HARIANREPORTASE.com — Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra sedang duduk, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Mesir. Datang kepada Umar penduduk Mesir yang mengadukan anak gubernur Mesir, ‘Amr bin al-‘Ash, ia mengatakan bahwa anaknya telah menzhaliminya.
Orang itu berkata, “Aku meminta perlindungan padamu dari kezhaliman.” Umar berkata, “Kau telah meminta perlindungan pada tempat berlindung.”Orang itu melanjutkan, “Aku berlomba balapan kuda dengan anak gubernur dan aku berhasil mengalahkannya. Tak terima, ia pun memukulku dengan cambuk dan berkata, ‘Aku adalah anak dua orang yang mulia’.
Mendengar hal ini, Umar segera memanggil ‘Amr dan juga anaknya. Umar berkata, “Mana orang Mesir itu? Ambillah cambuk dan cambuk dia.” Orang itu pun mencambuknya. Sambil Umar mencibir anak ‘Amr, “Pukullah anak dua orang yang mulia ini.”
Anas bin Malik berkata, “Demi Allah, awalnya kami ingin agar dia dibalas cambuk, tapi selesai dicambuk, kami berharap hukuman itu diangkat atasnya.” Setelah itu , Umar memerintahkan orang Mesir tadi, “Cukur gundul kepala Amr bin al-‘Ash.” Orang Mesir itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, yang memukulku adalah anaknya dan aku telah membalasnya dengan puas.”
Umar kemudian berkata pada ‘Amr, “Sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka?”
Kisah tersebut adalah gambaran hakikat merdeka. Bahwa sebagai makhkuk ciptaan Allah Ta’ala semua manusia berhak mendapatkan persamaan. Allah ciptakan perbedaan-perbedaan di antara manusia agar kehidupan ini berjalan dinamis.
Di dunia ini tidak mungkin semua orang menjadi pejabat tanpa adanya rakyat atau semuanya menjadi rakyat tanpa pejabat. Pejabat memerlukan rakyat sebagaimana rakyat juga membutuhkan pejabat untuk memimpinnya.
Tidaklah semua orang kaya, sebagaimana tidak pula semuanya miskin. Orang kaya memerlukan orang miskin demikan pula sebaliknya. Kelebihan satu dari yang lainnya bukanlah alasan untuk berlaku zalim dan berbuat semau-maunya tanpa aturan.
Demikian pula halnya dengan kekurangan, jangan membuat lemah hingga diam saja saat dizalimi dan tidak berani mengambil kebenaran yang menjadi haknya.
Posisi yang tinggi dalam jabatan dan kelebihan harta benda karena kaya bukanlah semata-mata ukuran kemulian seseorang namun lebih sebagai ujiannya.
Seorang pejabat diuji dengan jabatannya hingga jelaslah ia adalah seorang pejabat yang amanah.
Begitu pula orang yang kaya akan diuji dengan kekayaannya hingga jelaskan ia adalah seorang yang dermawan dan tidak menyombongkan diri karena kekayaannya. Firman Allah Ta’ala:
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-an’aam: 165)
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32)
Agama Islam mengajarkan soal egalitarianisme, persamaan dan tidak mengenal sistem kasta. Semua orang memiliki derajat sama di hadapan Allah.
Semua manusia berasal dari nenek moyang yang satu, nabi Adam yang berasal dari tanah. Ttidak ada kelebihan satu bangsa dari bangsa lainnya , tidak pula seorang manusia dari manusia lainnya kecuali karena takwanya kepada Allah, sebagaimana Al-Quran nyatakan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13)
Islam dengan ajarannya yang progresif dan inspiratif membongkar akar feodalisme dan eksploitasi sesama manusia sebagai penghalang kemerdekaan dan kesetaraan manusia.
Keharusan menghargai martabat manusia berangkat dari keyakinan bahwa Allah meniupkan roh-Nya pada kejadian setiap insan di dalam rahim ibunya.
Manusia bukan hanya semata-mata sebagai makhluk biologis dan makhluk bumi, tetapi sekaligus juga makhluk spiritual karena eksistensi manusia terhubung dengan Rabbnya.
Bukankah setiap manusia telah terikat perjanjian dengan Allah sebagai Rabb-nya? Bukankah Allah sebagai Penciptanya telah memuliakannya, memberikannya rezeki yang baik-baik dan dilebihkan dari kebanyakan makhluk yang diciptakan-Nya dengan kelebihan yang sempurna. Firman-Nya:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Isra: 70)
Sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam menganggap kemerdekaan sebagai satu hal yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Islam mengajarkan cara pandang terhadap sesama manusia dalam perspektif persamaan derajat dan kemuliaan martabat kemanusiaan.
Ajaran ini melahirkan prinsip persamaan manusia di mata hukum, menegakkan prinsip-prinsip kemerdekaan, toleransi dan hak asasi manusia tidak hanya di atas landasan tauhid dan namun juga perlindungan martabat sesama manusia.
Islam mengajarkan, setiap manusia harus dihargai karena ia dilahirkan sebagai manusia, sebagai satu pribadi yang utuh.
Ilmu, kecerdasan intelektual, ras, suku, bangsa, kekuasaan dan kekayaan tidak menentukan tinggi-rendahnya nilai kemanusiaan seseorang.
Semua manusia bersaudara dalam iman atau bersaudara dalam kemanusiaan. Khalifah Ali bin Abi Thalib karrama wajhahu pernah mengatakan, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”
Dalam sejarahnya, Islam rahmatan lil ‘alamin telah berhasil membangun peradaban besar yang memberikan sumbangan sangat menentukan dalam sejarah peradaban umat manusia hingga ke zaman ini.
Demikian pula sumbangannya dalam rangka mengakui dan menghormati harkat dan martabat manusia. Tidaklah berlebihan kiranya, jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan. Dalam konteks ini, secara universal Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk berlaku adil kepada sesama manusia:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maidah: 8)
Rasulullah saw telah memberikan contoh dan keteladannya dalam masalah ini. Beliau tidak membeda-bedakan manusia dalam masalah hukum. Dalam satu riwayat dijelaskan:
“Orang-orang Quraisy mengkhawatirkan nasib seorang wanita dari Bani Makhzum yang kedapatan mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa melobi Rasulullah saw?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai oleh Rasulullah saw. Maka Usamah pun melobi Rasulullah saw untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan.
Rasulullah saw kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’ Rasulullah saw pun berdiri dan berkhutbah,
‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688)
Kehadiran manusa di atas bumi ini telah ditetapkan untuk menjadi hamba dan menghamba kepada Allah semata. Inilah makna merdeka sejatinya. Inilah tujuannya.
Kegagalan mencapai tujuan ini berarti kehilangan kemerdekaannya. Karenanya khalifah Umar ibn Al-Khattab mengatakan kepada ‘Amru ibn Al-‘Ash: “Sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka?”
Hari ini kita mungkin tak lagi sedang berperang secara fisik sebagaimana ulama-ulama, para pejuang dan pahlawan kita terdahulu, tapi kita masih punya cukup banyak masalah kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan, kecurangan, narkoba, kerusakan moral, LGBT, nasionalisme yang semakin tipis dan lain-lainnya yang juga wajib kita perangi.
Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan hamdalah, sujud syukur, dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif dalam rangka peningkatan kesalehan personal maupun sosial.
Untuk itu, peran kader dakwah diharapkan dapat lebih optimal dalam kerja dan gerak melalui proses pembinaan, pemberdayaan serta pembentukan karakter umat dan bangsa.
Semoga ke depannya, cita-cita kemerdekaan terwujud secara konkrit, keadilan dan kesejahteraan dirasakan penuh secara menyeluruh oleh bangsa ini. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wabil khushush tentunya untuk saudara-saudara kita seiman di Palestina. Semoga Allah segera memberikan kemenangan bagi mereka dan kebebasan Masjidil Aqsha. Wallahul Musta’an