Award Winners

Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab Allah

Harian Reportase - Senin, 25 Mei 2026
Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab Allah
Guru Besar Pendidikan Agama Islam, Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Darussalam, Prof. Muhammad AR., M.Ed  
Penulis
|
Bagikan:

Oleh Prof. Dr. Muhammad AR. M.Ed


HARIANREPORTASE.com — Perkataan ini sudah sangat sering kita ucapkan dan kita dengar yaitu perkataan Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Apakah hisab ini seperti orang hisab rokok, jika tinggal sedikit lagi terus dibuang puntungnya. Seolah-olah pernyataan ini seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Padahal di dunia saja jika seseorang diperiksa atau berhadapan dengan para pemeriksa, apakah penyidik, pemeriksa keuangan, pemeriksaan-pemeriksaan lainnya, maka rasa ingin berak dan ingin kencing datang secara spontan, bahkan ada yang harus digotong ke Rumah Sakit. Begitu gugupnya kalau menghadapi hisab, walaupun itu hisab penuh kepura-puraan di dunia ini.

Karena kalau kita punya uang dan backing, hisab itu bisa berakhir dengan seketika. Lihat saja mahkamah dagelan ketika ijazah Jokowi dibawa ke pengadilan atau dilaporkan kepada pihak yang berwenang, hampir dua tahun belum ada tanda-tanda akan dihisab dengan sebenarnya, maka kita berdoa kepada Allah agar nanti dihadapan Mahkamah-Nya diperlihatkan kepada kita, siapa dalang dibalik itu semua, apakah Presiden Prabowo terlibat, apakah Rektor UGM terlibat, apakah salah seorang menterinya terlibat, dan berapa orang polisi yang terlibat, berapa orang jaksa yang terlibat dan berapa orang hakim yang terlibat dan berapa-berapa makhluk lain yang terlibat? Kita tunggu saja Allah akan membuka kebohongan mereka semua baik di dunia ataupun di akhirat.

Ini adalah akibat dari ketidak jujuran dan ketidak adilan sehingga kiamat akan terjadi lambat atau cepat. Mudah-mudahan apa yang terjadi di Nepal segera ke negeri ini karena rakyat sudah muak dengan sandiwara ini.

Ingat, rakyat sekarang tidak sama seperti rakyat sepuluh tahun yang lalu, bukan rakyat dua puluh tahun yang lalu, tetapi rakyat sekarang jauh lebih cerdas, lebih cermat, lebih pintar dan lebih baik daripada masa lalu, makanya kalau yang sedang berkuasa sekarang adalah sisa-sisa masa lalu, pandailah beradaptasi dengan kehendak masyarakat yang hidup dewasa ini yang sangat-sangat berbeda selera dengan zaman dulu.

Baca Juga:  Rekrutmen TNI AU Bintara PK 2024 Dibuka, Berikut Syarat dan Cara Daftarnya

Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya tersendiri. Karena itu janganlah menggeneralisasikan semua manusia di zaman ini, zaman kongkalingkong, zaman korupsi dan zaman kolusi dan nepotisme mungkin akan angkat kaki di zaman ini, makanya jangan lagi dipertahankan zaman yang menurut generasi sekarang sudah bukan masanya lagi, sekarang zaman Nepalisme, yang semua kaum muda sudah muak dengan retorika dan angan-angan kosong serta irrasional. Karena itu pandai-pandailah menghisab diri, sesuaikan perbuatan kita selama ini, keputusan kita bagaimana, kekuasaan yang ada ditangan kita sekarang ini adil atau dhalim, baik atau buruk, keluarga saya bagaimana (anak-isteri dan handai tolan), kalau keluarga saja belum mampu diurus, mengapa suka sekali mengurus bangsa dan negara, mengapa suka sekali mengurus masyarakat, ini pemikiran generasi muda sekarang yang perlu dipikirkan bukan mengikuti kehendak atau ilmu para penjajah yang hanya menjadikan semua rakyat sebagai sapi perahan.

Hisblah dirimu sebelum rakyat jelata menghisabmu wahai para pemegang tampuk kekuasaan dan para punggawanya.

Wahai saudara-saudaraku yang sedang memerintah, yang sedang bertugas, yang sedang menjalankan amanah, yang sedang mengurus masyarakat, mengurus bangsa, mengurus negara, dan mengurus uang rakyat, mengurus airport, mengurus Pelabuhan, mengurus hasil bumi dan pengelolaan tambang, mengurus keluarga, takutlah kita akan hisab Allah yang Maha teliti, Maha tepat perhitungan-Nya, Maha adil keputusan-Nya, dan Maha benar perkataan-Nya.

