Award Winners

Cucu Sultan Aceh Apresiasi Pemugaran Makam Putri Sultan Alaiddin Al Kahhar di Gampong Pande

Harian Reportase - Senin, 11 Mei 2026
Cucu Sultan Aceh Apresiasi Pemugaran Makam Putri Sultan Alaiddin Al Kahhar di Gampong Pande
  Harian Reportase
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Banda Aceh, Harian Reportase – Cucu Sultan Aceh yang juga Pemimpin Darud Donya Cut Putri mengapresiasi langkah pemerintah dalam melakukan pemugaran kompleks makam Putri Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Kahhar bin Sultan Ali Mughayat Syah di kawasan bersejarah Gampong Pande, Banda Aceh.

Menurut Cut Putri, kompleks makam tersebut merupakan salah satu situs sejarah penting dunia yang selama ini menjadi perhatian para peneliti internasional karena nilai sejarah Kesultanan Aceh yang sangat besar.
“Kompleks makam ini merupakan situs penting dunia yang bahkan dicari-cari oleh peneliti luar negeri,” ujar Cut Putri.

Ia menjelaskan, makam tersebut pertama kali ditemukan oleh De Vink pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1912 M di kawasan Blang Tutong Pande. Inskripsi pada batu nisannya kemudian diteliti oleh peneliti asal Prancis, Ludvik Kalus dan Claude Guillot.

Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal internasional Archipel dengan identifikasi nama Putri Siti Ubi Syah binti Sultan Alaiddin bin Sultan Ali Mughayat Syah.

Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Kahhar sendiri dikenal sebagai salah satu Sultan Aceh terbesar yang memerintah pada 1539–1571 M. Ia terkenal karena menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani dalam menghadapi Portugis di Malaka.

Baca Juga:  Wamen Ossy: Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Selain itu, Sultan Alaiddin Al Kahhar juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas dalam menegakkan syariat Islam serta berhasil menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Sumatera untuk melawan imperialisme asing.
Nama Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Kahhar bahkan disebut-sebut masyhur hingga ke Benua Eropa.

Dalam kitab Bustanussalatin karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry serta Hikayat Aceh yang telah diakui UNESCO, disebutkan sejumlah putra dan putri Sultan Alaiddin Al Kahhar, termasuk Putri Siti Ubi Syah.

Tokoh Perempuan Pejuang Aceh
Cut Putri menyebutkan, penemuan makam Putri Siti Ubi Syah menambah daftar tokoh perempuan besar Aceh yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan Kesultanan Aceh.

Putri Siti Ubi Syah binti Sultan Alaiddin Al Kahhar disebut menjaga salah satu benteng terkuat Aceh, yakni Benteng Kuta Bak Bi di Kuala Aceh. Perannya disejajarkan dengan tokoh perempuan legendaris Aceh, Laksamana Malahayati, yang dikenal sebagai penjaga benteng terdepan Kesultanan Aceh.

Baca Juga:  Haji itu Miniatur Kehidupan Manusia

“Ini menunjukkan bahwa Aceh sejak dulu telah mencetak perempuan-perempuan tangguh yang berperan langsung di garda terdepan dalam sejarah,” tegas Cut Putri.
Di kompleks makam tersebut juga terdapat makam sejumlah tokoh besar dan ulama Kesultanan Aceh.

Pada batu nisan Putri Siti Ubi Syah tertulis kalimat: “Ad Dunya Sa’ah Faj’alaha Ta’ah”
yang berarti:

“Dunia hanya sesaat, jadikanlah ia ketaatan.”
Kawasan Bersejarah Gampong Sultan
Dalam keterangannya, Cut Putri juga menyoroti pentingnya kawasan Gampong Sultan yang meliputi Gampong Pande, Gampong Jawa, Gampong Keudah, Gampong Merduati, Gampong Peulanggahan, hingga Kandang.
Menurut hasil penelitian pihak Prancis, kawasan tersebut merupakan wilayah yang berada langsung di bawah pemerintahan Sultan Aceh dan menjadi lokasi pemakaman para raja serta keluarga Kesultanan Aceh.

“Sebagaimana laporan para penjelajah asing, kawasan Hazrat Marhumah Yang Mulia Putri Siti Ubi Syah binti Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Kahhar yang membina hubungan dengan Turki Utsmani berada di Gampong Pande,” tutur Cut Putri. Gampong Pande sendiri dikenal sebagai kawasan ribuan batu nisan dan menjadi salah satu situs sejarah penting Aceh. Kawasan ini juga diyakini sebagai titik awal berdirinya Kesultanan Aceh oleh Sultan Johan Syah sekitar tahun 1205 M.

Baca Juga:  PKS Aceh Soroti Transparansi & Konsistensi Koalisi dalam Pelantikan 290 Pejabat Eselon III-IV

Desak Pemugaran Menyeluruh Meski demikian, Cut Putri menyayangkan masih banyak situs makam kuno bernisan Aceh di kawasan tambak Gampong Pande yang belum mendapatkan perhatian dan terancam rusak maupun hilang.
Karena itu, ia meminta pemerintah segera melakukan pemugaran dan perlindungan menyeluruh terhadap seluruh situs makam di kawasan tersebut.

Menurutnya, keberadaan situs-situs bersejarah itu sangat penting sebagai pusat penelitian dunia sekaligus bukti kebesaran peradaban Aceh di masa lalu.

“Dengan adanya perlindungan situs sejarah secara menyeluruh di kawasan Gampong Sultan, maka situs-situs sejarah yang terancam dapat terlindungi dan terjaga sebagai bukti kebesaran Aceh di dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian situs sejarah juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur dan pahlawan Aceh yang telah berjasa bagi daerahnya.

“Ini juga sebagai penghormatan bagi indatu pahlawan yang telah berjuang untuk Aceh walau tanpa tanda jasa, sebagai warisan untuk generasi Aceh yang akan datang,” tutup Cut Putri.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar