Award Winners

Khianati Ideologi, PPP Terpuruk Ditinggal Umat

Harian Reportase - Senin, 22 September 2025
Khianati Ideologi, PPP Terpuruk Ditinggal Umat
Drs.Tgk.H.Ghazali Abbas Adan.  
Penulis
|
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Dalam group WA keluarga besar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang anggota di dalamnya juga para petinggi dan elit PPP, sudah berulang kali saya nyatakan, bahwa PPP bukan partai robot yang bergerak karena tombol yang ditekan orang lain.

Tetapi PPP adalah partai Islam warisan ulama dengan ideologi yang jelas, yaitu ideologi politik Islam sebagaimana termaktub dalam butir-butir Khidmat dan Prinsip Perjuangan PPP, ialah:

5 Khidmat, yakni; pertama, newujudkan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Kedua, menegakkan hak asasi manusia (HAM). Ketiga mewujudkan persatuan nasional. Keempat, musyawarah. Kelima, mewujudkan masyarakat adil makmur.

6. Prinsip Perjuangan, yakni; pertama prinsip ibadah. Kedua, prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Ketiga prinsip jejujuran, keadilan dan kebenaran . Keempat, prinsip musyawarah. Kelima, prinsip kesamaan, kebersamaan dan persatuan. Keenam, prisip istiqamah.

Butir-butir Khidmat dan Prinsip Perjuangan PPP itu muatan dan aktualisasinya dalam perspektif Islam rahmatan lil ‘alamin dan setiap butir berdasarkan dalil-dalil naqli, al-Quran dan Hadis.

Politisi PPP juga bukan politisi robot di mana dalam kerja-kerja politik ikut selera orang luar dan/atau mengikuti hawa nafsu dan seleranya, tetapi berdasarkan ideologi politik Islam rahmatan lil ‘alamin itu, pembawa rahmat kasih kasang bagi alam dan semua isinya.

Dengan demikian oleh umat PPP wabil khusus para petinggi, elitnya harus diaktualisasikan dalam kerja-kerja politik sehingga partai warisan ulama, rumah besar umat Islam kehadirannya dapat dirasakan mamfaatnya oleh rakyat/umat, dan menjadi nyata apa yang Rasulullah Muhammad saw tegaskan, bawa umat terbaik adalah kehadiran dan kiprahnya memberi manfaat bagi orang banyak, sehingga tepat kalau dikatakan PPP adalah partai terbaik kalau kerja-kerja politik memberi manfaat bagi rakyat banyak, dan berdasarkan ideologi politik Islam rahmatan lil ‘alamin sesungguhnya seperti inilah harapan para ulama pendiri PPP terhadap eksistensi dan peran PPP dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Era Pengkhianatan Ideologi

“Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan (menulis) sesuatu yang tidak kamu kerjakan?, (itu) sungguh dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan (tulis) apa yang kamu tidak kerjakan” (QS, As-Shaf, ayat 2-3).

‘Dan jikalaulah kebenaran itu menuruti keinginan (hawa nafsu) mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya” (QS, Al-Mu’minun, ayat 71).

Teramat sering ayat-ayat ini saya utarakan dalam group-group WA keluarga besar PPP, dengan harapan agar butir-butir khidmat dan prinsip perjuangan sebagai fondasi ideologi politik Islam tidak hanya dalam kertas, tetapi diaktualisasikan dalam kerja-kerja politik, dan tentu yang paling bertanggungjawab dan menjadi teladan adalah para pemimpin, petinggi dan elit PPP. Dan Rasulullah Muhammad saw juga menyatakan “Saya orang pertama berbuat terhadap apapun yang saya perintahkan kepadamu”.

Baca Juga:  Verifikasi Bakal Caleg Pemilu 2024 sampai 23 Juni 2023, Berikut Tahapannya

Kendati pernyataan dan peringatan sudah berdasarkan dalil naqli, para pemimpin PPP tetap saja keras kepala, kerja-kerja politiknya mengikuti hawa nafsu, tidak berdasarkan ideologi, dan faktanya fenomena seperti ini sudah berlangsung dalam waktu lama, yang saya sebut dengan era kerja-kerja politik berdasarkan hawa afsu dan mencampakkan, mengkhianati ideolgi politik Islam PPP yang menyebabkan tidak saja berdosa dan dibenci oleh Allah, namun pelan tapi pasti PPP terpuruk, nyungsep dan tenggelam karena ditinggalkan umat.

Dalam prinsip perjuang PPP ada butir berpolitik adalah bagian dari ibadah, dan ini wujud ketaatan kepada Allah, karena memang Allah tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya, yakni kita sebagai manusia dalam segala ruang dan waktu apapun aktifitas dan profesi, termasuk ketika berpolitik harus dalam rangka beribadah, yaki mencari ridha Allah, berdasarkan ilmu, sesuai dan konsisten, istiqamah dengan syariat-Nya. Lawan ibadah adalah maksiat, yakni perilaku yang merupakan antitesis dari ibadah.

Dalam era pengkhianatan ideologi di mulai dari event kontestasi kepempinan, di arena muktamar sudah dipraktikkan politik haram, munkar karena melanggar syariah, yakni sogok menyogok, suap menyuap (rasywah). Ini dilakukan dalam upaya mendapatkan jabatan top leader di partai, karena jabatan ini akan menjadi tiket untuk dapat masuk dalam jajaran pemerintahan sebagai menteri, dan dengan jabatan itu uang-uang yang sudah dikeluarkan ketika melakukan rasywah, dengan cara apapun diusahakan niscaya dapat kembali, bahkan kekayaanpun akan berlipat ganda, dan ini adalah bentuk nyata “hubbud dun-ya wakarahiyyatul maut” cinta dunia dan mengabaikan resiko pasca kematian.

Dalam prinsip perjuangan PPP ada butir amar ma’ruf nahi munkar, yakni disegala ruang dan waktu serta apapun resikonya dalam kerja-kerja politik pro-aktif, berani dan transparan melakukan, menyuruh yang ma’ruf (sesuai syariat) dan mencegah yang munkar (melanggar syariat Allah). Namun dalam era pengkhianatan ideologi, prinsip inipun diabaikan.

Adalah fakta dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kerap terjadi perilaku munkar, baik di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan hak asasi manusia (HAM), namun PPP yang kehadirannya berasas politik Islam rahmatan lil ‘alamin, namun para petinggi, pemimpin PPP yang sejatinya merupakan representasi dan teladan bagi PPP dan umatnya sunyi seyap belaka, membisu, sehingga dengan fakta ini para pengamat politik kerap menyatakan pemimpin PPP hanya meminkirkan dirinya, tidak memikir nasib rakyat, tidak amanah, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Juga ada ungkapan nasib PPP seperti saat ini, keluar dari Senayan, tidak bermarwah, tidak berwibawa dan tidak dihargai karena PPP meninggalkan rakyat/umat, bukan rakyat/umat meninggalkan PPP. Ironis, tragis dan sangat menyedihkan seperti ini nasib malang partai Islam warisan ulama, berlambang Ka’bah Musyarrafah di negara yang rakyatnya manyoritas muslim.

Baca Juga:  Muktamar X Momentum PPP Kembali Bangkit

Ketidakadilan dalam hukum di mana penegakan hukum yang tebang pilih, tumpul keatas dan tajam kebawah dengan mata telanjang dapat dilihat di negeri ini. Padahal dalam butir prinsip perjuangan PPP kebenaran dan keadilan harus ditegakkan, sesuai perintah Allah; “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menegakkan keadilan dan berbuat kebajikan” (QS, An-Nahl, ayat 90), “Wahai orang-orang beriman jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap satu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa”(QS, Al-Maidah, ayat 8).;*

“Dialah Allah telah menciptakan kamu dari tanah (bumi) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (QS, Hud, ayat 61).di bumi ini”. Maksud ayat ini ada dalam butir khidmat PPP, yakni mewujudkan masyarakat adil makmur.

Betapa ketimpangan kehidupan sosial dan ekonomi dalam kehidupan rakyat begitu nyata. Sebut saja semisal nasib malang yang menimpa rakyat Pulau Rempang di Keppri oleh ulah petingggi negeri, demikian juga terjadi di wilayah Banten dengan kasus pagar laut yang sampai saat ini belum ada penyelesaiannya.

Dalam butir khidmat PPP juga dibubuhkan “penegakan hak asasi manusia dalam perspektif Islam”. Ini sesuai dengan firman Allah; “Dan sungguh Kami telah memuliakan anak Adam (manusia), dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (QS, Al-Isra’, ayat 70).

Di negeri ini kerap terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM), bahkan sampai terjadi penghilangan nyawa manusia. Seperti kasus KM 50 yang menewaskan beberapa anggota FPI, demkian juga hilangnya banyak nyawa manusia karena gas air mata di Kanjuruhan Malang. Terbaru kasus akhir Agustus lalu hilangnya nyawa bebarapa manusia oleh tindakan aparat.

Mengenai penghilangan nyawa manusia, Allah telah berfirman; “Bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena ia itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia” (QS, Al-Maidah, ayat 32).

Baca Juga:  Selamatkan PPP Dari Tangan Pemimpin Gadungan Dan Gerombolan Pengikut Syaitan

Kasus korupsi yang begitu dahsyat di negeri ini, yang terbaru sebut saja kasus kouta haji yang sedang diusut KPK, menurut banyak pihak menyatakan terhadap kasus ini tidak hanya diusut di seputar kementerian agama di mana Yaqut mantan menag sebagai aktor utama, tetapi jiuga harus diusut Jokowi mantan presiden sebagai aktor lebih utama, karena mustahil makhluk pembohong ini tidak tahu telah terjadi palanggaran undang-undang dari 92/8 persen ke 50/50 pembagian kuota haji itu, dan ketika Yaqut begitu lama kabur ke luar negeri untuk menghindar hadir dalam rapat-rapan pansus haji DPR-RI tidak mungkin Yaqut berulah demikian tanpa sepengetahuan dan izin Jokowi sang presiden bosnya Yaqut itu.

Terhadap membisu dan sikap pertinggi PPP berkaitan kasus perbuatan munkar semisal tersebut, dan banyak lagi kasus lain selama ini di masing-masing era kepeminpinan PPP di masa reformasi, wabil khusus era kepemimpinan terakhir, bahwa top leader PPP Mardiono seperti selama ini kerap saya nyatakan, karena ulahnya mengelolala PPP secara liar dan agal-ugalan sesuai hawa nafsu, berkhianat kepada ideologi politik Islam yang menyebabkan PPP gagal, nyungsep dan tenggelam di Senayan sehingga saya menyebutnya sebagai makhluk gagal, juga tidak pernah terdengar suara dan terlihat sikapnya menentang munkarat (perbuatan munkar) yang terjadi, karena memang berdasarkan rekam jejak sebagai politisi makhluk gagal ini tidak memiliki nyali dan lebih dari itu tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menyuarakannya, karena tidak jelas jenjang pendidikannya.

Dan yang sangat fatal dari kerja politik ugal-ugalan Mardiono adalah berkaitan dengan tindakannya dalam pilpres yang lalu. Dia ikut selera dan kehendak Jokowi mengusung untuk Ganjar Pranowo sebagai capres, padahal dia adalah kader tulen partai dengan ideologi marhaenisme, yang oleh Soekarno disebut sebagai marxisme yang diterapkan di Indonesia.

Betapa kala itu setelah mengambil kesimpulan demikian, langsung menghadap Jokowi di istana melaporkan bahwa selera dan kehendak junjungannya itu sudah dilaksanakan, kendati kemudian Jokowi memiliki calon lain yang menyebabkan Mardiono kelimpungan, nasi sudah menjadi bubur. Inilah akibat kerja-kerja politik tanpa dasar ideologi, dan oleh banyak pengamat menyatakan tindakan Mardiono ini menjadi sebab musabab dominan PPP ditinggalkan umat.

Allaahumma innii qad ballaghtu Allaahumma fasyhad, ya Allah lihatlah saya sudah menyampaikan.

Penulis adalah Ghazali Abbas Adan atau akrab dipanggil Abang Jakrta 1979, Politisi senior PPP dan Mantan Anggota Parlemen, DPR/DPD/MPR-RI.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar