Pentingya Kemampuan Memanfaatkan Waktu

Harian Reportase - Kamis, 11 Agustus 2022
Pentingya Kemampuan Memanfaatkan Waktu
  
Penulis
|
Editor

Banda Aceh, Harian Reportase — Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Prof Dr Fauzi Saleh, SAg, Lc, MA, mengatakan, bahwa dalam Alquran banyak surat diawali sumpah dengan waktu.

Isyarat ini menunjukkan pentingnya waktu dan kesuksesan ada dibalik kemampuan memanfaatkan waktu, misalnya dalam Quran surat al-Ashar, adh-Dhuha, al-Lail dan lainnya.

“Waktu merupakan rahasia ilahi sebagai nikmat Allah yang besar, agar manusia dapat memanfaatkannya,” kata Fauzi Saleh, dalam khutbah Jumat yang akan disampaikan di Masjid Nurul Jadid, Gampong Lampeuneuen, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, 12 Agustus 2022 bertepatan 14 Muharram 1444 Hijriah.

Alumni Dayah MUDI Mekar Al-Aziziyah, Bekasi, Jawa Barat ini menambahkan, bahwa dalam sebuah hadis, riwayat dari Abdullah bin ‘Abbas, Nabi saw bersabda, ada dua nikmat yang diabaikan yaitu kesehatan dan kesempatan.

Baca Juga:  Cegah Stunting, Ketua PKK Aceh Ajak Masyarakat Gemar Konsumsi Ikan

Kesehatan adalah nikmat Allah yang dengannya manusia dapat melakukan aktivitas lebih optimal. Oleh karena itu, kesehatan itu patut dijaga dan dimanfaatkan, baru terasa urgensitasnya ketika ia sudah tiada.

Menurut dia, waktu adalah kesempatan. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Artinya tidak ada waktu yang lewat dan sia-sia tanpa ada karya dan aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermohon bagi manusia yang lain”.

Baca Juga:  Pj Gubernur Aceh Lantik Lima Penjabat Bupati dan Wali Kota

Kesuksesan hidup ini dimaknai bila setiap detik berlalu, maka ia sedang berkerja dan beramal sebagai usaha terbaik. Itulah yang mengupgrade nilai dan kualitas hidupnya dibandingkan orang lain.

Allah Swt menyebutkan dalam surah al-Ashr, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh saling menasehati demi kebenaran dan saling menasehati demi kesabaran”.

Fauzi Saleh menguraikan, bahwa dalam ayat tersebut manusia disebutkan secara umum berada di dalam kerugian. Adapun orang-orang yang beruntung itu adalah orang yang mampu mengoptimalkan kesempatan hidup ini dengan nilai dan karya bermanfaat, baik secara individual yaitu beriman dan beramal saleh, maupun manfaat secara sosial yaitu saling nasihat menasihati.

Baca Juga:  Spirit Berqurban Dari Kisah Nabi Ibrahim AS

Karena itu, kata Guru Besar Bidang Ilmu Fiqih (Hukum Islam) ini, sebagai makhluk individual manusia lazimnya melakukan berbagai hal untuk mewujudkan kesalehan dengan ibadahnya dan hubungan vertikal kepada Allah Swt, sementara kesalehan sosial itu diwujudkan dengan saling berbagi antara satu dengan yang lain.

“Orang-orang yang menghadirkan kemampuan berbagi itu, maka dia sudah meningkatkan dan elevasi nilai-nilai pribadinya untuk menjadi manusia yang mulia dan bermanfaat,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Fauzi Saleh, aspek individual itu menekankan pada pentingnya kejernihan batin, rohani dan ketenangan jiwa. Kejernihan ini kemudian akan berdampak pada kemampuan memberikan kontribusi kepada kehidupan sosial. (smh/ferry/ridha/hr)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar