Banda Aceh, HARIANREPORTASE.com — Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025 menjadi peringatan serius tentang rapuhnya keseimbangan ekologis.
Di tengah momentum Ramadhan 1447 Hijriah, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi, M.Ed., Ph.D, mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan landasan teologis sekaligus ilmiah tentang kewajiban manusia menjaga alam.
Merujuk pada QS. Lukman ayat 20, Rahmadon menekankan pentingnya integrasi iman, ilmu, dan aksi lingkungan. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah “menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi” serta menyempurnakan nikmat-Nya, lahir dan batin.
“Ketika kita mengejar Proyek Ramadhan melalui tadarus ayat-ayat Qur’aniyah, kita menemukan pelajaran tentang bagaimana iman tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus terhubung dengan tanggung jawab ekologis,” ujarnya.
Menurut Rahmadon, frasa “menundukkan langit dan bumi” dapat dipahami secara ilmiah sebagai bentuk fine-tuning kosmologis yang memungkinkan kehidupan di bumi. Atmosfer menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet berbahaya, medan magnet bumi melindungi dari angin matahari, dan konstanta gravitasi berada pada presisi yang menjaga stabilitas orbit.
“Keseimbangan fisika, kimia, dan biologi adalah prasyarat ontologis kehidupan. Nikmat lahir bukan hanya udara dan air, tetapi juga siklus hidrologi global yang menjaga distribusi air. Sementara nikmat batin tampak pada kapasitas akal manusia—neuroplastisitas otak—yang memungkinkan kesadaran etis,” jelasnya.
Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan banjir yang melanda sejumlah daerah seperti Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam. Curah hujan ekstrem diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat deforestasi.
“Hilangnya tutupan hutan meningkatkan limpasan permukaan dan erosi tanah. Ketika hutan di hulu rusak, hujan yang semula nikmat berubah menjadi bencana hidrometeorologi. Ini bukan sekadar faktor cuaca, tetapi gangguan antropogenik terhadap keseimbangan alam,” tegasnya.
Rahmadon juga mengkritik mentalitas saling menyalahkan tanpa dasar ilmiah. Ia menilai sikap blame-shifting—menyalahkan cuaca atau pemerintah semata—tanpa solusi berbasis data seperti restorasi ekosistem DAS, merupakan bentuk pengabaian terhadap amanah keilmuan.
“Al-Qur’an juga memperingatkan agar tidak membantah tanpa pengetahuan. Artinya, respon terhadap bencana harus berbasis riset, kolaborasi, dan kebijakan yang berkelanjutan,” katanya.
Dalam momentum Ramadhan, ia mengajak umat Islam mengoperasionalkan nilai eco-theology melalui langkah konkret. Di antaranya, sedekah untuk program reboisasi, penguatan literasi sains berbasis masjid, serta perencanaan program lingkungan berkelanjutan.
Ia mencontohkan, waktu sahur dapat menjadi momen tafakkur atas nikmat air sekaligus merencanakan sedekah untuk penghijauan. Saat tarawih, doa dan penggalangan bantuan bagi korban banjir bisa digerakkan. Bahkan i’tikaf dapat diisi dengan perencanaan program penanaman pohon dan rehabilitasi DAS secara kolaboratif.
“Banjir Sumatera 2025 bukan hukuman ilahi, tetapi alarm sistemik atas kelalaian manusia. Nikmat lahir dan batin menuntut stewardship ilmiah, bukan ritual kosong,” ujarnya.
Sebagai Wakil Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Aceh, Rahmadon berharap masjid-masjid menjadi pusat gerakan ekologis.
“Satu pohon ditanam, satu kehidupan diselamatkan. Inilah jawaban umat terhadap panggilan Lukman—iman yang berbuah aksi, ilmu yang melahirkan solusi,” pungkasnya.