Award Winners

Belajar dari Masjid Jogokariyan: Membangun Kembali Kekuatan Umat Melalui Masjid

Harian Reportase - Rabu, 11 September 2024
Belajar dari Masjid Jogokariyan: Membangun Kembali Kekuatan Umat Melalui Masjid
Founder Halaqah Aneuk Bangsa, Teuku Alfin Aulia.  
Penulis
|
Bagikan:

Oleh: Teuku Alfin Aulia
(Alumni Dayah Ulumuddin, Founder Halaqah Aneuk Bangsa)


HARIANREPORTASE.com — Tepat beberapa bulan yang lalu, penulis berkesempatan mengikuti kegiatan pembekalan di Pondok Pesantren Al Hadi Yogyakarta, yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta, selama sebulan penuh.

Selama di sana, kami tertarik dengan sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari lokasi kami, yaitu Masjid Jogokariyan. Jika dilihat dari sisi arsitektur, tidak ada yang istimewa dari setiap rincian bangunannya, dan posisinya juga terletak di dalam areal pemukiman masyarakat.

Kami terkesima saat melihat jamaah shalat lima waktu yang selalu sesak dan penuh di Masjid Jogokariyan. Setiap kali adzan berkumandang, masjid ini dipenuhi oleh jamaah dari berbagai usia, menunjukkan antusiasme dan komitmen masyarakat terhadap ibadah. Melihat kerumunan orang-orang yang datang dengan penuh semangat, kami merasakan betapa kuatnya ikatan spiritual yang terjalin di antara mereka.

Suasana khusyuk dan harmoni saat sholat berjamaah menciptakan energi positif yang menggetarkan jiwa. Terlepas dari kesibukan sehari-hari, mereka dengan setia meluangkan waktu untuk berkumpul dan beribadah. Ketika azan berkumandang, para penduduk setempat segera beranjak menuju masjid, dan para pedagang di sekitar masjid langsung menutup gerai-gerai mereka, beramai-ramai menuju masjid.

Ukuran masjid ini tak seberapa luas jika dibandingkan dengan masjid-masjid di daerah kami. Namun, dengan penuh antusias, warga sekitar memenuhi masjid saat azan berkumandang, bahkan mereka rela berdesakan dan menggelar tikar di pinggiran masjid meskipun harus berpanas-panasan di bawah terik matahari ketika saf-saf di dalam masjid sudah penuh.

Jamaah yang hadir di masjid ini juga bukan hanya warga sekitar; para pelancong dari berbagai daerah yang ingin menikmati wisata religi di Yogyakarta pun merasa tidak lengkap jika tidak mengunjungi masjid yang terletak di kampung syariah Jogokariyan ini.

Setelah berdiskusi dan berinteraksi dengan warga sekitar masjid, rasa kagum kami semakin bertambah seiring berjalannya waktu, mendorong kami untuk terus menggali lebih dalam informasi mengenai masjid ini.

Masjid Jogokariyan pada awalnya hanyalah sebuah langgar kecil yang didirikan pada tahun 1967 oleh beberapa warga setempat pasca peristiwa G-30 S PKI. Sebelum peristiwa tersebut, Jogokariyan merupakan salah satu kampung yang tergolong “merah” dan pernah menjadi basis massa PKI.

Mayoritas warga di kampung ini adalah bekas abdi dalem Kesultanan Yogyakarta, yang pada saat itu masih kurang memahami ilmu agama.

Masjid ini dibangun di atas sepetak tanah wakaf berukuran 600 meter persegi, yang hingga kini telah dikembangkan menjadi 1.118 meter persegi. Nama masjid yang diambil dari nama kampung tersebut ditujukan untuk mempersatukan warga Kampung Jogokariyan yang saat itu terkotak-kotak secara ideologis.

Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk meneladani masjid yang pertama kali dibangun Nabi Muhammad SAW sebelum masuk ke kota Madinah, yang terletak di perkampungan Qubba’ dan dikenal dengan nama Masjid Qubba’.

Perkembangan masjid ini pada mulanya tidak memiliki perbedaan mencolok dengan masjid lainnya, hingga pada tahun 1999 terjadi pergantian ketua takmir masjid yang kemudian merubah paradigma masjid ini dan menginspirasi masjid-masjid di seluruh Indonesia bahkan dunia. Seluruh usaha ini tidak dapat dipisahkan dari sosok inspiratif bernama H.M. Muhammad Jazir, ASp, yang diangkat menjadi ketua takmir Masjid Jogokariyan pada tahun 1999 menggantikan ketua takmir yang sebelumnya telah wafat.

Mulai tahun pertama menjabat, beliau dihadapkan dengan kondisi anggaran masjid yang defisit; tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Tercatat di tahun tersebut, masjid hanya memiliki dana sekitar Rp 8.640.000 yang harus dipakai untuk menutupi pengeluaran masjid yang setahunnya mencapai Rp 42.300.000. Alih-alih meminta bantuan kepada pejabat maupun pemerintah terkait, sebagai ketua takmir masjid, beliau memilih untuk fokus membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat Jogokariyan terhadap masjid. Menurut beliau, meminta bantuan dan menyodorkan proposal bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang pemimpin. Selain akan melahirkan pemimpin berjiwa lemah, beliau juga mendorong kemandirian ekonomi lembaga-lembaga dakwah dari berbagai kepentingan pihak luar.

Baca Juga:  Lima Kebiasaan Yang Perlu Dihindari Setelah Makan

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan perhatian mereka terhadap kemakmuran masjid, beliau mengevaluasi pelayanan masjid. Menurut beliau, masjid harus dibuka selama 24 jam, meneladani masjid Nabi yang terus terbuka dan tidak pernah ditutup hingga hari ini. Masjid Nabawi menjadi tempat beristirahatnya para musafir yang tidak memiliki keluarga di Madinah dan tempat bernaungnya ahlus-shuffah; mereka yang tidak memiliki rumah. Selain itu, beliau juga mulai mengevaluasi bagian-bagian yang selama ini sangat sedikit diperhatikan oleh para takmir masjid, salah satunya adalah toilet atau tandas. Sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan orang banyak, toilet yang disediakan masjid seringkali tidak terurus bahkan jauh dari kata layak.

Menurut beliau, masjid harus dibuat senyaman mungkin dengan segala fasilitasnya agar fungsi masjid sebagai tempat berkumpulnya umat dapat berjalan dengan baik. Beliau juga tidak melarang para musafir yang ingin merebahkan badannya bahkan hingga bermalam di masjid.

Usaha-usaha evaluatif dalam memperbaiki pelayanan masjid membawakan hasil yang tak disangka-sangka. Dari kondisi yang defisit, perlahan saldo keuangan masjid meningkat bahkan mampu menutupi dan melebihi kebutuhan masjid setiap tahunnya. Pada tahun 2003, pendapatan masjid meningkat hingga mencapai Rp 95 juta per tahun, berkali-kali lipat lebih besar dari 4 tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 8,6 juta. Tak berhenti di situ, masjid mulai membangun program kemandiriannya dengan membentuk Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) yang berasal dari hasil infaq masjid dan wakaf produktif.

Selain masalah keuangan, beliau dihadapkan dengan realitas yang sangat pelik lainnya. Menurut sensus yang dilakukan oleh masjid di tahun tersebut, terdapat 816 dari total 1.839 warga muslim mukallaf Jogokariyan yang belum bisa bahkan mau melaksanakan shalat. Hal ini wajar terjadi mengingat kampung ini juga merupakan bekas basis PKI pada masanya. Menurutnya, masjid harus hadir dalam menuntaskan permasalahan ini. Masjid tidak cukup hanya berperan menyeru manusia melalui azan. Selain seruan, masjid harus hadir dalam mengedukasi kaum muslimin di sekitarnya untuk mampu dan bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibannya.

Dalam mengatasi hal tersebut, beliau membentuk tim-tim kecil di antara para takmir masjid yang bertugas melakukan dakwah secara perlahan-lahan kepada setiap rumah yang belum melaksanakan shalat. Pihak masjid kemudian menyediakan para ustadz yang akan mengajar keluarga-keluarga yang belum shalat tadinya secara door to door (dari rumah ke rumah). Hal ini dilakukan untuk memutus rantai kaum muslimin yang masih lalai akan shalatnya.

Selain itu, di dalam masjid sendiri sering diadakan kegiatan dorprize, pembagian voucher sembako dan minuman, yang ditujukan untuk menarik jamaah yang baru memahami dan hatinya baru tertarik untuk shalat agar semakin bersemangat untuk melaksanakan shalat, terutama di masjid.

Hal-hal yang dilakukan ini secara bertahap mengurangi jumlah keluarga Jogokariyan yang belum mampu untuk melaksanakan shalat, hingga kini sensus yang dilaksanakan masjid menunjukkan bahwa jumlah keluarga muslim yang belum dan tidak mampu shalat tak lagi tersisa.