Hindarilah menjadi penguasa dhalim, hindarilah menjadi suami yang dhalim, hindarilah menjadi ulama yang munafik, hindarilah menjadi pengikut Abdullah bin Ubay bin Salul yang selalu memberi kabar gembira dan menyenangkan kepada atasan atau pemimpin, jauhilah sifat-sifat angkuh dan sombong karena Firaun itu sombong, Marcos (mantan presiden Filipina) itu sombong, Donald Trump itu sombong, Netanyahu itu angkuh dan sombong, Kamal Attaturk itu sombong terhadap syariat Allah, dan banyak lagi para pemimpin yang angkuh dan sombong di dunia ini, namun mereka tidak akan pernah sadar karena semakin lama berkuasa semakin enak menjajah, menjarah, menindas, merampas, mengambil hal orang lain, bahkan kecenderungan membunuh orang-orang yang tidak sealiran dengan nya.

Baca Juga:  Pemprov Aceh Resmi Keluarkan Kebijakan WFH bagi ASN Setiap Jumat

Ketahuilah bahwa hidup ini singkat, dan umur kita tanpa disadari sudah menjelang senja sementara amal baik bukan semakin bertambah, bahkan kebaikan yang dahuu pernah kita lakukan tanpa disadari sudah lenyap dengan kejahatan tengah kita lakukan. Ingatlah hisab Allah itu pasti dan sangat adil.

Aisyah Umm al-Mukminin ketika menjelang ajal, para perawi meriwayatkan, ia begitu gelisah. Kemudian ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Apakah engkau gelisah, wahai Umm al-Mukminin, sedang engkau adalah isteri Rasulullah saw., dan bunda kaum beriman dan putri Abu Bakar siddiq r.a.?” Beliau menjawab, “Sungguh, peristiwa Jamal (perang jamal) melawan Ali r.a. berkecamuk di tenggorokanku. Andai saja aku adalah orang yang terlupakan.” (Ali Abdul Muhsin Jabbar:1995)

Hisab itu mengadili semua kesombongan, keangkuhan, kedhaliman, kemunafikan, kecongkakan, kejahiliyahan, dan ketiranian kita selama memimpin. Kita tidak bisa menghindari dari kepemimpinan dan tanggung jawab, karena Rasulullah telah bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpn harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, setiap pemimpin akan ditanya tentang hasilnya selama memimpin, oleh karena itu setiap diri harus belajar bagaimana Rasulullah memimpin keluarga, memimpn ummat (masyarakat), dan bangsa, memimpin perang, memimpin negara, dan memimpin peribadatan.

Kalau kepemimpinan Rasulullah saw tidak mampu melaksanakannya, maka ikutilah gaya kepemipinan Abu Bakar siddiq, gaya kepemimpinan Umar bin Khattab, gaya kepemimpinan Umar bin Abdul Azis (khalifah Bani Umayyah), gaya kepemiminan Harun al-Rasyid (khalifah Abbasiyah), dan kepemimpinan Iskandar Muda Meukuta Alam.

Baca Juga:  Dewan Pers Larang PWI Gunakan Kantor Hingga Gelar UKW

Mereka semua sebagai pemimpin yang merasa takut sekali akan hisab Allah dan karena itu dalam kepemimpinannya banyak hal yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah karena memiliki amalan khas dan terus berlanjut dilakukan semasa hidup mereka dan diikuti oleh ummat hingga akhir zaman semua kebaikan yang pernah mereka cetuskan. Mudah-mudahan kepemimpinan kita mendapat pengampunan dan amnesti dari Allah yang Maha Rahman.

Hisap pertama ketika manusia meninggal dunia setelah kita berada di alam barzakh atau ketika masuk ke dalam liang lahat, disinilah para petugas pemeriksa dari Allah memulai tugasnya sebagai auditor tahap pertama, dan semua amalan kita selama hidup itulah yang menjawab semua pertanyaan tersebut, namun jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat meyakinkan para auditor Allah, maka mulai disitulah azab kubur yang dahsyar akan dirasakan oleh manusia yang lalai ketika berada di atas bumi ini, dan beruntunglah orang-orang yang memiliki amal baik dan mereka akan mendapatkan nikmat di alam kubur hingga ke hari kiamat.

Sedangkan hisab yang kedua adalah ketika hari kiamat tiba, jembatan sirath adalah sebagai bukti apakah kita terseret ke dalam lembah neraka atau melintas secepat kilat ke dalam sorga.

Mudah-mudahan semua ummat Islam terbebas dari kedua hisab tersebut karena rumitnya mempertanggungjawabkan aktivitas dalam kehidupan ini. Dalam salah satu hadis Nabi saw yang artinya: “Jika kita dihisab, maka akan diazab.”

Namun kalau kita bebas dari hisab pertama di alam kubur, insya Allah selamat hingga ke hari kiamat. Itulah dambaan semua hamba Allah yang takut kepada sakitnya dicabut nyawa, dahsyatnya siksa di alam kubur, dan hiruk pikuknya keadaan hari kiamat.

Penulis adalah Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Provinsi Aceh

Bagikan:

Tinggalkan Komentar