Jakarta, HARIANREPORTASE.com – Menjelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tokoh senior PPP asal Aceh, Ghazali Abbas Adan, mengingatkan seluruh kader dan peserta muktamar agar waspada terhadap praktik politik uang yang berpotensi mencederai pesta demokrasi internal partai Islam tersebut.
Dalam pernyataannya, Ghazali mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 21:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa mengikuti langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh kepada perbuatan keji dan munkar.”
Menurut Ghazali, praktik sogok-menyogok atau suap-menyuap (rasywah) termasuk ke dalam perbuatan keji dan munkar yang jelas dilarang agama.
Ia menegaskan, jika perilaku itu benar-benar terjadi dalam Muktamar PPP dan pelakunya memenangkan pertarungan, maka PPP ke depan akan dipimpin oleh “gerombolan pengikut syaitan”.
“Apabila perilaku rasywah benar-benar terjadi dalam muktamar PPP (mudah-mudahan tidak), dan pelaku rasywah itu menang, maka PPP ke depan dikendalikan oleh gerombolan pengikut syaitan. Pertanyaannya: relakah kita membiarkan partai Islam warisan ulama, berlambang Ka’bah Musyarrafah, dipimpin oleh mereka?” tegas Ghazali.
Ia menegaskan, jawabannya pasti tidak. Karena itu, ia menyerukan agar seluruh kader, peserta muktamar, hingga para senior PPP membuktikan sikap penolakannya dengan langkah nyata.
“Jawaban ini wajib dibuktikan dengan tegas, nyata, dan transparan. Hanya dengan satu kata: LAWAN. Nashrum minallaahi wa fathun qariib,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, Ghazali mengingatkan pentingnya menjaga PPP sebagai rumah besar umat Islam agar tetap berjalan di jalur perjuangan amar ma’ruf nahi munkar.
Ia menyerukan persatuan kader di bawah panji Ka’bah Musyarrafah untuk melawan segala bentuk penyimpangan, termasuk politik uang yang hanya akan merusak marwah partai.
Profil Singkat
Ghazali Abbas Adan merupakan politisi senior PPP, mantan anggota DPR/DPD/MPR RI, dan pernah aktif dalam politik nasional sejak era 1970-an.
Tokoh asal Aceh kelahiran 15 Oktober 1951 ini dikenal kritis, vokal, dan konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam, demokrasi, dan hak asasi manusia.