Baca Juga:  Seleksi CPNS Jalur Sekolah Kedinasan Dibuka Mulai 15 Mei 2024, Berikut Jadwal Lengkapnya

Selain menghidupkan dan memakmurkan masjid, H. Muhammad Jazir, sosok inspiratif di balik bangkitnya Masjid Jogokariyan, menyebutkan pentingnya kehadiran masjid dalam menangani permasalahan umat. Masjid harus menjadi tempat bertumpunya umat, baik secara ekonomi maupun lainnya. Menyadari banyaknya masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan, Masjid Jogokariyan sejak dahulu sudah berinisiatif menyediakan ATM beras yang dapat diisi oleh mereka yang mampu dan dapat diambil secara gratis oleh mereka yang kurang mampu.

Selain itu, Masjid Jogokariyan juga membangun Baitul Mal masjid guna mengelola zakat dan mendistribusikan zakat umat sejak tahun 2003. Masjid terlibat dalam membina dan mengembangkan kekuatan keuangan umat, serta turut memberikan modal usaha kepada warga sekitar yang ingin memulai usahanya. Tak sekadar memberi modal, masjid juga mengadakan pembinaan terhadap warga yang ingin memulai usahanya agar dapat bersaing dan memperoleh rezeki yang berkah. Selain mengadakan pengajian keagamaan, masjid juga sering mengadakan workshop dan pelatihan guna membina kreativitas warga sekitar.

Alhasil, jika di tahun 2003 hanya terdapat 19 orang muzakki, dengan total zakat dalam satu tahun hanya mencapai Rp 5 juta, di tahun 2022 total muzakki sudah mencapai 659 orang dengan perolehan zakat mal mencapai Rp 3,5 miliar per tahun dan zakat produktif yang mencapai Rp 7 miliar. Selain itu, jumlah infaq yang di tahun 2003 hanya Rp 43 juta, kini meningkat menjadi Rp 12 miliar per tahun. Mereka yang berinfaq dan berzakat adalah mereka yang dahulu hidup di bawah garis kemiskinan dan dimodali oleh masjid.

Pada tahun 2023, takmir masjid membeli sebuah hotel di pusat kota Yogyakarta sebagai salah satu aset wakaf produktif milik masjid. Keuangan yang dikeluarkan untuk kebutuhan internal masjid seluruhnya berasal dari hasil wakaf produktif. Sedangkan dana zakat mal yang mencapai Rp 3,2 miliar dan infaq yang mencapai Rp 12 miliar, seluruhnya dikembalikan manfaatnya untuk umat melalui kegiatan kesejahteraan sosial, perbaikan rumah, beasiswa pendidikan, modal usaha, dan lain sebagainya.

Saat masa-masa Covid-19, Masjid Jogokariyan hadir mengatasi jumlah pegawai yang dirumahkan akibat pandemi dengan membina dan membangun lapangan kerja rumahan. APD, masker, oksigen, dan bahan-bahan yang dibutuhkan masyarakat saat itu disediakan secara gratis oleh masjid tanpa henti. Menurut H. Muhammad Jazir, masjid harus menjadi pelindung umat di saat institusi lain tidak mampu hadir memberi perlindungan.

Beliau menambahkan bahwa, masjid yang hanya dibangun dengan indah dan megah tanpa memikirkan umat di sekitarnya, merupakan “Candi-Candi Islam” yang wujud di masa ini. Karena di masa sebelum Islam, candi-candi megah yang dibangun dan dapat kita saksikan hingga saat ini, berdiri di saat kondisi masyarakatnya hidup dalam kesulitan dan ketimpangan. Hingga akhirnya, juru dakwah Islam datang dan mereka berbondong-bondong memeluk Islam.

Bukankah kondisi ini berbalik terjadi di dalam kehidupan kaum muslimin Indonesia dan dunia saat ini? Permutadan dapat dengan mudah terjadi di mana-mana hanya karena iming-iming sekotak mie instan. Demikian murahnya iman di hati mereka akibat kefakiran yang terjadi. Benarlah sabda Rasulullah SAW bahwa kefakiran dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran.

Hal-hal yang telah penulis sebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari usaha dan pengabdian Masjid Jogokariyan terhadap umat selama ini. Banyak hal lainnya yang tidak dapat satu per satu penulis sebutkan melalui tulisan singkat ini. Selama hampir dua bulan lamanya meneliti dan mengkaji serta melakukan komunikasi intens dengan warga di sekitar masjid, penulis menemukan pelajaran yang begitu berharga dari konsep imarah masjid ini.

Baca Juga:  Dua Santriwati SMA Darul Quran Aceh Lulus Program Pertukaran Pelajar Internasional

Demikianlah perjalanan singkat dari suksesnya pemberdayaan umat melalui Masjid Jogokariyan; Rumah Allah yang memihak kepada rakyat. Kampung yang sebelumnya dikenal merah kini berubah menjadi hijau. Tak ada yang mustahil untuk dapat dirubah; mereka yang hari ini memenuhi shaf-shaf shalat jamaah Masjid Jogokariyan adalah anak-anak PKI dan simpatisannya yang dahulunya berada di sana. Mereka yang dahulu hidup di garis kemiskinan kini dapat hidup mapan berkat kehadiran masjid yang peduli kepada mereka.

Sudah saatnya masjid kembali menjadi pusat revolusi umat. Masjid harus kembali menuju kemandirian ekonominya, menunjukkan izzahnya (kemuliaannya) sebagai rumah Allah di atas permukaan bumi dengan sebenar-benarnya. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan memperbanyak dan memperbaiki pengelolaan wakaf produktif masjid.

Hal ini juga dilakukan di Masjidil Haram yang tidak menyediakan satu kotak infaq pun di dalamnya. Pengelolaan dan pemeliharaan Masjidil Haram berasal dari wakaf-wakaf produktif yang dikelola badan wakaf Masjidil Haram, berupa hasil dari keuntungan hotel-hotel yang ada di sekitar Masjidil Haram dan properti lainnya.

Sejak berabad-abad sebelum masuknya Barat menjajah negara-negara muslim, lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah Islam secara sepenuhnya dapat beroperasi mandiri dengan pengelolaan wakaf produktif, yang kemudian hari ditiru Barat sebagai dana abadi dan terus diadopsi oleh lembaga-lembaga pendidikan Barat hingga kini. Al-Azhar, salah satu masjid dan pusat pendidikan tertua di dunia, dapat terus berkembang dengan wakaf produktifnya hingga kini. Di negeri ini (Aceh), hampir setiap masjid di masa kesultanan dahulu memiliki aset wakaf produktif yang disebut “umoeng meusara” (istilah tanah wakaf dalam bahasa Aceh).

Meski diadopsi Barat, nyatanya wakaf merupakan salah satu hal yang pertama kali dihilangkan oleh Barat di negeri-negeri kaum muslimin saat mereka menjajah negeri-negeri kaum muslimin.

Selain itu, masjid harus kembali menjadi pusat kegiatan umat. Sejak dahulu, masjid ditempatkan di pusat kota dengan tujuan menjadi jantung umat, yang berfungsi dalam mengumpulkan dan mengonsolidasikan kekuatan umat. Kompleks bangunan masjid-masjid (jami) yang dibangun di masa Turki Utsmani dan masih dapat ditemukan hingga hari ini, seperti Masjid Sulaimaniyye di Istanbul, tidak hanya menyediakan ruangan shalat saja, tetapi juga dilengkapi dengan madrasah dan kuliyye sebagai pusat pendidikan, rumah sakit, dan bazar yang menjadi pusat transaksi.

Sudah saatnya masjid tidak hanya mampu mengedarkan kotak-kotak infaqnya kepada umat, tetapi juga mampu menjadi pusat umat menyusun kekuatannya, baik kekuatan ekonomi, politik, dan lainnya. Masjid harus kembali menjadi tempat umat bertumpu dan bersatu, bukan malah menjadi sumber perpecahan umat.

Umat Muslim saat ini harus segera sadar akan kondisinya yang begitu rapuh, terutama di dalam bidang ekonomi. Jusuf Kalla, selaku ketua DMI (Dewan Masjid Indonesia), suatu saat pernah menyebutkan bahwa, “… Lihat saja, kalau ada 10 orang kaya di Indonesia, paling tinggi 1 yang muslim, yang lainnya nonmuslim. Kalau ada 100 orang miskin, saya kira 90 persen yang miskin itu umat Islam…”

Melalui pemberdayaan masjid, kekuatan umat dapat kembali bangkit dengan nilai-nilai ukhuwwah dan persatuan. Selain itu, melalui pemberdayaan masjid diharapkan akan terlahir kembali para pemimpin bertaqwa yang bernafas dengan nafas Islam, yang memihak sepenuhnya kepada rakyat dan kepentingan umat, serta dapat menuntun negeri ini menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar