Award Winners

Kematian Terindah Fatimah

Harian Reportase - Jumat, 25 Juli 2025
Kematian Terindah Fatimah
Nourman Hidayat bersama Alm Istrinya, Fatimah Yusuf Hanafiah. (Foto: Dokumen Istimewa).  
Penulis
|
Bagikan:

HARIANREPORTASE.com — Fatimah Yusuf Hanafiah, Nama itu akan terus hidup dalam ingatan Nourman. Seorang perempuan sederhana, pejuang kehidupan dan ibu dari anak-anak mereka. Ia wafat pada pagi hari, 25 Juli 2007.

Fatimah, Cinta Sejati yang Mengajarkan Arti Kesederhanaan

Di tengah perjalanan hidup, Allah mempertemukannya dengan Fatimah. Seorang perempuan sederhana, sabar, dan selalu menjaga kemuliaan.

Nourman memilih hidup sederhana bersama Fatimah, padahal saat itu ia adalah Ketua Fraksi PKS DPRK Aceh Besar sekaligus Owner perusahaan percetakan yang viral di masanya, yaitu Studio nun.

Namun, takdir berbicara lain. Fatimah jatuh sakit. Hari-hari yang dulu diisi tawa anak-anak dan diskusi malam, berganti menjadi rutinitas rumah sakit. Meski sakit menggerogoti tubuh dan memudarkan sebagian memorinya, Fatimah tetap bangun untuk tahajud. Duduk, bahkan berbaring, dengan rakaat yang kadang ia lupakan, tapi niatnya tak pernah pudar.

“Abi, Ummi langsung saja ke surga?” tanyanya, malam itu.

“Iya, Mi,” jawab Nourman, dengan keyakinan yang sama.

Sebuah SMS, Sebentuk Cinta

Satu jam sebelum Fatimah wafat, sebuah SMS sudah disiapkan Nourman. Ia tahu, saat itu akan datang. Tapi bukan kabar duka yang ingin ia sebar, melainkan kabar gembira. Pesan cinta.

“Subhanallah, Allah mempertemukan kami dalam keadaan baik, dan memisahkan kami dalam keadaan yang baik pula. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, istri saya, Fatimah Yusuf Hanafiah, pagi ini pukul 6 WIB. Mohon maaf atas segala kesalahannya. Nourman.”

Baca Juga:  43 Daerah Berpotensi Lawan Kotak Kosong di Pilkada 2024, Berikut Daftarnya

Teks itu, baginya, adalah bentuk penghormatan terakhir, sekaligus tanda syukur atas cinta yang begitu suci.

Dari Duka Menjadi Doa, Dari Perpisahan Menjadi Perjuangan Baru

Fatimah meninggal dengan senyuman terakhir yang manis. Ia tak pernah melepas jilbabnya meski dalam kondisi paling lemah. Ia menjaga harga dirinya hingga detik akhir. Di hari wafatnya, langit diatas RSUZA masih gelap, embun membasahi rerumputan, dan angin pagi menyampaikan kabar kepada langit.

“InsyaAllah Fatimah husnul khatimah,” tutupnya dalam doa yang tulus.

Lapan tahun kemudian, pada 25 Juli 2015, Nourman menuliskan catatan itu. Sebuah kesaksian cinta dan kepergian yang berharga. Kini, ia membangun kembali hidupnya bersama istri keduanya, Seri Amalia, perempuan pejuang yang dipilih sendiri oleh Fatimah sebelum wafat.

Seri amalia, perempuan yang menguatkan dirinya yang mengambil peran baru. Hingga kini mendidik anak anak bersama.

Warisan Cinta yang Tak Pernah Mati

Kisah hidup Nourman Hidayat bukan hanya tentang seorang suami yang kehilangan, tapi tentang bagaimana cinta sejati tidak berakhir di liang lahat. Ia menjelma menjadi kekuatan, menjadi narasi pengingat bahwa cinta yang berlandaskan iman akan selalu berbuah kebaikan — bahkan dalam perpisahan.

Fatimah tak lagi di dunia, tapi kisahnya tetap hidup, dalam senyum anak-anaknya, dalam perjuangan suaminya, dan dalam setiap jiwa yang tersentuh oleh cerita ini.

Baca Juga:  Tekan Lakalantas, Satlantas Polres Aceh Timur Pasang Water Barrier di Simpang Empat Peureulak

| Kematian Terindah Fatimah |

Sebuah teks sms sudah saya siapkan, satu jam sebelumnya.
Begini isinya :

“Subhanallah, Allah mempertemukan kami dalam keadaan baik, dan memisahkan kami dalam keadaan yang baik pula. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, istri saya, fatimah yusuf hanafiah, pagi ini pukul 6 wib. Mohon maaf atas segala kesalahannya. Nourman. ”

Saya ingat sekali detail teks ini. secara sadar saya ingin memberikan khabar gembira, bukan khabar duka yang memporak porandakan hati dan fikiran ikhwah semua. Teks ini adalah ungkapan sayang, kebahagiaan, dan juga kerinduan mendalam. Saya rangkum sejak pertama kali almarhumah jatuh sakit.

Wafatnya istri saya, fatimah, adalah kematian terindah baginya. Bagaimana tidak ? Sakratul maut yang dihadapinya diisi dengan mendengar bacaan tilawah dan dialog optimis yang biasa dilakukan para perindu surga.

Dengarkan bisikan fatimah waktu itu :

“Abi, lihatlah di atas sana., indah sekali !” Katanya sambil menunjukkan ke sudut langit-langit ICCU .
Dia melanjutkan, menyebut satu persatu nama kami,

“…. Abi.., ummi.., hamzah.., khalid .. umar.. ,
Kita sedang menaiki sebuah mobil. Di sana ada suara ‘laailaahaillallah..’.”

“Mau kemana kita, mi ?” Tanya ku..
Fatimah pun menjawab cepat : ” ke surga lah.. “. Jawabnya.
Optimis sekali.
Ini adalah malam ketiga dirinya di rawat intensif di Iccu RSUZA.

Di sela nafasnya yang tersengal-sengal, fatimah kembali meminta kepastian kepada saya,
“Abi, ummi langsung saja ke surga??”.

Baca Juga:  Ternyata Gugatan soal Usia Capres-cawapres Tak Ditandatangani Almas Tsaqibbirru

Saya pun menjawab pasti, “iya, mi.” Kami berbinar.

Sungguh saya tak ragu. Fatimah sangat dekat dengan Tuhannya. Dia rutin tahajud sambil duduk atau berbaring meski lupa jumlah rakaatnya. Penyakit yang diderita membuat sebagian memorinya tak lagi sempurna.

yang terbaring lemah dihadapan saya adalah seorang perempuan pejuang, ibu dari anak-anak saya yang sedang menjemput kematian terindahnya.

Tubuhnya ringkih. Jilbabnya masih terjaga dan tertutup rapi. Dia tak melepasnya demi kemuliaan dan kesucian.

Peralatan medis masih melekat di jari-jarinya. Selang makanan masih di mulutnya. Ruangan itu begitu dingin, hangat dengan lantunan ayat-ayat alquran mengalun pelan di telinganya. Fatimah masih melirik ke arah saya.
Sisa waktu kebersamaan kami pun tak lama lagi.

Mengejar kesempatan, saya memintanya tersenyum terakhir kalinya. Fatimah pun tersenyum, manis sekali.

Di luar masih gelap dan sepi. Angin berhembus pelan. Lembut menerpa rerumputan yang basah oleh embun malam tadi.

Alhamdulillah, 25 juli 2007, Fatimah telah kembali ke haribaan Allah dengan sebaik-baiknya. Mewasiatkan untuk merawat anak-anak kami, dan memilih sendiri pengganti dirinya, seorang perempuan pejuang yang saat ini mendampingi hidup saya. Namanya seri amalia.

InsyaAllah fatimah husnul khatimah.
Semoga segala kebaikan dunia akhirat dilimpah kan Allah kepada dirinya, keluarganya, anak-anaknya, dan sahabat seperjuangannya.. insyaallah.
Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan almarhumah.

Seulimum, 25 juli 2015.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar