Nagan Raya, Harian Reportase – Menanggapi isu penunjukan Samsuar atau Wan Malaya sebagai Plt Ketua DPW Partai Aceh Nagan Raya, tokoh senior eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah tersebut, Bang Zulmaidi atau yang akrab di sapa Bang Zul, ikut meluapkan kekecewaannya. Minggu, 2/08/2026.
Ia menilai kebijakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Aceh saat ini sama sekali tidak menghiraukan aspirasi arus bawah, khususnya keluarga besar eks kombatan dan Aneuk Syuhada.
Bang Zul menegaskan bahwa penolakan resmi yang disampaikan melalui surat pernyataan sikap oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) harus menjadi peringatan keras bagi DPP.
“Sudah cukup. Satu periode kepemimpinan Wan Malaya selama 5 tahun lalu berakhir dengan perolehan kursi yang terus terpuruk, dari 5 kursi turun menjadi hanya 3 kursi. Janji untuk mendirikan kantor partai permanen juga tidak kunjung terealisasi,” ungkap Bang Zul dengan nada tegas.
Marwah Perjuangan Diabaikan
Bang Zul juga mempertanyakan integritas kepemimpinan partai pasca-kemenangan H. Muzakir Manaf (Mualem) sebagai Gubernur dan Ketua DPRA. Menurutnya, setelah 15 tahun Partai Aceh dibesarkan berkat darah dan loyalitas pejuang GAM, suara mereka kini justru dikesampingkan.
” Di mana marwah dan harga diri GAM dan Aneuk Syuhada jika mereka yang telah berjuang mati-matian untuk membesarkan Partai Aceh pasca kemenangan Mualem, sekarang suaranya ditinggalkan? Partai Aceh sejatinya adalah partai ideologis dengan visi-misi perjuangan mulia, bukan wadah untuk mencari penghidupan atau memperkaya diri sendiri_ ,” ucapnya.
Empat Poin Krusial Penolakan
Mengacu pada Surat Pernyataan Sikap DPW JASA Nagan Raya yang ditujukan langsung kepada Ketua Umum DPA Partai Aceh, Bang Zul menyoroti empat poin krusial yang membuat Wan Malaya dinilai tidak layak kembali memimpin:
1. Kegagalan Elektoral: Di bawah
Kepemimpinannya sebelumnya, PA di Nagan Raya mengalami kemunduran signifikan. Perolehan kursi di DPRK merosot tajam dari 5 kursi—yang sebelumnya menduduki posisi Ketua DPRK—turun menjadi hanya 3 kursi. Ini dinilai sebagai bukti lemahnya manajemen struktural.
2. Bukan Eks Kombatan
KPA dan JASA menyoroti latar belakang Wan Malaya yang tidak merepresentasikan eks kombatan, padahal Partai Aceh lahir dari rahim perjuangan bersenjata.
3. Ingkar Janji Kantor Permanen
Selama lima tahun memimpin, janji mendirikan kantor partai permanen tidak terwujud. Sekretariat PA masih menempati rumah pribadi Wan Malaya dengan status sewa tahunan menggunakan anggaran partai.
4. Minim Transparansi Anggaran
Kepemimpinan Wan Malaya dinilai tidak transparan dalam pengelolaan dana partai, memicu krisis kepercayaan dari internal kader.
Peringatan Ambang Kehancuran 2031
Sebagai sesepuh perjuangan, Bang Zul memperingatkan DPP agar tidak mengambil kebijakan yang merugikan masa depan partai. Ia memprediksi jika aspirasi akar rumput terus diabaikan, Partai Aceh Nagan Raya akan hancur pada Pemilu 2031 mendatang.
“Sikap yang mengabaikan aspirasi akar rumput ini memicu ancaman serius. Jika terus dibiarkan, PA Nagan Raya diprediksi akan terpuruk dan hancur pada Pemilu 2031. Ini juga mengancam keberlanjutan PA sebagai organisasi penyambung ideologi perjuangan GAM ,” tegasnya.
Ia berharap jangan sampai terjadi pertumpahan darah akibat kebijakan yang salah. “Saya yakin jika DPP tidak mengoreksi kebijakan penunjukan PJ Ketua DPW PA Nagan Raya yang mengabaikan suara arus bawah, hal itu bakal memicu gelombang perlawanan dari mantan GAM dan Aneuk Syuhada demi menyelamatkan PA di Nagan Raya dari ambang kehancurannya,” tuturnya.
Apresiasi Militansi Aneuk Syuhada
Mengakhiri keterangannya, Bang Zul memberikan apresiasi tinggi atas sikap militansi Aneuk Syuhada dalam mengambil estafet kepemimpinan untuk melanjutkan perjuangan GAM. Ia melihat kekompakan, solidaritas, dan totalitas mereka sebagai benteng strategis.
” Sikap kekompakan dan militansi Aneuk Syuhada ini sebagai benteng paling strategis dalam terus mengawal untuk membesarkan PA dari oknum yang coba menghancurkan PA dari dalam,” tutup Bang Zul