Oleh: Fatimah Chairil
HARIANREPORTASE.com — Setiap lembar sejarah manusia menyimpan kisah tentang keberanian dan keteguhan hati. Ada perjuangan yang sunyi namun penuh makna, ada suara yang tak selalu terdengar namun menggema hingga menembus batas-batas dunia. Dan pada tanggal 4 September 2025, dunia mengheningkan cipta untuk mengenang salah satu perjuangan itu: Hari Solidaritas Hijab Internasional.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ia lahir dari luka sejarah, dari kisah pilu seorang Muslimah yang syahid karena mempertahankan hijab dan martabatnya. Namun dari luka itu, tumbuh kesadaran yang melintasi batas agama, negara, dan budaya: bahwa hijab bukanlah belenggu, melainkan mahkota kebebasan, cahaya kehormatan, dan simbol keimanan.
Hijab: Lebih dari Sekadar Kain
Hijab bukan sekadar selembar kain yang menutupi kepala. Ia adalah pernyataan jati diri, komitmen spiritual, dan bentuk cinta seorang wanita kepada Tuhannya.
Di balik lipatan-lipatannya tersimpan kisah panjang tentang keberanian melawan stigma, tentang keteguhan hati di tengah tekanan sosial, bahkan tentang pengorbanan nyawa demi sebuah prinsip.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. An-Nur: 31)
Dan Rasulullah SAW menegaskan batasan kehormatan itu dalam sabdanya kepada Asma’ binti Abu Bakar:
“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita apabila telah baligh, tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini.” (HR. Abu Dawud)
Ketika Identitas Diuji, Solidaritas Menyatu
Hari Solidaritas Hijab Internasional menjadi momentum penting bagi dunia untuk melihat lebih dalam: bahwa hijab bukan penghalang kemajuan, bukan pula simbol penindasan. Ia justru menjadi simbol emansipasi sejati—di mana seorang wanita bebas memilih, bebas mengekspresikan keyakinannya, dan bebas berdiri tegak tanpa takut akan diskriminasi.
Bagi Muslimah yang diuji karena hijabnya—di sekolah, di tempat kerja, bahkan di jalanan umum—peringatan ini adalah pengingat: kamu tidak pernah sendiri.
Ada jutaan hati yang berdetak bersamamu, ada tangan-tangan yang siap merangkulmu, ada suara-suara yang bersatu membelamu.
Dari Luka Menjadi Cahaya
Apa yang dulu menjadi luka, kini menjadi cahaya perlawanan. Apa yang dulu menjadi alasan pengucilan, kini menjadi titik awal solidaritas global.
Di banyak negara, perjuangan Muslimah berhijab masih belum usai. Namun Hari Solidaritas Hijab Internasional membawa pesan bahwa kebenaran akan selalu menang atas diskriminasi, dan kehormatan lebih kuat daripada kebencian.
Hijab adalah bahasa cinta kepada Sang Pencipta. Ia adalah doa yang membungkus tubuh, perisai yang menjaga hati, dan jembatan menuju ketenangan jiwa.
Kita Ada Bersama
Hari ini, mari kita suarakan:
-
Untuk setiap Muslimah yang berdiri di garis depan perjuangan identitas—tegarlah.
-
Untuk setiap jiwa yang merasa terasing karena hijabnya—yakinlah, dunia bersamamu.
-
Untuk dunia yang tengah belajar memahami—bukalah hati, karena hijab bukan tentang perbedaan, tetapi tentang keberanian.
Mari kita isi peringatan ini dengan doa, dengan empati, dan dengan aksi nyata. Mari kita tegakkan kepala dengan bangga, karena hijab adalah mahkota kemuliaan yang Allah anugerahkan.
Hijab bukan hanya milik seorang wanita, tetapi milik sebuah perjuangan.
Perjuangan yang suci, mulia, dan tidak akan pernah padam.
Barakallahu fiikum.
Penulis adalah Anggota Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Aceh.






