Award Winners

Tradisi Meugang, Warisan Budaya Aceh Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Harian Reportase - Rabu, 11 Februari 2026
Tradisi Meugang, Warisan Budaya Aceh Menyambut Bulan Suci Ramadhan
  Harian Reportase
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Banda Aceh , Harian Reportase – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh kembali melaksanakan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan Meugang. Tradisi ini menjadi momen penting bagi warga Aceh sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penanda bahwa Ramadhan akan segera tiba.

Meugang biasanya dilaksanakan satu hingga dua hari sebelum awal Ramadhan. Pada hari tersebut, masyarakat berbondong-bondong ke pasar untuk membeli daging sapi atau kerbau yang kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga.

Tak hanya sekadar tradisi makan bersama, Meugang memiliki makna sosial, budaya, dan religius yang sangat kuat.

Baca Juga:  Kantor Pertanahan Kabupaten Simeulue Hadiri Rapat Koordinasi Reforma Agraria Nasional 2025

Sejak pagi hari, suasana pasar tradisional di berbagai daerah di Aceh tampak ramai. Penjual daging melayani pembeli yang datang dari berbagai kalangan. Meski harga daging cenderung mengalami kenaikan saat Meugang, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme masyarakat. Bagi orang Aceh, Meugang merupakan bagian tak terpisahkan dari penyambutan Ramadhan.

Selain kebersamaan keluarga, Meugang juga sarat dengan nilai kepedulian sosial. Masyarakat yang mampu dianjurkan untuk berbagi daging kepada fakir miskin, anak yatim, dan tetangga yang membutuhkan, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan menjelang Ramadhan.
Daging Meugang biasanya diolah menjadi berbagai masakan khas Aceh, seperti sie reuboh, sie asam keueng, dan daging masak merah dengan bumbu rempah yang kaya rasa. Aroma masakan dari rumah ke rumah menciptakan suasana khas yang menambah semarak tradisi ini.

Baca Juga:  Baju dan Sepatu Bekas Impor Marak di Pasar, Laboran Ingatkan Bahayanya

Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan sekadar kegiatan memasak dan makan daging, tetapi juga merupakan warisan budaya yang mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat identitas daerah. Tak heran jika muncul ungkapan populer di tengah masyarakat, “Hana meugang, hana Ramadhan”, yang berarti Ramadhan terasa belum lengkap tanpa Meugang.

Setelah Meugang usai, masyarakat Aceh mulai mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menjalani ibadah puasa. Dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan, tradisi Meugang terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal Aceh yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar