untuk menyelamatkan tujuh generasi berikutnya,” tegasnya.
Kepemimpinan yang Berbasis Amanah
Bagi Sultan, jabatan keuchik bukan sekadar posisi birokrasi, melainkan amanah moral. Ia tak segan mengambil keputusan yang tidak populer, selama untuk kepentingan rakyat.
“Selagi masih ada waktu untuk berbuat demi memajukan desa, maka berbuatlah. Jangan takut disalahkan kalau itu untuk kebaikan bersama,” pesannya di hadapan peserta Rakernas PWDPI dari 30 provinsi.
Kebanggaan Paya Dua
Bagi masyarakat Paya Dua, penghargaan ini adalah kebanggaan besar. Desa kecil mereka kini dikenal hingga tingkat nasional.
“Penghargaan ini menjadi pemicu bagi saya dan perangkat desa untuk bekerja lebih keras. Kami ingin pelayanan publik semakin baik, dan program pemberdayaan ekonomi lebih besar,” ujar Sultan.
Ia juga menitip pesan kepada seluruh kepala desa di Aceh: “Jadilah kepala desa yang tidak egois. Jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi. Yang penting adalah manfaat nyata bagi masyarakat.”
Inspirasi dari Aceh Timur
Rakernas PWDPI 2025 pun menjadi saksi lahirnya inspirasi baru dari Aceh Timur. Sultan Ibrahim telah membuktikan bahwa perubahan desa bukan sekadar wacana, tetapi kenyataan yang lahir dari keberanian, inovasi, dan ketegasan.
Kini, nama Paya Dua tak lagi sekadar titik kecil di peta Aceh Timur, melainkan ikon perubahan desa yang menginspirasi hingga panggung nasional.





